Pola Kehidupan

Aku telah paham tentang kehidupan. Bahwa hidup memang harus begini:

Setiap individu butuh bekerja yang tujuannya mempertahankan keindividuannya. Sebelum itu, si individu itu terikat oleh keadaan sosialnya, lebih khusus kepada keluarganya lalu kepada lingkungan keluarga tinggal.

Si individu bertemu dengan individu2 yang lain dan mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungannya.

Saya berada di lingkungan yang banyak saudara dan banyak dulur. Saat kecil, kalau sore saya mengaji dan dilanjutkan malam mengaji, tepatnya habis magrib. Setelah mengaji saya menonton televisi atau kemudian tidur.

Ketika matahari menyala. Saya bangun tidur dan siap2 pergi ke sekolah. Menyalin tulisan yang ada di papan tulis dan menjalani tradisi sekolah. Sebelum berangkat, mandi, makan lalu pergi sekolah. Di dalam pikiranku tidak ada target yang pasti tentang sekolah.

Tidak ada target yang jelas untuk sekolah kecuali sekedar berangkat dan besok berangkat lagi. Memang saya mempunyai mata pelajar yang tertempel di dinding seperti MTK, IPS, IPA, Geografi, Bahasa Inggris, Komputer dan lain sebagainya. Namun fungsi pelajaran tersebut laksana peluang waktu untuk menjalani hidup. Peluang waktu mengulur usia.

Hidup Mengalir... Mengalir Saja

Hidup itu mengalir dan mengalir saja. Pada saat yang sama saya mendapatkan petunjuk demi petunjuk, perintah demi perintah dan larangan demi larangan; yang melarang bisa jadi pihak keluarga, teman, karib, kerabat. Namun sesungguhnya, bagiku sendiri persis tidak mempunyai tujuan hidup yang pasti dan harus dijalani.

Pada seting pemikiranku, kala itu, laksana tidak mengetahui target2 yang ditargetkan. Hidup persis mengalir dan mengalir. Mengikuti arus hidup dan biasa saja menjalani hidup. Hingg suatu saat saya ditanyakan tentang tujuan hidup.

"Apa sesungguhnya tujuanmu hidup?"

Kalimat itu begitu membekas bagiku. Karena memang tidak mempunyai tujuan yang pasti kecuali menjalani saja perihal pola hidup. Tidak terpikir bahwa tujuannya menjadi orang kaya maka harus rajin bekerja. Harus menjadi pandai, maka rajin belajar. Harus menjadi ini, itu. Berulang2 saya berada dalam fase tersebut. Berulang2 saya kesulitan keluar dari zona tersebut, hingga akhirnya saya malah sibuk berkutat pada upaya mencari tentang tujuan hidup.

Sekurang2nya, sekaranng saya agak mengerti bahwa hidup ialah:

Tentang kepentingan individual dan itu menjalin dengan individu yang lain dan itu adalah lumrah. Duka adalah wajar. Suka pun adalah kewajaran. Hidup memang begitu sejak dari dulu.

Hidup bukan hanya urusan teks dan sejarah, melainkan tentang pertautan antara teks, sejarah dan kekinian.
Hidup bukan hanya urusan tentang kehidupan yang ada di dalam pikiran, melainkan ada fakta-realitas yang harus dijalani dan konsekuensi utama keberadaan rasa di dalam diri manusia.

Hidup Tidaklah Sesimpel Kata-kata (teori)

Bahwa hidup tidak sesimpel kata2, sebab hidup berurusan juga dengan fakta dan jalinan sosial. Bersamaan dengan itu, ada tatanan, ada aturan dan ada pemikiran di dalam individu2 tersebut. Terlebih lagi, bahwa manusia disertai oleh hawa nafsu atau hasrat.

Mulai hasrat berkuasa dan ujung2nya hasrat mengusai. Bahkan hasrat menguasai tentang pemikiran manusia, yang ujung2nya hasrat menjadi Tuhan.

Hasrat menjadi 'Tuhan', diilustrasikan begini:

Bahwa manusia itu hendak menjadi seperti layaknya Tuhan yang bisa ini-itu. Terwujud apa yang diinginkan. Berkuasa dan menjadi manusia sempurna atas apa yang ingin dilakukannnya.

Hal itu wajar bagi manusia karena manusia memang mahluk yang diunggulkan, alasannya karena keberadaan akalnya itu. Namun secara praktis, hidup memang upaya untuk bertahan hidup itu sendiri.

Yang didalam 'kehidupan' terdapat (telah terada) kekomplekan hidup itu sendiri.

Dan tulisan ini, dialamatkan buat 'pemikiran' (khususnya pemikiranku), untuk lebih memahami kehidupan.

2019

Belum ada Komentar untuk "Pola Kehidupan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel