SEJARAH PENGETAHUAN








Saya akan menduga—boleh kan menduga? Memangnya siapa yang melarang siapa orang itu menduga; karena sejauh kita ketahui tentang hukum; sesuautu yang belum diputuskan hukum, belum nyatakan benar dan salah, maka ini adalah dugaan; begitu— tentang sejarah pengetahuan.

Taufik berkata:

Sekarang, kita tidak mengetahui, kapan kita akan membatasi masalah pada sebuah kata simpul, ‘pengetahuan’. Maka pertanyaannya: sejak kapan pengetahuan itu ada? iyakah sejak ada di zaman azali? Atau di zaman sebelum yunani itu, sebelum masehi-an, atau pada kerajaan-kerajaan cina atau pada zaman fir’aun; atau bahkan pada zaman sebelum fi’raun (firaun itu zamannya nabi musa) atau pada zamannya sebelum itu, jauh-jauh sebelum itu; zamannya Nabi Ibrahim? Atau menarik ke belakang lagi, zamannya sebelum zamannya nabi Ibrahim? Atau pada zaman yang tidak tertulis, zaman dimana orang-orang tidak mengenal tentang tanda-baca; tidak meninggalkan jejak-jejak kehidupan? Atau adakah manusia yang tidak menanggalkan jejak-jejak kehidupan?

Karena yang kita bicarakan ini adalah sesuatu yang terkesan sederhana dan biasa, namun tidak bisa; yakni pengetahuan. Yang itu dari kata, tahu. Apa itu tahu? Seringkas kata, aku mengetahui. Yang kemudian, aku tularkan pengetahuan itu.

Maka sejauh kajianku itu, pengetahuan itu dibagi menjadi dua sisi, yakni antara agama dan filsafat; agama pada sisi rohani dan filsafat pada sisi materi. Kedua itu melekat menjadi satu. Yang lebih ternyatakan pada masa abad pertengahan, yakni diabad orang-orang romawi mulai menggandeng agama nasrani, atau Kristen dengan politiknya. yang itu pun sudah pada abad pertengahan, yakni tentu abad 500 masehi, atau setelahnya. Sementara, kehidupan yang terdeteksi tentang filsafat, secara ringkas dan jelas adalah pada zaman sebelum masehi di Yunani. Dan pengetahuan itu, didapat dari buku-buku kuno, bahwa umumnya, apa-pun pengetahuan:

Entah itu matematika, ipa, sosial, sastra, sosial, dan lain-lain, seringkali menggunakan diksi dari yunani.

Maka, sesungguhnya bagaimana sejarah pengetahuan itu:

Jawabanku kali ini, sejarah pengetahuan itu panjang, sepanjang deretan sejarah keberadaan manusia; karena pengetahuan yang kita ukur pun pengetahuan yang melekat di dalam diri manusia, yang itu usia manusia dalam sejarah ‘kehidupan’ manusia telah berdurasi panjang dan jauh, maka sejauh itulah asal-usul pengetahuan.

Kita, seorang pengkaji, seorang yang menuliskan bekas-bekas sejarah, adalah pelaku yang lain terhadap kehidupan yang bakal menjadi sejarah; itu pun kalau ada yang membicarakan. Kepenulisan sejarah pengetahuan, adalah upaya untuk memetakan bahwa pengetahuan itu sebenarnya dekat sekali dengan diri kita, karena kita pun adalah pelaku pengetahuan.

Kita adalah pelaku pengetahuan, yang itu, tentu, turunan dari perkembangan zaman-zaman pengetahuan; sumber-sumber pengetahuan pun, pastilah tidak jauh berbeda dengan zaman-zaman dahulu.

Ada manusia yang sarat dengan tipikal akalnya.

Ada manusia yang sarat dengan tipikal penerimaan hidupnya.

Ada manusia yang sarat dengan tipikal hatinya.

Ada manusia dengan sikap menerima hidup, ala kadarnya, tanpa memikirkan bekas-bekas sejarah; ada manusia dengan sikap hidup, yang protes terhadap kehidupannya, sehingga dirinya menuntut untuk adanya perubahan. Yakni perubahaan keadaan, maka dibentuklah:

tentang rumah, dibuatlah tentang tempat-tempat ibadah, tempat-tempat kumpul-kumpul untuk pembicaraan, terjadilah pembicaraan demi pembicaraan;

dan bekas-bekas itu: ada manusia yang menuliskan, ada manusia yang tidak menuliskan. Ada yang merenungkan, ada yang tidak merenungkan. Begitulah proses kehidupan.

Hingga kemudian, yang menuliskan itu; menjadi bahan-bahan kelanjutan buat orang-orang yang berdaya diri mencari sejarahnya secara akalnya. Ada pula yang merenung dan itu tidak mencari-cari lewat sejarah tekstual, namun dirinya mendapatkan bias-bias dari tekstual, sehingga pada kemudian hari, ia diberi isyarat tentang kebenaran pengetahuan tersebut; isyarat itu bisa secara mimpi, atau sesuatu yang gaib menyertai dirinya.

Namun, seringkali ukuran pengetahuan, di zaman sekarang ini, ukuran pengetahuan adalah pengetahuan praktis, untuk ukuran materi. Inilah zaman yang mengedepankan akal, efek dari zaman modern; orang-orang berdaya diri mendayakan rasio. Inilah zaman sekarang, namun tetap saja, ada yang lain: yakni pengetahuan mistik, pengetahuan yang rahasia, pengetahuan yang itu tidak bisa di jangkau dari rasio: itu masih ada. yang dengan itu, dialah yang akan mempertanyakan balik tentang kemajuan zaman rasio, atau bisa jadi, ia tidak akan mempertanyakan tentang zaman rasio. Malah, di barat, filsuf eropa, ada yang mempertanyakan tentang kekuatan rasio itu; seringkali orang-orang filsafat mengatakan, dialah zaman postmodern.

Dan sekarang, pengetahuan di zaman era internet, pengetahuan telah terbuka dan nganga, tinggal orang mau mencari atau tidak; karena sekarang, kebutuhan manusia, bukan seringkas seperti zaman primitive tentang kehidupan, sebab zaman sekarang, hiburan, menjadi kebutuhan yang itu adalah kebutuhan pokok umat manusia di zaman yang semakin merajut-rajut tentang pengetahuan.

Efeknya: orang enggan menelusuri tentang pengetahuan. Orang-orang menikmati hasil-akhir dari pengetahuan. Atau orang-orang semakin dlusup pada pengetahuan, atau orang-orang semakin sibuk dengan ‘dunia-pengetahuan’: begitulah pengetahuan, begitulah kenyataannya; begitulah keadaannya. Demikian.

Belum ada Komentar untuk " SEJARAH PENGETAHUAN "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel