Fenomena Politik di Indonesia

Fenomena Politik di Indonesia hari ini adalah setiap individu seakan2 berkepentingan dengan politik.

(Sebenarnya memang setiap individu berkepentingan. Hal itu semakin terjadi, saat diputuskan menjadi pemilihan langsung. Maka setiap individu yang mempunyai umur yang telah ditetapkan mampu memilih pilihannya.)

Berkepentingan yang sangat dan seakan perlu membela calon yang hendak dipilihnya. Sekali pun kedudukannya, tidak ada pada jaring politik, seakan turut serta (terlibat) pada politik.

Hal itu juga dimaklumi buat manusia indonesia kekinian yang merasa 'kagetan' dan terkejut oleh sesuatu hal. Sering2 hal tersebut menjadi viral. Sedikit2 menjadi viral.

Viral yang itu bertanda pro dan kontra. Meski pun pro, ya meski pun kontra. Keduanya sama2 meramaikan akan suatu hal tersebut. Begitu juga dengan arus politik.

Peran Politik di Indonesia, di Era Kepentingan Uang

Sesungguhnya apa peran politik di indonesia di era kekinian ini. Era dimana struktur kenegaraan telah ada bagian2nya dan juga tugas, peran, serta tanggung jawabnya? Apa peran utama politik di era tersebut?

Orang2 yang berkoar2 tentang politik, biasanya ada pada kepentingan politik itu sendiri. Seperti mendapatkan uang, mendapatkan jabatan (kedudukan). Selain itu, mereka bicara ke sana kemari dan diongkosi (dibayar) artinya mendapatkan sesuatu dari politik.

Mending kalau mereka mendapatkan uang, yang tidak mendapatkan uang, obrolannya laksana obrolan 'kekosongan' dan ikut serta meramaikan politik.

Bisa jadi pikirannya, "saya mendukung karena si A. Saya membicarakan politik karena saya warga negara dan saya cinta negara. Saya meramaikan politik karena ini musimnya politik. Pesta demokrosi, Cuy."

Kataku, "Pesta demokrasi. Pesta politik. Kau cinta negara. Kau cinta si A. Hmmm... kau memang seperti negarawan. Tapi, apa yang kau lakukan saat pesta telah selesai? Pikirkanlah."

Nah inilah yang perlu saya kabarkan: apa yang kau lakukan, laksanakan, saat 'pesta' itu selesai. Kau kembali pada pekerjaanmu, kau kembali pada hal2 yang biasa. Dan kau lalai mengamati hal2 politik. Kau lalai untuk mengawasi hal2 politik. Kau lalai untuk memikirkan tentang negara.

Sementara orang2 yang menang, dan tim2nya, sedang bekerja, bekerja yang dapat bayaran dan mungkin 'agak lalai' untuk memikirkanmu. Katanya, "Negara itu luas. Negara itu ada aturan mainnya. Negara itu punya struktur."

Dan tim2 yang kalah itu, bisa jadi, bersiap2 untuk masa pemilihan di era selanjutnya. Atau bahkan, berupaya untuk mengawasi kekurangan dari tim-yang-menang dan bisa jadi, mencari cacat2nya dari tim yang menang.

Selain itu, mereka juga mempunyai pekerjaan dan tetap bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Kepentingan utama hidup memanglah bekerja, yang dari itu, manusia mampu mempertahankan dirinya di dunia.

Begitu juga dengan dirimu, alangkah baiknya lebih konsentrasi (syukur kalau bisa) pada pekerjaanmu dan jika saat pada pemilihan, tinggal pilih menurut ukuran nuranimu. Memilih yang itu, biasa saja saat memilih.

Janga begitu berharap dengan orang yang kau pilih, khawatirnya kamu kecewa.
Jangan terlalu berlebihan mencintai, nanti kau akan luka kalau ia gagal mencintaimu.

Biasa sajalah kalau memilih. Karena orang yang kita pilih bukanlah manusia yang sempurna. Manusia yang kita pilih, andai ia telah menjadi, nantinya ia berada pada struktural. Apa2 yang dilakukanpun tidak bisa semau dia, harus lewat aturan. Aturan ini namanya struktural atau sistematis organisasi.

Kau pikir, negara itu bukanlah organisasi. Organisasi, Cuy. Hanya saja itu organisasi yang besar. Yang besar lagi adalah organisasi bangsa-bangsa. Yang besar lagi, organisasi manusia di dunia.

Fenomena Politik, Sudahkah kau politikkan dirimu

Politik itu organisasi. Dan kau juga punya organisasi. Sudahkah kau evaluasi negaramu sendiri (tepatnya dirimu sendiri, yakni jasadmu dan bila perlu hatimu)? Sudahkah kau temukan titik-vital politikmu? Kau gunakan metode apa untuk keperpolitikan dirimu sendiri? Atau jangan2 kau mulai asing dengan diksi politik.

Andai kau asing pada diksi politik, bagaimana kau mampu menjadi duta untuk politik yang sekelas Negara? Apa kau pikir di dalam RT Tidak menggunakan siasat? RW tidak ada politik dan bahkan sekelas desa tidak ada politik. Terlebih lagi, dirimukah tidak berpolitik.

Saranku, alangkah baiknya kau dapati 'wacana' politik, setelah itu barulah kau berujar, mempertahankan, ngobrol tentang politik.

'Apakah berarti aku mencegah orang untuk meramaikan berita poltik?" Jika ada yang bertanya.

"Aku tidak mencegah, namun sebelum lebih jauh tentang politik, alangkah baiknya kau mengetahui tentangnya. Artinya, bukan hanya menjadi pelengkap untuk 'obrolan' politik."

2019

Belum ada Komentar untuk "Fenomena Politik di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel