Taufik Hidayat (Autobiografi) 2

“Siapa Dia?”

Dia itu orang pemalas, tidak bekerja, Hidupnya senantiasa mengantungkan diri kepada orang tuanya. Kuliahnya tidak-jelas, teman-temannya sudah lulus tapi dia tidak lulus. Suka menulis, tapi menulis yang tidak jelas. Katanya menulis mampu menghasilkan uang, tapi nyatanya, sampai sekarang tidak pernah menghasilkan uang. Usianya sudah tua, tapi tidak merasa tua, tidak merasa bahwasanya sudah semestinya dirinya mampu untuk menjadi sandaran. Teman-teman yang lain sudah pada menikah, dan dia belum menikah.

Dia tidak pernah mentas dan tidak pernah dapat bayaran dari pementasan. Sukanya ndopok. Wira-wiri ke sana kemari, tidak jelas. Pengangguran. Kerjaannya tidur, kalau malam dijadikan siang kalau siang dijadikan malam. Dia itu mengopi di kamar. Minum kopinya di kamar, gelasnya menumpuk-tumpuk di kamar. Kebiasannya begadangan, malam-malam. Menulis yang tidak jelas. Menulis yang tidak dapat hasil, diterus-teruskan juga.


Kehidupan Taufik Hidayat (Autobiografi) 2

Kalau siang adanya molor. Melihatnya bikin senep. Tidak membantu sama sekali. Tidak ngerewangi babar-blas. Tidak kasihan kepada orang-tuanya, orang-tuanya harus repot-repot memikirkan dirinya. Memikirkan biaya kuliahnya. Kuliah memang tahunan, tapi harian tetap saja berjalan.

Enak sekali hidupnya, udud-udud, ndopok sana ke sini, sekedar ngibadah ke mejid, jugaan ngopi yang tidak berhenti-henti. Ngopi yang terus-terusan. Sehari bisa 5 sampai 6 kali. Dia pikir gulanya tidak membeli, dia pikir kopinya tidak membeli. Membeli pakai uang. semuanya itu memakai uang.

Mondok sudah tujuh tahun, masih juga, kosong. Nol. Kuliah terus-menerus, kapan selesainya? Sampai tua. Apakah dia tidak memikirkan hidupnya? Apakah dia tidak memikirkan masa depannya? Apalagi nulis terus. Yo.. kerjanane nulis terus. Tidak bosan-bosan. Dasar pemalas. Dasar malas-malasan!

Lalu ada orang yang berkata, “Apakah kamu seperti itu, Taufik?”

Taufik menjawab, “Bisa jadi seperti itu.”

Katanya, “Lho kok bisa jadi. Yang benar bagaimana?”

“Bolehkan saya menjawab seperti itu.”

Katanya, “Kau harus menjawab yang tepat dan benar.”

Taufik bertanya, “Apakah berarti saya ini sedang disidang dan bakal dikenai hukuman?”

Katanya, “Ah ngobrol denganmu. Aneh.”

“Aneh, katamu. Aneh yang bagaimana?”

“Apakah seperti itu atau tidak?” katanya, “Ngomong begitu saja susah. Bertele-tele.”

Taufik berkata, “Saya tidak mengerti maksudmu bertele-tele itu yang bagaiamana? Saya pikir saya tidak bertele-tele. Saya pikir hanya member jawaban yang lain.”

Dia itu orangnya aneh. Tidak-jelas. Mikirnya mbulet. Mikere tidak praktis. Terlalu banyak berpikir. Terlalu kena pengaruh filsafat. Terlalu kena gaya-gaya orang barat, orang-orang yang banyak berpikir. Jadinya, aneh begitu. Tidak bekerja secara fakta. (Apa maksudmu fakta? Apa maksudmu bekerja?) tidak seperti teman-teman yang lain. ah membicarakan dia, memang tidak jelas.

Katanya, dia itu rajin ke mejid. Wira-wiri ke mejid-mejid yang lain. wira-wiri ke rumah orang-orang lain. Tujuannya apa coba? Ah tujuannya tidak jelas. Dia itu memang tidak jelas.

Lalu ada yang bertanya, “Mengapa kamu rajin ke mejid? Lalu wira-wiri ke mejid lain? Tujuannya apa?”

Taufik menjawab, “Pertama, saya pergi ke mejid karena ibadah. sudah. Itu saja. alasan ke mejid lain-lain, karena saya di mejid pertama tidak tenang dan tidak serius untuk ibadah, maka saya pergi ke mejid lain. kalau ke mejid lain serius, sebab tidak ada kepentingan yang lain, kecuali datang untuk ibadah. lama-lama kunjungan itu membuahkan hasil: ternyata pertemuan yang tidak ngobrol-ngobrol itu, berjalannya waktu, membuatku kenal dengan orang. Akhirnya ngobrol. Sekedar ngobrol. Alasannya, di suruh main: dan saya menjawab, oke. Alasannya: berulang-ulang diajak mampir. Lama-lama saya tidak enak hati, makanya saya main. Begitu kok.”

Belum ada Komentar untuk " Taufik Hidayat (Autobiografi) 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel