Bagaimana aku berpikir?

Ketika aku membaca tentang postmodern, tentang tokoh-tokoh eropa, tentu saja tujuannya ialah berupaya menyempurnakan pendidikanku. Masak lulusan filsafat, tidak mengerti totalitas kefilsafat. Lebih-lebih belum terjawab pertanyaan dasar: bagaimana aku berpikir!

Memang dasarnya saya kuliah filsafat itu dibayangi dengan pertanyaan: sesungguhnya bagaimana aku berpikir? Pertanyaan itu terjadi atau terlaksana karena diriku seakan tidak sebagaimana orang-orang yang ada (maksudnya menjalani kehidupan yang praktis dan berdaya diri untuk mempertahankan kehidupannya), berupaya untuk konsentrasi pada hal yang dikonstrasikan (saya memang mempunyai konsentrasi, yakni membahagiakan orang-orang yang ada di sekitarku. Dan gembira kalau orang disekitarku adalah gembira) dan menjalani rutinitas kehidupan yang itu sebagaimana umum keadaannya. Artinya saya persis tidak menyukai keumuman. Padahal sebenarnya saya juga menyukai keumuman. Namun lamat-lamat, saya menyadari bagaimana saya berpikir: yakni berharap adanya ideal terhadap fakta. Artinya mengharapkan ideal dari fakta yang terjadi. seringkas itu. sekedar di dalam pikiran mengharapkan keidealan. Agaknya begitu yang terjadi pada perjalanan waktuku.

Dan kemudian. Ketika itu menjadi kata-kata. artinya curhatan ini menjadi kata-kata. menjadi sebuah potret tentang perjalanan hidup manusia, satu manusia di antara sepersekian manusia: inilah saya.


Tentang Pembacaan

Kalau saya cermati tentang diriku, memang kurang suka membaca. kurang suka membaca yang itu serius membaca. membaca yang itu belajar membaca. bahkan sejauh ini, pembacaanku berkaitan dengan filsafat pun tidak sempurna. Memang saya suka meminjam buku perpustakaan, namun saya agaknya belum sepenuhnya membaca apa yang saya pinjam. Sekedar membaca sekilasan belaka. Sekedar membaca sekilasan belaka. Bila pun selesai, tentu ada yang selesai. Tapi tidak dari ketotalitasan dari pembacaan saya. Apalagi dalam hal ini: filsafat! Agaknya tidak secara totalitas saya membaca lalu menaruknya di dalam pemikiranku.

Atau bahkan begini: saya tidak membaca penuh terhadap tokoh filsafat yang itu mempengaruhi pemikiranku—termasuk pemikiran Nietzsche: Nietzsche bagiku ini memang agak special, bersamaan dengan itu tentu saja dengan Ibu Khaldun—walau pun itu sekedar teks: sekedar buku, namun itu menjadi pengaruh buat perjalanan pemikiranku. Yang didapat begini: ketika membaca Nietzsche maka seakan dikatakan, “O sebenarnya itulah yang aku pikirkan. Itulah yang menjadi daya resahku.” Dan ketika membaca Ibnu Khaldun, “O begitu ya, semestinya manusia itu mengenal sejarahnya dan dari itu kemudian menjadi manusia ahli karena pada dasarnya manusia itu adalah invidu demi individu yang kemudian membentuk kelompok. Intinya, tentnag keahlian.”

Namun sekarang, saya mulai mengamati tentang orang-orang eropa itu, para filsuf itu, mereka itu memang orang yang rajin membaca. pastilah (gayanya memastikan) mereka sibuk sekali dengan pembacaan demi pembacaan; kebutuhan membaca itu bagi mereka adalah sangat terbutuhkan.

Saya memang membaca, namun membaca tentang al-quran juga. Bahkan sejak kecil telah belajar untuk membaca al-quran, mulai dari alip bak tak: itu menjadi kebiasaan untuk pembacaan. Menjadi kebiasaan untuk pembacaan. Lalu ketika saya sekolah, tentu sekolah bakal sibuk dengan pembacaan.

Namun apa yang terjadi dengan pemikiranku? Apa yang terjadi pemikiranku: mengapa aku tidak ‘menangkap’ tentang pengetahuan yang telah disampaikan dan menjadi proses? Sesungguhnya bagaimana cara berpikirku?

Artinya, saya persis mengalami ‘kehilangan’ sesuatu (yakni pengetahuan) namun kok tidak merasa kehilangan. wal-hasil system pengetahuan itu menjadi lalu lintas saja secara fakta. System pengeathuan itu sekedar menjadi lalu lintas tentang perjalanan waktu. ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang seakan dibutuhkan, padahal sebagaimana para penceramah itu berkata:

“Ilmu pengetahuan itu penting. Bahkan, kalau mau mendapatkan kebahagiaan dunia dibutuhkan ilmu pengetahuan tentang dunia, kalau mau mendapatkan kebahagiaan akhirat, maka dibutuhkan ilmu pengetahuan tentang akhirat.”

Namun yang terjadi kepadaku, seakan ilmu pengetahuan itu menjadi lalu lintas belaka yang kemudian ‘tidak benar-benar digenggam’ untuk disimpan lalu diaplikasikan—bukan berarti saya menyangkal terhadap pengetahuan yang telah saya dapatkan: memangnya kemana pengetahuan matematika, biologi, sejarah, geografi, dan lain sebagaimana? Mengapa ilmu-ilmu tidak tertangkap: bukankah dulu aku pernah ujian? Lalu sesungguhnya bagaimana keilmuan itu pergi dan mengapa aku merelakannya untuk pergi? Walah… saya pikir itu juga terjadi kepada teman-temanku, juga kepada orang-orang lain. apakah tidak percaya? Coba dicek?

Dan ketika, melihat orang-orang eropa itu, agaknya mereka sangat focus dengan pelajarnya. Agak focus dengan kajiannya—ah mungkin itu sekedar sawangan belaka. Sekedar sebagian orang belaka yang benar-benar focus, dan dia adalah orang yang sibuk dengan teks dan pembacaan. Mungkin jarang bergaul dengan tetangganya, mungkin juga jarang bergaul dengan sesuatu yang disebut mainan; di dalam pemikirannya sarat dengan keseriusan dan di dalam pemikiranku (wah sampai pemikiranku) terjadi kebecandaan. Kebecandaan terhadap realitas, yang harusnya mempunyai visi. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan agama islam: maka dalam hidup harus mempunyai visi yang jelas, yakni menuju akhirat.

Visi utama manusia muslim adalah menuju akhirat dan dunia adalah alat untuk sampai kepada akhirat. Ah sudalah rangkaian kata-katanya.

2018

Belum ada Komentar untuk " Bagaimana aku berpikir?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel