Siapa Haidar Buchori?


Dia adalah pengasuh pondok pesantren luhur wahid hasyim semarang,

Dia juga mengajar di Universitas Wahid Hasysim semarang,

Dia adalah pengajar di Sarang, Rembang

Dan dia adalah orang yang membuatku berlipat-lipat berpikir. Berpikir tentang diriku sendiri.

Berpikir tentang bagaimana saya harus berpikir tentang diriku ini!

Dialah orang, yang menjadikanku –berpikiran—seperti sekarang ini (Sekali pun banyak orang yang mempengaruhiku, tapi dialah yang paling kuat, paling kokoh, mempengaruhiku) alasannya sederhana:

Saya harus berpikir tentang diri saya sendiri, dan saya itu adalah penting untuk dipikirkan oleh saya sendiri.

Itulah yang ditawarkan beliau kepadaku, sekali pun kata-katanya bukan seperti itu, tapi kata-katanya, mengisyaratkan untuk seperti itu.

Kalimat dasarnya seperti ini:

Apa tujuanmu?

Tujuanmu apa?

Ya! Apa tujuanmu?

Itulah kalimat yang membuatku, berpikir, berlipat-lipat berpikir, saya cangking kalimat itu dalam otakku, saya tidak mampu melepas kata-kata itu, saya membawa kalimat itu cukup lama.

Saya amat-amati sekali, tentang teks-teks yang berkaitan dengan istilah 'tujuan', saya cari kamus, saya cari pada buku, saya tanya orang-orang:

Setiap ketemu jawabnya, malah menjelma kalimat yang lain.

Setiap ketemu jawabnya, malah menjelma kalimat yang lain.

Ketemu, bertanya lagi.

Bersamaan dengan itu, saya senantiasa terngiang dengannya, terngiang dengan pembicaraan waktu itu, terngiang kenapa bisa sampai diskusi yang memojokkan, terngiang tentang obrolan yang membuatku senang, membuatku nyaman.

Sampai-sampai, kenyamanan itu, membuatku lupa, tentang apa yang kami bicarakan—kecuali curhatan masing-masing: ahaha dia pengasuh, tapi bagiku, dia juga laksana teman, yang mampu menerimaku, bahkan mendengar ceritaku, dan bersamanya, saya merasa ada.

Bersamanya, saya merasa teradakan.

Siapa dia, Haidar Buchori?

Putra dari 'penyair' semarangan, yakni Buchori Masruri, tokoh yang menciptakan lagu nasida ria, lagu yang ramai buat masyarakat indonesia. Lagu yang menjadi klaim:

Setiap lagu diputar, disitulah pengajian. Nasida Ria adalah pengajian.

Dialah putranya, yang namanya mboming, tertera pada lagu atau cover album Nasida Ria:

Abu Ali Haidar. Yang berarti, Bapaknya Ali Haidar.

Dialah puteranya, putra pembarep, yang banyak terpengaruhi oleh pemikiran Bapaknya—ini klaim saya, karena dia (Haidar Buchori) mengambil jurusan filsafat, yang tentu, mengkaji tentang fisafat postmodern, yang itu mengenal tentang rajutan zaman yang terjadi--:

Bapaknya menulis, Tahun Milenium, lagunya populer, menceritakan tentang keadaan dimana 'teknologi' merebak, yang sebenarnya, di eropa telah terjadi itu: karena beliau muslim, maka memberi tawaran:

wahai pemuda, remaja, sambutlah, tahun 2000 penuh tantangan.

berbekallah dengan ilmu dan iman,

Selanjutnya, anakku--yang berisikan nasihat tentang bagaimana sikap orang tua, mendidik anaknya, yang memang berbeda zamannya.

Siapa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh Pak Buchori Masruri, tentu yang paling utama adalah anak-anaknya, anak-anak menjadikan inspirasi lagu tersebut: yang paling ketara, adalah si pembarep, dialah Haidar Buchori.

Yang meneruskan 'mondok' di sarang, berguru kepada Mbah Maimun Zubair, dan mungkin, karena kedekatannya--aku tidak tahu kedekatan macam apa, antara beliau dan mbah mun, sehingga beliau, sekarang, ditarik untuk mengajar di Sarang-- padahal, semarang sampai rembang, itu bukanlah jarak yang ringkas dan cepat. Aku tidak tahu:

Dia ngajar Heurmenetik Al-quran di Sarang-- hahaha sebuah kajian tafsir yang menyumber pada analisis orang-orang filsafat, sebab kata 'Heurmenetik' berasal dari Yunani, terlebih dari itu, Heurmentik dijadikan untuk menafsirkan Kitab Injil.

Siapa Haidar Buchori dan apa keistemewaannya?

jika ditanya seperti itu, saya juga tidak-tahu, apa keistemewaan beliau, sampai-sampai mampu mengiringku untuk mendatanginya, demi tujuan dirinya.

Ya! Pernah saya datang, demi dirinya, hanya dirinya, hanya untuk Dirinya. dan aku tidak tahu mengapa hal itu bisa terpaku kuat dalam diriku kecuali bahwa saya pernah didesak tanya tentang tujuan dan setelah itu, terngiang-ngianglah dirinya dalam pemikiranku, terkenang-kenanglah wajahnya pada ingatanku, terkenanglah-kenanglah 'intonasi' suaranya sampai-sampai 'perwujudan' gaya intonasiku berusaha menjadi dirinya--ahahaha saya tidak meniru, tapi karena ngiangan itu, maka terotomatiskan saya meniru a ha ha ha-- sebab saya mendengar tatakala beliau menjelaskan saat mengaji, saat beliau berkata-kata padaku, saat beliau membacakan kitab kepadaku. terlebih lagi, sejak kepergianku, saya semakin intens menjalin komunikasi dengannya, sayalah yang menelepon, dia, tidak pernah.

Apakah kamu mengharapkan dia menghubungimu? Sebenarnya sih iya. Tapi tidak juga kok. Saya senang kalau mampu menghubinya, dan saya semakin galau, kalau dia payah dihubungi. Galau itu adalah, seakan 'seluruh' kegiatan tak berenergi sebelum mendengar suaranya. cie.. Thok hanya itu thok.

Hanya mendengar suaranya? Iya.

Setiap eluhan panjangku, tentang gegernya keduniaanku, tentang pola-pemikiranku, selalu dijawab dengan kalimat yang sederhana, dan biasa. Biasa sekali.

Kalimatnya laksana tak ada yang istimewa, saya berpikir, karena uriaan saya yang panjang, lebar, banyak, akhirnya dia menjawabnya dengan ringkas, seakan-akan senantiasa membalikkan dengan menyatakan:

Pikirlah dirimu sendiri, Fik. Selamatkanlah dirimu sendiri.

Dan ternyata, kalimat yang ringkas itu, menjadikanku rindu dengannya: masalahku memang panjang, tapi sebenarnya, jalan keluarnya, singkat, dan dia tahu itu. dan aku gembira dia mengetahui itu.

dia adalah pendengar curhatanku, dia rela mendengar apa yang kukata-katakan, karena sebenarnya dia juga memancingku untuk berkata-kata, jika bukan dia, bisa jadi, saya hanya mendengarkan apa yang orang-orang katakan, dengar, sudah, lalu imbuhi kalimat-kalimat ringkas.

Namun, setelah saya intens dengannya, perlahan-lahan, saya menjadi kesayaan yang lain, seakan-akan, setiap orang adalah seperti dirinya, dan saya semakin 'paham', tentang karakteristik orang-orang: tatkala dia pandai berbicara, maka saya memilih diam dan mendengarkan, malah memancingkan untuk lebih lejit berbicara, dan ketika saya menemukan orang yang diam, maka saya yang berbicara, memancingnya untuk berbicara.

ah metode dialog. hehe metode yang diterapkan oleh sokrates-- kayaknya, haha dia laksana socrates dan aku adalah platonya. ah kok bisa ya? apa-pun itu bisa saja terjadi.

Socrates versi saya.

Platonya juga versi saya.

Haha

Dia laksana syamsudin Al-tabriz dan aku Jalaludin Ruminya: yang mana keberadaan Syamsudin al-tabriz merubah drastis kehidupan Jalaludin Rumi, dan Jalaludin rumi terispirasi berat dengan syamsudin, sampai-sampai beliau menuangkan tentang gurunya tersebut.

Syamsudin al-tabriz tentu versi saya.

Jalaludin rumi pun tentu versi saya.

haha

Apa yang menjadikanku berbeda dengan keduanya tersebut? zaman, kondisi, keadaan, wilayah, garapan kajian, dan juga tentang nama.

Ah apakah saya mengunggulkan tentang kesayaan saya, karena, polanya, bermirip dengan tokoh-tokoh tersebut?

Jawabku, tidak. Apa yang saya rasakan, tidak semudah orang yang melihat. Apa yang mereka rasakan, tidak semulus yang orang ketahui.

Orang-orang maunya mengetahui tentang permukaan dan sesuatu yang telah 'matang'

orang-orang--mungkin-- lalai dengan 'perjalanan' yang menjadikan mereka seperti itu.

Dan apa yang terjadi saat saya menjalin intens dengan beliau:

untuk menjdi berpikir yang sederhana, kehidupan harus diterjang tentang yang bukan sederhana dan itu payah.

eksistensi keduniaanku, uh sangat menyedihkan.

realitas kenyataanku, uh sangat mempayahkan.

kecintaanku pudar, kecuali kepadanya,

dan kepadanya pun, cinta yang aneh,

dan pemandangan keduniaanku, menjadi sesuatu yang berbeda, jauh sangat berbeda, sampai-sampai: berulang-ulang, saya bertanya: apa itu hidup?

saya menjalani kehidupan yang aneh, di satu sisi, saya bahagia, disisi yang lain, saya terluka

perasanku diaduk-aduk, tercampur-campur,

saya uji oleh pengetahuan-pengetahuan yang telah berlalu

saya uji oleh kecintaan yang tidak sesimpel yang--saya pikir, proses cinta saya, tidak semulus orang-orang-- seakan-akan, orang-orang menyatakan cinta itu mudah, dan saya, sungguh sangat kewalahan.

Jika kau bertanya, apakah kamu mencintai Haidar Buchori?

Saya timbang-timbang, tidak juga--hatiku ngenes menjawab itu--

Apakah kamu merindukan Haidar Buchori?

Saya timbang-timbang, tidak juga-- walau sebenarnya iya--

Sekarang, simpulkan, siapa Haidar Buchori?

jawabku, dia guruku. Begitu.

Terakhir, apakah kau tidak-malu tatkala mempubliskan ini?

Jawabku, ah memang siapa aku bagi kalangan umum, terlebih lagi, tulisan ini sebenarnya adalah tulisan untukku! Jika itu bermanfaat buatmu, berarti bagus, kalau tidak, tentu tulisan ini bermanfaat buatku.

oh hampir kelupaan: dalam mengaji, kitab apa yang dia ajarkan kepadamu, sehingga mampu menjadikanmu laksana menjiret kepadanya?

Saya lupa tentang kenangan mengaji dengannya menggunakan kitab, kecuali kitab ini: Ayyuhal Walad-nya Imam Ghazali. Hanya kitab itu paling mengena.

Alasannya?

Baru kali itu, saya mengaji sarat 'jalinan komunikasi': saya komunikasi dengan diri saya, saya komunikasi dengan Pak Haidar, saya laksana peran murid dalam kitab itu, dan saya laksana ‘pengarang’ kitab itu; maksudnya saya sangat hapal tentang sebab-sebab sebelum beliau mengarang itu. Itu yang saya rasakan, soal percaya atau nggak, bagimu, itu urusanmu, sebab ini perasaanku.

Jadi, jika ada yang bertanya, siapa Haidar Buchori?

Jawabku, dia guruku. Dia tidak terkenal, namun dia muridnya Mbah Maimun Zubair –mbah Mun terkenal kan? Nah, dia muridnya—selain itu, dia memang tidak terkenal, tapi bapaknya kita ‘mengenal’, bapaknya itu pencipta lagu Nasida Ria: Perdamaian, Tahun Milenium, Anakku, Dimana-mana Dosa, Dunia Dalam Berita, dan lain sebagainya. Bapaknya, itu Pak Buchori Masruri, muridnya Mbah Zubair (Bapaknya Mbah Maimun Zubair). Begitu.


Dunia dalam berita, berita dalam dunia

Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan

Ada yang membangun, ada yang bikin bingung


SUNGGUH ASYIK, DUNIA DALAM BERITA

SUNGGUH ASYIK, Berita dalam Dunia

Sungguh asyik, dunia dalam berita

ASYIK... (Buchori Masruri: Dunia Dalam Berita)

Belum ada Komentar untuk "Siapa Haidar Buchori? "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel