Terbebani Kesosialan






Taufik, lihatlah dirimu, terlalu terpikirkan deras akan sesuatu yang disebut sosial dan itu terjadi karena engkau mulai masuk dalam kesosialan; engkau mulai melihat cacat-cacat kesosialan, sementara engkau sejak dulu lebih berada dalam goa pengetahuan yang dalam dan mencari berkas-berkas kebenaran; wal-hasil, saat engkau engkau memasuki dunia-nyata yang itu sarat dengan realitas, maka bersabarlah, dan tetaplah ingatlah tentang statusmu:

Siapa dirimu di mata sosial?

Adalah pemuda yang mencari arah tentang hidupnya, yang terlindungi dari cengkraman keluarga. Ingatlah itu Taufik. Saat engkau mulai payah menghadapi realitas yang sebenarnya, kembalilah dirimu pada duniamu; goa-pengetahuanmu, pupuklah kedukaanmu dan keberatanmu itu menjadi modal penambahan pengetahuanmu.

Dan ingatlah, apa yang engkau tawarkan dalam dunia-realitas adalah tentang apa-apa yang engkau galaukan terhadap hidupmu; bukankah harusnya engkau gembira karena menghadapi masalah yang itu sebenarnya engkau telah menjawabnya.

Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak galau dengan keadaan yang terjadi, hanya saja perwujudanku, atau pergerakanku harus melalui proses kegalauan, yang itu sebenarnya adalah tentang kegalauanmu, karena engkau merasa galau, karena engkau telah menjadi diriku, maka aku berdaya diri untuk menyelamatkan kegalauanmu sehingga aku harus sekali lagi merasakan galau yang dalam, lebih-lebih dalam hal ini aku yang menawarkan tentang kejelasan dan engkau menerima tentang tawaran kejelasanku dan walhasil engkau menjalani hidup yang serba kegalauan.

Ketahuilah, telah jelas dengan sungguh arahku; yakni arah islam, yang menyandarkan penuh atas nama islam, tapi ketahuilah, islam yang saya tawarkan bukanlah seperti islam yang telah terjadi pada lingkungan kita—maksud saya, saya melihat ada kesenjangan keislaman di tempat kita; dan islam menjadi keangkeran, dan agama menjadi sesuatu yang seakan-akan benar-benar ‘sakral’ dan terkhusus untuk orang-tua—islam yang saya tawarkan adalah sarat jalinan manusia dengan kemanusiaan yang lain; yakni menekankan prinsip yang sama, tanpa melalaikan keduniaan.

Saya melihat bahwa seakan islam itu tidak benar-benar terjadi secara realitas, melainkan islam sebagai organisasi keagamaan dan realitas (kenyataan) adalah kenyataan yang terlepas dari keagamaan, dan tujuan saya adalah lebih menyudutkan kepada islam yang sempurna, yakni islam yang menjalin, yang saling mengasihi, mendukung secara ruh dan tubuh; mendukung tentang eksistensi (keberadaan) manusia dan mendukung tentang esensi (jiwa) kemanusiaan.

Mendukung secara materi maupun ruhani. Tidak menjadi pisah-pisahan. Namun menjadi satu kesatuan yang teguh. Itulah yang hendak saya tawarkan.

Sayangnya, realitasku harus ‘menggalau’ dengan hal tersebut, hal tersebut, karena ‘kepemahaman’ kita belum sempurna, artinya, saya sendiri pun belum sempurna.

Secara ide, mungkin kepahaman saya mulai sempurna, namun secara realitas, saya belum sempurna, jauh dari sempurna. Bahasa lainnya, saya belum benar-benar mampu merealitaskan keislaman saya seterang-terangnya, sesempurna-sempurnanya; alasannya materi.

Apakah hal ini mengukur secara ekonomi belaka? Tidak!

Karena tekanan saya adalah lintas-sosial, maka jawaban utama berada dalam sosial. Masalahnya muslim-sosial, tentu jawabannya ada pada muslim-sosial. Yang pasti, pada dasarnya (landasan) saya telah kokoh bahwa saya menyandarkan islam, hanya saja belum sempurna. Oleh karenanya, saya membutuhkanmu. Membutuhkan dalam arti, membutuhkan kekoneksian pikiranmu terhadap prinsip kita. Begitu. Apakah bisa dimengerti? Kalau belum, tidak menjadi masalah.”

Begitulah taufik, karena kamu ditekan oleh status sosial, kembalilah kepada status asalmu; siapa dirimu? Adalah pelajar yang harus memenuhi tanggung jawabmu sebagai pelajar. Adalah seorang muslim yang harus menjalankan kemuslimannya. Adalah satu rakyat, dan berjualah untuk merayakyatkan dirimu. Apa itu tugas kerayakyatanmu?

Andaikata pemerintahan membuat keputusan, maka turutilah.

Andaikata engkau tidak sepakat dengan keputusan, maka masuklah dan benahilah.

Andaikata engkau mempunyai ide untuk rakyat, kabarkanlah.

Andaikata engkau mempunyai saran yang baik, berikanlah.

Namun, tetaplah tekankan pada status-keilmuan, sarjanakan dirimu, sempurnakan ilmu-kefilsafatanmu, sempurnakanlah ilmu-keislamanmu; ketahuilah, ilmu keislamanmu belum sempurna, ilmu kefilsafatanmu belum sempurna; maka berdayakanlah untuk menjalani kesempurnaan, bukankah engkau mengetahui bahwa telah merencana untuk menjadi sempurna hasilnya pun tidak sesempurna apa yang engkau rencanakan? Apalagi kalau tidak direncakan? Maka ingatlah itu taufik, status sosialmu; sungguh, jika realitas—pada akhirnya adalah ketetapan takdir milikmu—bagaimana engkau menghindar? Kalau pada akhirnya engkau harus bermukim di desamu, bagaimana engkau menghindar itu, Taufik? Bukankah engkau percaya kepada-Nya yang telah menakdirkan semua? Ya! Pada akhirnya, kembalikanlah segala urusan kepada-Nya, yang pasti engkau telah berencana. Begitu ya!

2017

Belum ada Komentar untuk "Terbebani Kesosialan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel