PUISI-PUISI HIDAYAT TF








PERTEMUAN

apa makna pertemuanku denganmu?
yang itu harus lewat dialog
yang berfakta engkau mendahului membuka kata dengan bertanya




apa makna pertemuanku denganmu?
yang itu harus duduk santai dan bicara
yang berfakta seakan dunia telah begitu adanya


apa makna pertemuanku denganmu?
yang itu berdurasi ringkas
saat aku menjalin bahagia


apa makna pertemuanku denganmu?
yang itu lebih mendua
dibanding bertiga


apa makna pertemuanku denganmu?
yang itu menjadikanku lebih mendekatkan diri kepadamu


tidak ada harap diriku kepadamu
kecuali damai bersamamu
tidak ada ingin diriku darimu
kecuali damai aku bersamamu


dan rencana apa yang disediakan oleh-Nya dari pertemuan kita?
yang lamat-lamat aku menjelma kedirianmu
atau memang aku benar-benar memang seperti dirimu
sekali pun aku tetaplah keakuanku yang itu bukan dirimu


Dan inilah aku, bersama keakuanku, yang berjumpa dengan keakuanmu


Jika ada yang berkata, 'kenapa engkau meniru gaya gurumu?'
Jawabku, 'aku tidak meniru gayanya; tapi memang gaya kami serupa namun berbeda.'




2017




PERTEMUAN-PERTEMUAN



aku telah digariskan untuk bertemu
karena memang kita telah bertemu
bersama dengan jalinan waktu yang itu dulu
terkesan rahasia bahwa legalah diriku
mampu berjumpa denganmu


andai tak ada rindu dariku kepadamu
apalah arti puisi-puisiku; dan mampukah puisiku
menjadi seperti sekarang ini
laksana samar dan sarat rahasia
tentang keakuan yang itukah keakuanmu atau keakuanku



andai tak ada jumpa aku denganmu, tentulah aku berjumpa yang lainnya
dan jadilah jalinan hidupku bukan seperti sekarang ini;
yang setiap pertemuan, menyuguhi kalimat tanya
yang setiap pertemuan, adalah dialog pemasukan
atau mengulurkan pendapat yang itu sekedar 'per-ide-an'




oh dunia; alat pertemuan demi pertemuan
yang kemudian bermekaran bunga kerinduan
demikianlah rindu-rindu baru tercipta
rindu yang ganjil yang menumbuh dalam dada
jadilah hasrat berkata dan juga bertanya
jadilah hasrat bicara dan bertukar kata
jadilah aku seperti sekarang ini;


menemuimu sekali lagi
duduk dan seperti biasa
mengenang pertemuanku denganmu
di masa kita tenang dan damai
itulah awal pertemuan


2017


PERTEMUAN YANG BERKETENANGAN LAGI BERKEDAMAIAN

aku berjumpa karna hasrat tenang dan damai yang terasa
maka kuketuk pintumu; dan aku tidak perduli tenangkah kau di sana? damaikah kau disana?
akulah laksana ombak yang kuat dan butuh pantai kesejukan
bersamamu kudapati tenang dan damai
akulah laksana api yang menyala, liar, dihempas angin, kencang
bersamamu kudapati ketiadaan yang dalam
sampai-sampai mencuat pada sisi keakuan
sampai-sampai tiba di gerbang keakuan
lalu aku mencari tentang sesuatu yang itu adalah diriku


melaluimu kudapati cahaya-langkah yang sebenarnya tidak terarah
sekali pun tetap mengarah, yakni mengarah kepada keakuanku
oh arah yang aneh, sebab jalanku adalah jalan yang aneh
jalan yang ditempuh para pejalan yang mencari
sesuatu di dalam dirinya dan terheran takjub, mengapa sampai terkurung dalam rimba keakuan dan lalai bagaimana mendapati jalan keluar?




dan tibalah masanya, aku dapati kenyataan yang benar-benar nyata
sekali pun bekas 'rimba' keakuan merekat erat dalam diriku
menarik-tarik untuk kembali sebab nyata
tidak sedamai kerimbaan dalam diriku
nyata sering berwajah dua, dan berbeda
persis laksana koin yang berbeda wajah


oh dunia penampakan, kinilah aku mulai menyambanginya
mendapati secercah damai dalam tubuh-tubuh manusia
bukan tubuhmu tapi tubuh lainnya,
yang setiap katanya, sering dan terus, kusertakan namamu


oh dunia penampakan, kinilah aku mulai menciuminya
yang ternyata ada amis, wangi, dan rasa-rasa lainnya
bertapa 'panca-indra' menawarkan segala rupa




lalu sesekali aku 'lelah' dengan kenyataan yang benar-benar bertimpang-tindih dan diriku, yang belum menjadi
maka sesekali aku tetap mengunjungimu,
mengudari puisi dari dalam diriku, untukmu, kepadamu
diserahkan kedirianku.




jika ada yang bertanya, "Diri macam apa yang kau serahkan kepada gurumu?"
jawabku, "Diri yang itu adalah keideanku. sebab kedatanganku, atau perjumpaanku adalah tentang keideaan."
jawabku, "Bukankah tenang lagi damai adalah tentang ide yang itu didalam diri? begitulah aku belajar dari guruku!"

jika ada yang bertanya, "Sesungguhnya apa spesialnya gurumu perihal ilmu?"
jawabku, "Aku tidak tahu secara pasti, namun bagiku dialah yang mewujudkan keakuanku."
jawabku, "Dialah yang menjadikan 'aku' mengeluarkan 'keakuanku'"
jawabku, "Dialah yang mendorongku menampakan 'keakuanku'"
jawabku, "Wujud penampakannya adalah puisi-puisiku; kata-kataku, yang kerap menyertakan nama guruku, sekali pun engkau tidak tahu benar, siapa sesungguhnya guruku; dan bagimu, pentingkah engkau mengetahui benar siapa guruku."


jika ada yang mengejar lalu bertanya, "Siapa gurumu itu yang menjadikanmu seperti ini?"
jawabku, "Bacalah sejarahku, tentu engkau tahu siapa guruku sesungguhnya."




lalu diantara mereka ada yang terheran dengan jalinanku
merasa takjub dengan jalinan yang terjadi denganku
lalu di antara mereka berkata, "Bagaimana aku mampu mendapatkan orang yang itu seperti gurumu yang akrab denganmu?"
jawabku, "Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaanmu, sebab aku pun dulu begitu mendambakan harus bertemu dengannya. Niatku, menjaga moral; dan dalam naungan ilmu, bersamaan dengan itu, maka aku dipertemukan. Jika engkau tertarik, sibuklah dengan caraku; jagalah moralmu, dan ikatlah dirimu dalam naungan ilmu, tentu kelak engkau akan dipertemukan.


Jika engkau belum juga dipertemukan, tak usahlah engkau harapkah untuk dipertemukan; karena aku pun tidak berharap-harap untuk dipertemukan, dan seiring perjalanan waktu, aku benar-benar dipertemukan."


2017




BERSAMAMU

bersamamu aku 'teradakan'
itulah hebatmu
mengadakan diriku yang itu mengadakan dirimu

bersamamu aku 'terakukan'
itulah hebatmu
mengakukan aku yang tidak terakukan


bersamamu aku 'terhebatkan'
itulah hebatmu
menghebatkanku yang itu tidak terhebatkan


dan aku tidak tahu engkau bersama yang lainnya
karena inilah perjumpaanku, denganmu



2017






BERSAMAMU

bersamamu aku 'terdiamkan'
itulah uniknya rinduku
yang menggebu ingin bertemu diam saat bertemu



bersamamu aku 'tertiadakan'
itulah uniknya cintaku
yang bahagia yang inginnya segera sirna


bersamamu aku 'terlelahkan'
itulah uniknya diriku
yang limpahan cintaku sampai-sampai melelahkanku


dan aku tidak tahu engkau bersama yang lainnya
karena inilah perjumpaanku, denganmu.



2017



BERSAMAMU

bersamamu: apakah makna sungguh diksi bersama di zaman canggih ini? sebab wajahmu lebih ngiang dibanding wajahku

bersamamu: apakah makna sungguh diksi bersama di zaman trans-trans ini?
toh bersamamu jarang ada pelukan atau sentuhan
toh bersamamu tidak ada pelukan atau rangkulan
apakah arti bersama di zaman seperti sekarang dan itu bersamamu?
karena kata aku dekat
karena kata aku melekat


2017

Belum ada Komentar untuk "PUISI-PUISI HIDAYAT TF"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel