TENTANG GAIRAH PENCARIAN KEAKUAN




Tidak semuanya tergairahkan untuk mencari dirinya sendiri, kecuali telah digariskan bahwa dirinya harus ‘mencari dirinya’ sendiri, yang itu bisa juga disebabkan oleh kehadiran sosok-manusia yang mendorong dirinya untuk mencari keakuan. 

Maksud saya, saya awalnya tidak berusaha untuk mencari ‘keakuan’ saya, namun, seiring perjalanan waktu, saya dipertemukan seorang yang itu ‘membimbing’ untuk mencari keakuan. Membimbing bukan berarti laksana anak kecil yang dibimbing langkah-langkahnya untuk berjalan; bukan seperti itu. namun membimbing yang itu si dia adalah menjadi ‘pencurahan’ tentang keresahan atau kegalauan saya karena sesuatu yang saya pikirkan. Dan maksud dari sesuatu yang saya pikirkan adalah tentang ‘bagaimana saya berpikir’, mengapa pemikiran saya menjadi seperti ini: menjadi tidak jelas, yang seakan-akan tidak menyerupai manusia-manusia yang lain, melainkan menjadi aneh bagi manusia yang lain—itulah anggapan saya waktu itu. laksan amenjadi manusia aneh dan berbeda dengan manusia lainnya, yakni dengan cara mencari keakuannya.

Sering saya tanyakan, kepada saya sendiri, ‘mengapa saya harus mencari ‘kesayaan’ saya? Apa yang saya harap dari mendapati ‘kesaayaan’ saya? Apa yang spesial dari kesayaan saya? Dan mengapa saya tidak biasa keluar dari pertanyaan ini: pertanyaan macam apa yang mengikat di dalam diri saya sehingga harus sering saya tanyakan.’ 

Maka sejak saat itu, saya sering mengurai-urai atau merenungkan tentang perjalanan waktu, merenungkan tentang perwaktuan saya; dan ternyata, selama proses itu, saya menjalani ‘proses’ pencarian yang mana realitas saya terus berjalan. Kenyataan terus saja berjalan. Maka saya laksana terjebak di dalam rimba kedirian, dan seakan menolak realitas; sebab, bagaimana saya menerima kenyataan sementara saya belum mengetahui kesayaan saya? Sekali pun belum ketemu, tetap saja saya menjalani realitas. Menjalani kenyataan; bersama dengan menjalani itu, maka saya laporkan ‘perkembangan saya kepada orang yang mengantarkan saya utuk mencari kesayaan saya’ dan dengan itu, maka dia di sebut dengan guru. Orang yang menjadi pemandu untuk mengenal kedirian.

Selanjutnya, jika dipertanya, apa yang didapatkan atau manfaat dari mendapatkan kesayaan?

Jawabnya, tentu lebih lega dan menerima tentang kesayaan saya, menerima tentang bagaimana diri saya, bagaimana sejarah saya, bagaimana orang-orang yang mempengaruhi saya menjadi seperti ini, dan mengetahui ‘saya-saya’ yang lain, yang itu adalah tentang kemanusiaan. Hingga kemudian, menjalani hidup selayaknya manusia biasa, yang berusaha untuk lebih mengarah kepada manusia yang baik, karena pada dasarnya, manusia berusaha mengarah ke yang baik.

Wal-hasil, kegairahan untuk mencari keakuan itu tidak bisa dipakasakan dari kehendak diri sendiri, sehingga menemukan seseorang yang membimbing untuk mencari kediriannya; sebab, jika diri sendiri yang memaksa untuk mencari keakuannya, maka hal itu saya sebut dengan ‘pemaksaan diri’ untuk mengetahui kediriannya, bahasa lainnya, belajar yang tidak mempunyai guru. 

Jika dipertanya, apakah penting mempunyai guru? Dan bagaimana kita memilih guru untuk mengantarkan atau menemukan proses pencarian ‘keakuan’?

Jawabku, tentu penting mempunyai guru, sebab tanpa adanya seorang guru, akan sulit mendapatkan ‘bimbingan’ terhadap sesuatu yang dialaminya; guru di sini berperan laksana dokter, yang mengerti ‘tempat’ atau makom yang dialami si murid. Kemudian, apakah penting memilih guru dan bagaimana ukuran-ukuran guru tersebut untuk dikatakan guru? Jawabku, melalui pengalamanku, juga pengalaman atau pembacaan sejarah; seperti kanjeng nabi atau murid-murid yang datang ke pondok pesantren, awalnya memang dipilihkan dari orang tua untuk didekatkan kepada guru: maka tentu hal itu tidak bisa dipilih, tapi telah ditakdirkan untuk dekat dengan guru. Yang kemudian diteguhkan dengan ‘kepercayaan’ murid kepada guru, maka tentu dengan itu secara otomatis menjadi klaim, bahwa itu adalah gurunya. 

Jika awalnya guru tersebut tidak mengantarkan kepada pencarian keakuan, maka tetap penting untuk melaporkan tentang keakuannya, tujuannya lebih mengikatkan ‘pemikiran’ atau ‘jiwa’ kepada guru. Apakah itu yang disebut dengan pemikiran atua jiwa yang dimaksud?

Jawabnya, guru bertugas sebagai tempat curahan terhadap sesuatu yang dialami murid. Bukankah sesuatu yang dialami murid adalah sesuatu di dalam dirinya, yang tatkala diwujudkan secara nyata; atau teks, nyata. Atau dibentuk menjadi ‘bahasa’ menjadi bahasa yang biasa dan normal. Misal,

Kataku, “Guru, sungguh sekarang aku menjadi aneh karena pencarian keakuan. Padahal saya menyadari bahwa sudah semestinya saya mengetahui keakuan saya. Namun anehnya, saya tidak paham dengan keakuan saya. Sesungguhnya apa yang terjadi dengan saya?”

Jawab guru, “Yang terjadi denganmu, tentu proses pencarian keakuanmu.”

Kataku, “Lantas bagaimana mencari jalan keluar dari apa yang terjadi denganku?”

Jawab guru, “Sabar saya ya. Hal-hal semacam itu tidak bisa dijawab dengan cepat dan gesit, penting waktu. Begitu ya...”



Akhirnya, kegairahan atau semangat mencari keakuan itu dialasi atau didasari oleh sebab-sebab yang hasilnya, adalah menemukan tentang keakuannya. Demikian.

Belum ada Komentar untuk " TENTANG GAIRAH PENCARIAN KEAKUAN"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel