Apa yang Engkau Pertahankan Dalam Kehidupan Ini, Taufik?





Apakah sekarang penting dipertanyakan tentang model ‘kepertahananmu’? Benteng-benteng yang kau berdaya ‘menyelamatkan’ keakuanmu? Cara-cara mengidentifikasi masalah yang itu ada pada dirimu? Tentang apa yang engkau pertahankan?

Sungguh kedatanganku kepadamu adalah mengaktifkan rasiomu untuk berpikir sekali lagi tentang dirimu, yang sebenarnya engkau sangat-sangat berpikiran kuat kepada diri—hanya saja engkau tidak berani mengakuinya, atau masih ada topeng dan tirai dari pemikiranmu untuk dirimu, atau engkau tidak berani mengungkapkan tentang ‘kebenaran’ dirimu;

Kenanglah dalam lintasan-sejarahmu, apa-apa yang engkau dayakan untuk dipertahankan? Pasti punya. Bohong kalau tidak punya! Jangan sombong, karena sebenarnya kamu itu memang sombong: faktanya, sombong kepada dirimu sendiri! Apakah ini tidak termasuk penipuan yang besar? Kamu berani mengungkapkan orang lain, tapi tidak benari mengungkapkan kebenaran buat telingamu sendiri, buat pemikiranmu sendiri. Maksud dari sombong karena kamu merasa besar-hati kepada diri sendiri bahwa sebenarnya engkau tidak mengabarkan kedirianmu kepada dirimu.

Lantas, perlukah kedirianmu dikabarkan kepada dirimu? Jawabku, bukankah yang paling memahami dirimu tentu adalah dirimu sendiri; dan orang-orang lain adalah mengetahui dirimu yang itu sekedar apa-apa yang engkau wujudkan atau suarakan, atau tentang prediki-prediksinya kepada dirimu; jika pun dia mengetahuimu dengan sangat, maka dia berdaya diri untuk menyelamatkanmu. Namun karena si penyelamat itu belum datang kepadamu, maka:

Kenanglah, apa-apa yang kau pertahankan dalam hidup ini: pasti punya. Kalau tidak percaya, saya minta seluruh bajumu, apakah engkau rela atau bahasa lainnya, ikhlas tanpa nggerundel? Namun pertanyaan saya adalah tentang kehidupan, pakaian itu masih sedikit dari jumlah kebanyakan pemikiranmu: sekarang, kembali ke pokok dasar pertanyaan: apa yang kau pertahankan dalam kehidupan ini? Yang paling benar-benar untuk dipertahankan dalam kehidupan ini?

Jika engkau berdaya-diri untuk mempertahankan eksistensimu (keberadaanmu), maka sudahkah engkau benar-benar melindung eksistensimu?

Jika engkau berdaya-diri untuk mempertahankan pemikiranmu, benarkah engkau benar-benar melindungi apa-apa yang engkau pikiran itu?

Atau jangan-jangan engkau belum memahami tentang kehidupan? Dan perwaktuanmu engkau gunakan untuk acara main-main dan acara becandaan, sampai-sampai engkau lalai menyelamatkan keakuanmu?

Namun sekarang, hal praktisnya, jika engkau bertanya kepadaku, apa yang aku pertahankan dalam kehidupan ini?

Jawabku, eksistensi dan esensi diriku; yakni keberadaanku yang itu terdukung dari esensisku. Dan saya mengartikan begini: eksistensi tentang ‘wujudnya’ dirinya, yakni raganganku, tubuh, jasad, panca-indera dan seluruh keburuhan jasmadi diriku. Dan esensi adalah sesuatu yang itu berada di dalam diriku, yakni akal atau hati, atau pikiran; dan ini bahasa lainnya, antara realis dan idealis: realis milik jasmani dan idealis milik ruhani.

Maka dari itu, sekarang, selamatkanlah apa-apa yang engkau pertahankan: kenanglah, orang membuat rumah, melindungi dirinya dari sengatan matahari, hujan, dingin dan binatang.

Dan orang bekerja untuk mempertahankan tubuhnya.

Orang belajar untuk menyelamatkan pikirannya.

Begitu ya... jangan lalaikan apa yang engkau pertahankan?

2017-04-27

Belum ada Komentar untuk "Apa yang Engkau Pertahankan Dalam Kehidupan Ini, Taufik?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel