Kerja, antara materi dan ruhani



Kerja: Apakah kau lalai apa tujuan dari kerja! dan aku, mengajarimu, untuk mengerti makna-makna dari setiap kata—yang sudah seharusnya engkau mengerti itu, engkau orang akademi (kalau di masa Yunani, di era Plato: maka, orang akademi adalah orang yang kental berpikir, bahkan memikirkan tentang istilah) yang seharusnya terbiasa memikirkan satuan kata: apa makna dari satuan kata, mengapa kata itu digunakan, mengapa kata itu yang harus digunakan; dan harusnya engkau tidak sekedar mengerti, melainkan engkau harus paham. Lebih-lebih, engkau telah mampu mengenali huruf capital; engkau mampu membuka kamus bahasa; kerja adalah n kegiatan melakukan sesuatu; yang dilakukan (diperbuat): -- nya makan dan minum saja; 2 n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian: selama lima tahun -- nya berdagang; -- dan bahkan mengajarimu, untuk paham terhadap satuan kata.

kerja: apakah kau lalai tujuan dari kerja? yakni untuk mempertahankan kehidupan, mempertahankan pola-pola kehidupan kehidupanmu; tentang kebutuhanmu. Apakah engkau mengerti kebutuhanmu?

Ingatlah, kebutuhan manusia itu ada dua, yakni materi dan immateri; atau materi atau ruhani. Materi tentang sesuatu yang itu ada, dan ruhani adalah tentang sesuatu yang itu tidak ada melainkan ada.

Apa bentuk dari ruhani? Yakni pikiranmu, yakni tentang hatimu, tentang sesuatu yang ada di dalammu. Apakah engkau akan mengatakan tentang ide-idemu? Itulah, itulah tujuan dari kerja.

Setelah engkau mengerti akan hal itu, sekarang, tujuan orang bekerja untuk ‘mendamaikan’ keduanya.

Jika materimu telah tercukupkan, maka engkau tidak perlu bekerja.

Tinggal nyantai, tidur-tidur pun boleh. Untuk apa engkau bekerja? Karena engkau telah tercukupkan.

Jika engkau bertanya, “Cukup ukurannya apa?”

Jawabku, “Engkau tahu cukup seperti apa yang kamu mau.”

Jika mateirmu telah cukup, maka engkau tidak perlu bekerja. Bekerja jika materimu merasa tidak cukup. Begitu ya.

Sudah! Jangan mengeluh-mengeluh tentang materi. Aku bosan mendengar eluhanmu, apalagi tentang materi. Karena jika engkau mengeluh tentang materi, berarti materimu tidak cukup. Cara mencukupkannya, maka engkau penting bekerja. Begitu.

Namun, disini, mari kita urai tentang eluhan. Mengapa engkau mengeluh? Apa yang menjadikanmu mengeluh? Karena materimu kurang, yakni kecukupan untuk hal-hal materi, maka jawabku: engkau harus bekerja. Seringkas itu. dan setelah itu, jangan banyak mengeluh:

Capek, itu wajar.

Lelah, itu wajar.

Sesungguhnya, eluhanmu itu, bukan tentang materi, melainkan ruhani, yakni sesuatu yang itu ada di dalam dirimu; itulah kekuranganmu. Oleh karenanya, engkau harus bekerja untuk rohanimu; caranya, kerjalah yang itu ruhanimu? Caranya, bekerja kepada yang tenang rohaninya. Tanyalah kepada orang yang ahli tentang ruhani. Ahli pemikiran. Ahli pikiran.

Katamu, “Mengapa pemikiranku seperti ini?”

Jawabku, “Karena pemikiranmu belum menerima tentang sesuatu yang harusnya engkau terima.”

Katamu, “Bagaimana aku menerima pemikiranku yang harusnya diterima?”

Jawabku, “Tinggal diterima.”

Taufik, begini: aku menasihatmu—boleh kan aku menasihatmu--:

Jika kekuranganmu adalah tentang uang, maka engkau harus mencari uang, caranya kerja. apa pun itu yang penting mendapatkan uang, dan tetap kerja yang itu baik. Ukuran baik? Halal. Tujuan mendapatkan uang, yakni, menutupi kekuranganmu, karena kekuranganmu itu tentang uang. tujuannya dengan ‘punya’ uang itu untuk mencukupi kebutuhan materimu, yakni tubuhmu: entah itu bajumu, rumahmu, atau tentang perabotan-perabotan rumahmu, atau tentang acara-acara sosial. Dan selanjurnya, engkau harus bersyukur dengan pendapatanmu itu; seberapa pun itu, engkau harus syukuri. Ingat, syukur atau pujian itu dikembalikan kepada Allah—saya berkata begini, karena kita mempunyai Tuhan, Taufik. Inilah prinsip kita: kita mempunyai Tuhan--

Aku anggap, engkau telah cukup terhadap ruhanimu, Taufik. Maksudku, jangan ribet-ribetkan tentang agama, Taufik. Jangan dibuat payah tentang agama, Taufik. Jalanilah keberagamaanmu itu dengan mudah dan ikhlas. Pasrahkan kepada Gusti Pangeran. Sekarang, engkau penting bekerja, bersamaan dengan itu, pasrahkan hidupmu kepada Gusti Pangeran. Hidupmu itu, materimu, Taufik, pasrahkan kepada Gusti Pangeran. Jangan kau kejar muluk-muluk tentang materi, Taufik, yang pasti cukup. Dengan itu, maka engkau akan damai; damai itu tidak harus kaya yang berlimpah-limpah, tidak harus ke sana ke mari. Damai itu simpel, yakni penerimaaanmu secara total terhadap realitas yang telah terjadi. Maka setiap saat, engkau harus menerima, Taufik. Kataku, jangan ribetkan tentang agama: jangan payah-payahkan tentang agama.

Yang pasti sekarang engkau bekerja, niatkan bekerjamu karena-Nya: sedikit banyak dipasrahkan pada-Nya. Jangan banyak mengeluh, malu dengan ‘pengetahuanmu’ tentang-Nya. Akhir kata, ingatlah rizki itu telah ditentukan oleh-Nya. Ingat itu ya…

2017

Belum ada Komentar untuk " Kerja, antara materi dan ruhani "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel