MENGAPA PENTING MEMBACA? TINJAUAN HISTORI BIOGRAFI MUHAMMAD SAW






Kehidupan tidak harus sibuk dengan teks, atau sibuk dengan ‘pembacaan’ teks, begitulah digunakan kanjeng nabi tatkala masih menjalani kehidupan sebelum turunnya wahyu, pun setelah kejadian wahyu yang berangsur-angsur itu. Tidak ada tekstual atau pembacaan terhadap teks, namun tetap saja menjalani hidup dengan normal, sebab kehidupan yang diukur adalah kehidupan yang realistis.

Kehidupan realistis adalah kehidupan yang benar-benar nyata, dan yang sekarang terjadi, bukan tentang ‘harapan’-harapan’ masa depan atau angan-angan dari Negara lain untuk diterapkan di sini, melainkan menerima konsep yang ada di sini, untuk menjalani kehidupan.

Apakah kehidupan harus sarat dengan tekstualitas? Jawabnya, kanjeng nabi tidak sarat dengna tekstualitas, namun mempertahankan kemanusiaannya dengna cara bekerja, keagamaan tidak harus pembacaan secara referensi, namun menurut cerita-cerita orang terdahulu, yang dirangkai untuk menjadi pelajaran menjalani kehidupan. Kehidupan yang telah terjadi; cerita orang-orang terdahulu yang telah mashyur di kalangan orang-orang tersebut:

Kisah-kisah para nabi bagi orang mekah adalah sangat akrab dan melekat, kisah-kisahnya telah menjadi sebuah ‘jalan’ buat orang-orang yang datang ke mekah, yakni para pengikuti nabi Ibrahim, dari kalangna orang-orang timur, seperti irak, iran dan jazirah arab umumnya; orientasi zaman adalah mengaju kepada nabi Ibrahim. Yang selanjutnya, diteruskan pada masa nabi sesudahnya, yakni nabi musa, yang berada di daerah mesir, yang dengan itu, memperkuat kokoh jalinan nabi satu dengan yang lain, yang harus juga mengonsentrasikan kepada suatu tempat, yakni mekah, alasannya; karena nabi Ibrahim, sebab, pacuan mereka adlah menjadi satu kesatuan yang utuh. Sampai ketika, datanglah nabi isa, yang kemudian menyebar dan menjadi luas, karena agama semakin ‘sempurna’, maka kaum nabi isa pun datang ke tempat nenek-moyang para nabi, yakni nabi ibarahim, yakni ke mekah. Begitulah landasan pertama kanjeng nabi Muhammad, yang mendiami suatu tempat sebagai ‘post’ kedatangan umat-umat para nabi; yang kemudian, setelah bewaktu-waktu, maka penyembahan bertambah-tambah dengan keberadaan berhala-hala.

Bisa jadi, keberedaan berhala-hala berkaitan erat dengan ‘pekerjaan’ manusia, yang itu dibutuhkan untuk mendukung ‘kebutuhan’ materinya; saat sebuah berhala telah menjadi sebuah pekerjaan, menjadi alat untuk pendukung materi, ‘kebutuhan-individu’ tercukupi, maka orang-orang semakin gencar membuat ‘berhala’ yang kemudian dijual dan dijual, tujuannya, guna memupukkan pundi-pundi ekonomi orang-orang yang didatangi. Bersamaan dengan itu, maka semakin dikuatkan tentang sesuatu yang berkaitan dengan pahala. Dikuatkan demi pendukungan ‘keberhalaan’ di saat itulah; agama yang semula tanpa keberhalaan, menjadi keberhalaan.

Dan sebab yang lain, yang menjadi keberhalaan karena adanya kepercayaan dari ‘sesorang’ terhadap hal yang gaib, hal-hal yang bersifat sangat ruhaniah, yang kemudian mengagungkan kepada sosok yang mengeluarkan fatwa-fatwa keruhaniaan; maka di saat itu, alat-alat untuk memperkuat kerohanian semakin menjadi, dan bersamaan dengan itulah keberhalaan atau benda-benda menjadi semakin ada, dan semakin menjadi ada; sebab sosok yang mempunyai ilmu kegaiban tersebut menggunakan media-media untuk menguatkan ‘kegaiban’, dan orang-orang yang mempercayai bukti dari ‘kegaiban’ sosok, mengikuti apa-apa yang ditawarkan sosok, mengikuti apa-apa yang dikenakan dan yang dijanjikan sosok; maka disaat itulah orang-orang semakin memberhalakan sesuatu ‘kebendaan’.

Sementara tawaran kanjeng nabi adalah mengingatkan ulang tentang apa-apa yang pernah melekat kepada mereka, yang sebenarnya telah mereka ketahui, yang sebenarnya sangat-sangat mereka sadari; namun keberadaan arus sosial menjadikan mereka harus mengikuti tradisi sosial.

Lebih-lebih lagi, tradisi orang-orang mekah bukanlah tradisi sebagaimana orang-orang yunani, atau tradisi orang-orang barat, yang itu telah mengenal lembaga-pendidikan, lembaga sekolah yang itu berkembang dari tradisi yunani; tradisi orang-orang mekah adalah sangat praktis untuk kehidupan, yakni kehidupan yang harus menghidupi tubuh, yakni mempertahankan kemanusiaan; dengan cara, berdagang, sebab menjadinya berdagang yang kuat, karena mekah adalah tempat berkumpulnya para penganut paham kenabian, yang diperkasai oleh nabi Ibrahim; yang mana umat nabi Ibrahim juga beribada di tempat mekah; yang kemudian, di teruskan oleh nabi musa, yang selanjutnya disebut dengan agama yahudi; mereka datang ke mekah, sebab mereka mempercayai juga paham yang ditawarkan nabi musa, sebab nabi musa juga mempercayai apa yang dipercayai pendahulunya, yakni nabi Ibrahim. Begitu juga dengan orang-orang nasrani; yang datang ke mekah. Bertujuan, ibadah. menghamba diri.

Melihat tradisi sosial yang seperti itu, tidak mengharuskan Nabi Muhammad untuk berlatih membaca, selain itu tradisi sekolah di daerah mekah, bukanlah prioritas utama; bahkan tidak ada, atau jikalau ada adalah sangat sedikit, maka terhitung hanya sedikit orang yang mampu mengenal baca-tulis di mekah.

Hingga kemudian, kanjeng nabi diutus menjadi rasul, yang kita mengenal bahwasanya beliau diberikan ‘wahyu’ dari allah melalui malaikat jibril, yang isi utama dari wahyu tersebut adalah penegasan pengetahuan yang telah diketahui oleh masyarakat sekitar; adalah rangkaian pengetahuan tentang apa-apa yang telah diketahuinya; maka tugas kanjeng nabi adalah mengingatkan apa yang telah diingat, menyampaikan ulang apa yang telah tersampaikan, secara sistematis, secara kronologis, yakni, petikan-petikan ayat-ayat dari tuhan. Bersamaan dengan menunggu ayat-ayat yang turun dari Allah, maka beliau tetap mempertahankan apa-apa yang telah turun, karena memang bahasa atau diksi adalah mudah dipahami, karena memang tawaran pengetahuan yang diberikan adalah sesuatu yang sebenarnya telah diketahui; dan kali ini berbeda orang yang menyampaikan, yakni sosok manusia yang bernama Muhammad bin Abdullah yang dtelah dberi gelar ‘orang yang dipercaya’.

Terlebih lagi, tawaran pembacaan yang ada adalah tentang kesemestaan atau tanda-tanda darinya; yakni membaca secara alam, sosial, dan hal-hal yang ada, juga dalam diri sendiri. Jadi, tidak ada secara langsung, tidak ada anjuran pembacaan secara teks, namun tetap mengisyaratkan pembacaan secara teks; yakni teks tentang ayat-ayat yang turun, yakni al-quran.

Yang kemudian, untuk mengetahui ayat-ayat yang turun, yang itu berbahasa arab, maka orang-orang penting untuk mengetahui dan memahami bahasa arab; maka orang-orang yang memahami bahasa arab, harus melalui proses demi proses untuk memahami bahasa arab; bersamaan dengan itulah maka terjadi proses untuk pendapatan pengetahuan terhadap ayat-ayat al-quran; bersamaan itu, tujuannya tentu tentang epistemology pengetahuan islam.

Akhir kata, kehidupan memang tidak sarat dengan nilai-nilai teks, tapi harus berkaitan dengan tekstual. Harus menghubungkan dengna tekstual.

2017

Belum ada Komentar untuk " MENGAPA PENTING MEMBACA? TINJAUAN HISTORI BIOGRAFI MUHAMMAD SAW "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel