Selamatkanlah Keakuanmu, Baru Keakuan Yang Lain




Seberapa ambisi engkau ingin menyelamatkan dirimu? Aku tidak menyaksikan engkau tidak seantusius atau berambisi untuk menyelamatkan dirimu; bukankah sering kukatakan, “Selamatkanlah dirimu dulu, tatkala dirimu telah selamat, barulah engkau mampu menyelamatkan orang lain. Jangan gegabah atau terpikirkan untuk menyelamatkan orang lain, ketahuilah dirimu itu bagimu masih asing dan engkau tidak mengganggap bahwa dirimu penting diselamatkan.

Jika lidahmu berkoar tentang keislaman, maka koarkanlah untukmu—selamatkan keislamanmu.

Jika lidahmu berbusa tentang ekonomi, maka busakanlah dirimu—selamatkanlah ekonomimu.

Sudah jangan geger-geger menjadi humanis atau sosialis atau apalah yang berkaitan dengan keumumanan: ingatlah individualmu, sangat-sangat terkurangkan, penting untuk diselamatkan; sekarang, kalau bukan diirmu yang menyelamatkan, siapakah yang akan menyelematkan?

Jika katamu adalah Allah. Kataku, seberapa yakin kamu dengan Allah? Aku tidak melihat ‘keyakinanmu’ kuat kepada Allah; rasa imanmu tipis. Keislamanmu sering menompang pada lidah dan tubuh atau jasadmu tapi tidak sepenuhnya pada dirimu, yakni jiwa ragamu. Jika engkau orang yang beriman sungguh, tentu arahmu akan satu; kajianmu akan terfokuskan pada keislaman, dan engkau akan bersibuk dengan pengetahuan keislaman secara sistem yang tujuannya menguatkan keimananmu, namun sayang, realitasmu mengatakan bahwa engkau tidak seambisius itu untuk menyelamatkan keimananmu; bahkan untuk dirimu.”

Andai engkau berdaya diri untuk menyelamatkan dirimu, tentu engkau tidak mengizinkan lidah-lidah mencemooh dirimu. Tidak mengizinkan mata demi mata untuk menaruh belas kasih karena melihat realitasmu. Tidak mengizinkan setiap panca-indra untuk menghina dirimu; artinya, engkau berdaya diri untuk memuliakan kedirianmu, sehingga realitas akan menghormati dan menyanjungmu dan bahkan memintamu untuk meminta pertolongan.

Bukankah sejauh ini: engkau jarang dimintai pertolongan yang sungguh-sungguh kecuali mereka memanfaatkan sifat-kemauanmu?

Bukankah sejauh ini, jika ada orang yang nyeletuk minta pertolongan dan itu bukan sesuatu yang itu adalah menghormati dan menyanjungmu melainkan karena sifat-kemauanmu?

Engkau laksana budak realitas, dan diperbudak realitas dan engkau mau menjadi budak. Mengapa engkau tidak meninggikan dirimu di jalur ilmu; bukankah engkau mengetahui bagaimana cara untuk dihormati:

Janganlah banyak bicara, bicara seperlunya saja—tapi realitasmu bicara yang itu tidak seperlunya.

Janganlah banyak becanda, becanda adakala saja—tapi realitasmu malah sering becanda.

Sibukkanlah dirimu, keluar adakalanya saja—tapi realitasmu lebih mencari kesibukan yang itu bukan dirimu.

Oh sayang sekali engkau tidak persis layaknya pelajar yang benar-benar membutuhkan keilmuan; engkau laksana seorang yang tidak terpelajar dan malah sibuk dengan lidah-lidah yang timpali dengan diksi-diksi filosofis, engkau jelmakan dirimu menjelma Socrates dan bertanya-tanya tentang kemapanan dan kau tuangkan diksi filosofis pada realitasmu; sementara kenyataanmu, seorang pelajar, engkau abaikan dan engkau kurang mematuhi system dan pengetahuanmu acak-acakan—bukankah dirimu itu penting diselamatkan?

Ingatlah tokoh utama yang menjadi inspirasi besarmu, kanjeng nabi muhammad, bukankah beliau menanamkan ‘keakuannya’ sangat kuat sekali sehingga beliau disebut orang yang terpercaya dan syaratnya berbicara yang itu tidak menuruti nafsunya ingin bicara, sementara dirimu—sering berkata yang itu menurut nafsunya.

Yang kemudian, beliau, saat mempertahankan kuat-kuat imannya, maka beliau semakin menambah kuat tentang imannya dan iman itu letaknya di dalam diri: dan jangan beralasan, beliau itu kanjeng nabi, dan ketahuilah bahwa beliau pun manusia, Taufik, yang mempunyai sifat layaknya manusia lainnya, jangan alasan bahwa dia disebut nabi dan rasul sementara kamu manusia biasa. Ingat, beliau pun manusia biasa yang diberi wahyu, dan kamu, kamu bisa meniru beliau, kamu bisa belajar dari beliau.

Ketahuilah, saat beliau telah selamat dari keakuannya, barulah beliau mengabarkan kepada yang lainnya; artinya, telah tertanam kuat-kuat keimanan dalam dirinya barulah disampaikan secara umum. Selain itu, beliau pun telah selamat dalam hal ekonomi, barulah beliau menyampaikan apa-apa yang ditugaskan. Dan kamu, selamatkan keakuanmu; lejit dan kuatkan rasa ‘akumu’ sampai-sampai engkau benar-benar merdeka dengannya, barulah engkau sampaikan kepada yang lain.

Jangan gegabah menyampaikan kepada yang lain, sungguh telah ada yang diberi tugas untuk menyampaikan.

Dan tugasmu adalah menyampaikan kepada dirimu; mencari titik-fokus kesungguhan dirimu, tentang apa yang penting engkau selamatkan, yang tujuan utama: menyelamatkan jiwa dan ragamu. Apakah ini sangat individualis? Jawabnya; saat engkau kuat dengan individualis kelak akan kuat dengan sosialis. Begitu ya...

Belum ada Komentar untuk "Selamatkanlah Keakuanmu, Baru Keakuan Yang Lain"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel