Keadaan Pendidikan di Wargomulyo

Sekarang, bagaimana pendidikan di Wargomulyo?

Untuk menjawab itu tidak mudah, sebab zaman ini telah menjadi zaman pertautan dengan desa-desa lain. Artinya orang wargomulyo mencari pengetahuan yang itu berada di desa lain, bahkan di kabupaten lain. Itulah faktanya.

Orang mencari pendidikan di desa lain karena mempunyai kendaraan dan ada kendaraan.

Itulah sebabnya.

Dan kendaraan itu ada, karena perkembangan zaman, khususnya status Indonesia telah menjadi sebuah Negara yang itu mulai menjalankan proses modernisasi. Tanda utama modernisasi adalah hadirnya alat-alat permesinan, itulah sebabnya.

Dengan keberadaan alat-alat permesinan, maka kehidupan kemanusiaan pun telah berbaur dengan kepermesinan. Itulah faktanya. Itulah keadaannya.

Zaman sekarang, di Desa Wargomulyo telah marak permesinan dan itu memang gelombang zaman yang memang harus terjadi dan itu pun terjadi. sekali pun begitu, pendidikan pun masih gencar dilaksanakan.

Maka secara umum, pendidikan yang ada di desa wargomulyo ada dua. Yakni pendidikan formal dan non-formal, itulah kenyataannya. Pendidikan formal adalah pendidikan sejenis sekolahan, dan yang non-formal adalah pendidikan keislaman, pengajian.

Sebagaimana ditelusuri sejarahnya, di desa wargomulyo berulang kali diselengarakan Kataman Quran. Yakni suatu proses penyelesaian membaca al-quran yang digurukan secara perlahan-lahan, larik demi larik, dan ayat demi ayat. Itulah tradisi khataman.


Keadaan Pendidikan di Wargomulyo

Tradisi khataman itu umum terjadi di Jawa, yang kemudian hari, sekarang, tradisi khataman ini diarahkan pada hapalan kitab (jurumiah, imriti dan alifah) atau bahkan hapalan al-quran (Juz amma, binadhor, atau bahkan hapal 30 juz).  Yang kemudian, tradisi ini (kebiasaan ini) mengakibatkan arus islam atau laku islam yang ada di daerahnya, sebabnya sebelum terjadi khataman si santri bakal sibuk dengan sesuatu yang hapal.

Begitu juga yang terjadi di Wargomulyo, tradisi khataman itu menciptkan alur untuk santri bersibuk mempersiapkan diri menuju khataman. Syaratnya, harus mengaji terus menerus untuk menyelesaikan al-quran, hingga akhirnya, ketika selesai maka terjadilah proses khataman. Dan proses khataman itu melibatkan orang-tua murid, sehingga terjadi lingkungan yang menyemarakkan untuk khataman. Begitulah kondisi sosial masyarakat.

Sekolahan adalah sesuatu yang lain, adalah lembaga yang jarang sekali apresiasinya; memang ada apresiasianya, namun tidak menyentuh akan kerakyataan, akan kemasyarakatan. Bila pun di sekolah adan apresiasi masyarakat, itu sangat minim. Minim sekali. Terlebih lagi, lingkungan kita, ya lingkungan kita; mendukung aktifitas lingkungan-muslim, yakni lingkungan yang pergerakannya bernilai keislaman. Seperti ketika ada bayi lahir, syukuran, yasinan, khutbah, shalat jamaah, pengajian demi pengajian, dan bahkan doa untuk orang meninggal. Artinya, ada kebiasaan yang itu berukuran keagamaan, yakni keislaman.

Sementara sekolah. Sekolah itu tradisi orang eropa, yang berkembang sejak abad pertengahan: di zaman pertengahan di Romawi (gayanya sampai romawi, dan itu yang ada dibuku-buku) mulai adanya sekolahan yang berlandaskan keagamaan. Artinya disitu pengaruh Nabi Isa as, menyebarkan agama Nasrani semakin terealisasikan. Maka sekolahan buat orang eropa itu dilaksanakan. Karena pada saat itu, sekolahan yang dikuasi keagamaan itu begitu mendominasi, akhirnya manusia laksana ‘terkurung’ kemanusiaannya. Di situlah orang eropa disebut abad kegelapan (Maksudnya abad kegelapan terhadap ilmu pengetahuan).

Di saat eropa mengalami abad kegelapan ilmu pengetahuan, lalu agama islam sampai ke eropa. agama islam atau kekuasaan islam itu menyentuh tanah eropa, dan agama islam sangat menghormati ilmu pengetahuan. Setelah berproses lama; orang-orang islam mulai menerjemahkan teks-teks filsafat dari Yunani. Sejak saat itulah orang eropa mulai bangkit kembali (Artinya bangkit adalah bangkit yang itu sesuai dengan kebudayaan kemanusiaan: dan tujuan saya menuliskan ini agar kita bangkit dari kebudayaan yang itu khas pada diri kita, sebagaimana orang eropa yang bangkit itu) dengan pengetahuannya. Di saat itulah, paham rasionalisme itu (yang berlandaskan pada rasio, pada akal, pada logika) berkembang, maka jadilah sesuatu yang bersifat logika.

Logika, ringkasnya, adalah sesuatu yang masuk akal. Masuk di akal.

Dengan logika, maka dijadikalah kelas-kelas, atau sekolah, di saat itulah orang-orang sibuk dengan pengetahuan, dan melihat ada  sesuatu di Nusantara. Maka orang eropa mulai petualangan di Nusantara. Lama-lama membentuk sekolahan. System sekolahan yang berlaku sampai sekarang.

System sekolahan yang juga diadopsi juga dilakukan oleh kita sekalian. Itulah tipikal sekolah. Sekolahan yang kini ada di wargomulyo, itu pun hasil dari proses keberadaan bangsa eropa di Nusantara.

Padahal, keadaan kita, status pemikiran kita, masih bertautan dengan keagamaan; itulah sebabnya issue pendidikan nasional selalu menekankan tentang ketuhanan yang maha esa dan berkaklak karima (akhlak yang mulia) sebabnya manusia kita adalah manusia religus.

Sayangnya, di zaman gegap gempita teknologi atau permesinan, kita seringkali mengabaikan tentang ‘pentingnya’ pengetahuan. Memang kita menjalani tradisi keilmuan, dan melihat efek-efek dari pengetahuan: menurut saya, kita, kurang ‘lebih kencang’ terhadap pengetahuan. Siapa itu kita? Yakni seluruhnya, seluruh manusia yang masih hidup: dituntut untuk tetap menjalankan tradisi pengetahuan. Tujuannya, untuk mendapatkan kesejahteraan dunia dan juga kesejahteraan akhirat.

Sebenarnya banyak orang tua yang mengenal, ‘belajar itu sampai mati’, sayangnya mereka tidak bergegap-gempita sungguh-sungguh untuk belajar yang bersesungguhan untuk belajar, yang bertujuan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia dan juga akhirat.

Artinya lagi, saya di sini meminta bantuan agar masyarakat yang ada turut serta dalam pendidikan. Kalau tidak begitu, maka anak-anaknya tidak akan bersemangat terhadap pendidikan; karena saya masih percaya, anak itu mengikuti orang tuanya. Bahkan saya masih percaya bahwa anak itu masih mengikuti pola orang yang lebih tua.

Artinya lagi, jika anak-anak sekarang itu kurang ‘giat’ atau bergegap gempita terhadap pengetahuan, itu disebabkan oleh orang tua yang kurang juga mencintai pengetahuan. Demikian.

Belum ada Komentar untuk "Keadaan Pendidikan di Wargomulyo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel