KENDALA EPISTEMOLOGY MANUSIA INDONESIA





Saya hendak mengingatkan—diksi mengingatkan adalah upaya ‘memahami’ apa yang telah kita ketahui—bahwa: Sumber pengetahuan manusia indonesia (atau dalam hal ini, orientasi pengetahuan indonesia) adalah bersumber dari dua arah, yakni agama dan ilmiah.

yang dari keduanya, telah jelas, bahwa arah pengetahuan agama, cenderung pada nilai-nilai akhirat atau mementingkan nilai keakhiratan yang berpemikiran tentang keuniversalan, dan hal itu tertulis dalam dasar filafat indonesia: pancasila. Sementara arah ilmiah mengarah pada nilai-nilai duniawi, sesautu yang berbentuk pada ‘kemajuan’ keduniaan, yang menampak pada eksistensi atau sesuatu yang bersifat wujud-wujud; sebab tawaran ilmiah adalah berorientasi pada pembukitan secara fakta, yang harus realistis. Harus berbukti secara logis.

Namun tujuan saya disini lebih dari itu (bukan sekedar mengingatkan dalam arti ‘ayolah ingat’; namun ‘sadarilah’ bahwa itulah yang terjalin dalam diri manusia indonesia), yang memang dalam sejarahnya, selalu mengandeng berunsur kuat pada kedua hal tersebut.

Jika dilerai tentang mengapa kedua hal tersebut, membaur buat manusia indonesia.

Jawabku, sebab indonesia menawarkan tentang ‘keduniaan’ yakni keberadaan alamnya, yang menuntut manusia untuk menggerakan ‘tubuhnya’, dengan menggerakan tubuhnya maka kita mampu mendapatkan sesuatu untuk mencukupi ‘tubuh’ atau ‘jasad’ kita; sebab dengan menggerakan tubuh berarti kita bekerja, yang mampu menanam, mengolah, menjaring, atau memanfaatkan alamnya; dengan menggerakan tubuh, maka tercukupi tentang kebutuhan pokok kemanusiaan. Tatkala kebutuhan ‘kemanusiaan’ itu tercukupi, yakni sisi ‘eksistensi’, maka secara otomatis membutuhkan sesuatu untuk ‘kedirian’ yakni, olah pikir; di sinilah peran agama dibutuhkan. Untuk melengkapi sesuatu di eksistensi; sebab tabiat manusia adalah mahluk yang berpikir.

Dan sekarang, masalah terbesar bagi manusia indonesia, tentu, sebagaimana masalah global yang terjadi, adalah tentang epistemology; tentang kemelekan pengetahuan, tentang bertaburnya pengetahuan, tentang maraknya pengetahuan; begitu pun yang terjadi pada manusia indonesia?

Manusia indonesia, yang dalam sejarahnya, jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan eropa, sebagai ukuran ilmu-pengetahuan; sebab, kelahiran indonesia (indonesia di katakan indonesia) tahun 1945, yang mana zaman tersebut, dalam teks filsafat, sudah dikatakan aliran modern (malah bahkan bisa dikatakan postmodern), yakni telah meleknya terhadap pengetahuan, telah lancar dengan sesuatu yang disebut dengan keilmiahan; dan indonesia mulai merintis tentang sesuatu yang disebut dengan pengetahuan. yang semula, backgrone dari manusia indonesia bukan dari barat, melainkan dari timur (Artinya: pengetahuan yang itu merujuk pada ketimuran; yakni, berkutat pada sisi rohani—baca filsafat cina, jazirah Arab, Islam indonesia, Hindu-budha indonesia); yang tawarannya adalah menerima kehidupan sebagaimana adanya, tanpa harus begitu dieluhkan tapi dinikmati, atau bahkan diingkari, sebab hidup adalah alat untuk mencapai tujuan kelak, di akhirat.

Yang kemudian perintisan tersebut menjadi, dan kita baru berbenah terhadap sesuatu yang disebut dengan pengetahuan ala kebaratan, padahal sejarah menyatakan bahwa kita dari sisi ketimuran, yang itu tentu tidak ketimuran yang kental (Sekali pun sebagian tetap kental; suatu contoh gaya para wali tetap menggunakan serban atau pakaian ala arab, kecuali sunan kali jaga), sebab alasan di atas, dukungan alam. Keterkejutan pengetahuan ala kebaratan, ditambah dengan melesatnya ‘pengetahuan’ positivistik-ilmiah, yang mewujud pada alat-alat teknology, dunia jaringan, internetan, menjadikan kita semakin terkejut dan menjadi tabrakan pengetahuan dari dua sisi: yakni, sisi agama dan sisi ilmiah.

Maksud saya menyampaikan hal tersebut, adalah tentang tekanan individu terhadap kedua arah tersebut. Mengapa saya sebut itu sebuah tekanan?

Jawabku, karena status saya baru menyadari hal tersebut, yang itu melekat dalam diri saya; yang ternyata, kedua hal tersebut harus dikaji, sementara ‘keberedaan’ tubuh saya, tidak tersistem, tidak seilmiah itu, tidak ‘seagamis’ itu; keadaan saya adalah manusia pertengahan di antara kedua arah tersebut, yakni arab barat juga timur. Sayangnya lagi, tidak bisa dikatakan kebaratan yang tulen karena memegang ketimuran, juga tidak bisa dikatakan timur yang tulen karena agak kebaratan. Inilah saya: bukan barat, bukan juga timur, tapi indonesia.

Wal-hasil, jika agama, agama seperti apa?

Jawabnya, agama keindonesiaan (jangan diartikan bahwa teks ini secara mendalam ‘hermeunetik’ adalah suatu agama yang baru atau agama yang itu adalah kecirian saya, bukan. Maksud saya: keagamaan saya coraknya adalah agama yang khas indonesia. Jika islam, maka islam khas indonesia. Budha, budha khas indonesia. Hindu, hindu khas indonesia. Nasrani, nasrani khas indonesia. Begitu.) sebab agama ini bukanlah agama yang menjadi asalnya, melaikan indonesia menjadi tempat persinggahan agama-agama dari luar. Islam dari timur, nasrani dari barat (Sekali pun sumber agama nasrani tetap dari timur; sebab yang disebut para nabi dalam sejarahnya dari ketimuran. Sementara barat terkenal dengan sejarah rasionya, logikanya: para pemikir yunani, yang telah sibuk dengan sesuatu yang disebut pola-pola pembuktikan secara rasio), hindu-budha dari india, dan khong hucu dari cina. Sementara kita berada di indonesia. Begitulah maksud agama keindonesiaan. Yang kemudian, dari hal tersebut: lalu ada yang sebagian lebih konsentrasi kepada agamanya, maksudnya lebih cenderung ‘mengurusi’ agama, yang lebih fokus pada hal-hal agama, yang selanjutnya, mereka tetep memengang ‘budaya’ dari agama itu berasal; merekalah yang petinggi-petinggi agama; yang sarat dengan penjagaan moral atau etika atau akhalak, yang lebih cenderung dekat penyucian jiwa terhadap godaan-godaan keduniawian. Sementara saya, adalah orang-orang pertengahan dari kegamaan; beragama iya, tapi tidak begitu. Begitulah.

Sehingga, karena keberagamaan itu terjadi dan mengumum di indonesia, maka pengetahuan agama bertebaran dimana-mana, yang secara otomatis, teringatkan dengan ‘keberagamaan’; tentang kepentingan agama, sebab sejak-dini telah tertanam beragama. Bersamaan dengan itu, realitas menawarkan pengetahuan yang lain, yakni sisi ilmiah; yakni pengetahuan ilmiah, pengetahuan yang berakar dari barat, yang itu sarat dengan pemikiran. Sarat dengan bukti-bukti ilmiah.

Perbedaannya tentu sangat jelas, jika agama, nilai adalah tentang dosa. Sementara pendidikan barat nilai adalah bukti. Bersamaan dengan itu; tentu keduanya penting dikaji, keduanya penting diketahui. Jika salah satu disingkirkan, tentu akan kurang diantaranya; sementara itu, kapasitas saya adalah orang yang ‘pertengahan’ dari keagamaan. Yang tentu, karena beralaskan kedua hal tersebut; harusnya para pelajar di indonesia harus lebih serius terhadap sesuatu dari keduanya, sehingga menjadi ilmiah yang beragama, atau beragama yang berkeilmiahan.

Ilmiah bukan menjadi sesuatu yang menakutkan karena itu kebutuhan untuk eksistensi.

Dan agama bukan menjadi sesuatu yang memberatkan karena itu kebutuhan esensi.

Jika pun ada masalah atau terjadi kontra-diantara keduanya buat manusia indonesia sekarang ini, tentu ini masalah lain; yang harus dibenahi bersama, karena seringnya diantara keduanya, inginnya (Atau) seakan berjalan sendiri-sendiri dan seakan-akan ‘membenarkan’ dengan klaim ‘benar’ yang dimilikinya, seakan lalai bahwa kita hidup bersama, dan kita hidup di daerah yang sama, yang itu kita beragama.

Pikirku—sambil saya berusaha mengindahkan tentang keagamaanku; sebab, ternyata saya lalai tentang ‘keagamaan’ saya sendiri—mengapa diantara kita tidak berusaha menampilkan ‘keindahan’ dari keagamaan masing-masing? Ingat, menampilkan keindahan, tentu, dibutuhkan ‘pengetahua’ tentang agama sekali lagi, artinya harus ngelotok tentang agama, sehingga baru bisa diindahkan; jika sebuah lukisan; maka untuk melihat lukisan yang bagus kita penting untuk mengetahui dasar-dasar dari lukisan.

Terakhir, tentu, para pelajar, bagaimana engkau merasa nyaman dengan keadaanmu—yakni tidak giat giat membaca, dan giat menulis, merangkum, tentang pelajaran-pelajaranmu—sehingga engkau mampu meluangkan waktumu untuk kegiatan yang itu bukan tentang belajarmu? Dan engkau merasa ‘khawatir’ saat diksi ‘ujian’ mulai tiba? Apakah engkau lalai bahwa ujian adalah tentang ‘pelajaran-pelajaran yang telah berlalu’? Apakah engkau lalai bahwa selepas ujian pun bakal datang ujian-ujian yang akan datang lagi? Ya! bagaimana engkau merasa nyaman dengan keadaanmu? Maka bersibuklah dengan ilmu, itulah statusmu, pelajar.

Belum ada Komentar untuk "KENDALA EPISTEMOLOGY MANUSIA INDONESIA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel