Nasihat: Tentang Zamannya Keakuan





Bukankah engkau telah membaca zaman, bahwa zaman sekarang mengarahkan perwujudan untuk menyatakan: Aku! Aku! Aku!

Begitulah zaman sekarang, Fik, oleh karenanya aku pun menganjurkan dirimu untuk menujukan keakuanmu, sebab kalau engkau tidak menunjukan keakuanmu, jadilah engkau tidak kelihatan dimata keumuman; engkau bukanlah siapa-siapa dimata keumumanan, sebab keumuman sering menampilkan keakuan, makanya aku menganjurkan keakuanmu. Supaya engkau mengakukan keakuanmu:

Siapa dirimu?

Apa pengetahuanmu?

Apa incaranmu?

Maka janganlah engkau rugi atau tidak berani mengakui keakuanmu, karena memang zaman sekarang adalah zaman keakuan. Orang-orang berdaya diri untuk mengakukan keakuan, maka kalau engkau tidak mengakukan keakuanmu, jadilah engkau yang tidak-ada bagi keumanan yang sibuk dengan keakuannya.

Jika engkau bertanya, apa yang menyebabkan orang-orang berdaya ingin mengakukan keakuannya?

Jawabnya, karena teknologi dan lesatan pengetahuan. Karena mempunyai teknologi, maka adanya pembicaraan:

Ini adalah milikku.

Itu adalah milikku.

Apakah engkau telah paham dengan apa yang aku sampaikan, Taufik? Jika engkau paham, maka ‘lesatkan’ keakuanmu.

Jika engkau bertanya apa itu keakuanmu?

Jawabku, apakah itu tidak keterlaluan engkau bertanya kepadaku tentang keakuanmu? Tidakkah engkau tidak siapa dirimu? Apa-apa saja bekas-bekas perjalanan waktumu? Apa saja pendidikanmu? Entah itu formal atau pun formal? Tidakkah engkau punya keluarga? Dimana saja tubuhmu berada? Bertemu dengan siapa saja dirimu? Begitulah keakuanmu.

Pastilah engkau telah membaca sendiri tentang keakuanmu! Jangan payahkan diriku untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya engkau telah mengetahui jawabnya; sungguh engkau adalah orang yang berpengetahuan tentang keakuan!

Jika engkau memaksa aku menjawab keakuanmu, maka jawabannya:

Engkau adalah manusia, mahluk yang berpikir. Engkau mempunyai sifat-sifat yang hewan miliki. Dan engkau adalah mahluk yang dibekali dengan akal, yang dengan akal, engkau mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah; yang dengan akal engkau mampu menjadi laksana binatang dan bahkan mampu melampaui sifat-sifat kebintangan. Apakah engkau tidak mengetahui sifat-sifat binatang?

Apakah engkau ingin bertanya, “Apakah sifat-sifat binatang yang melakat pada diriku?” lalu akan kujawab:

Apakah engkau tidak memperhatikan binatang? Apakah engkau malas berpikir tentang sifat-sifat binatang? Yang ingin berkuasa, ingin menang, mengajuhkan kekuatannya, yang ingin terkenal karena kekuatannya; ingin mencari makan dengan mudah, ingin meniduri siapa saja, ingin bebas tidak terikat waktu, ingin bebas ke sana kemari. Ingin-ingin dan ingin. Bukankah begitu sifat-sifat kebinatangan?

Tapi ketahuilah, binatang itu diberikan nafsu tanpa akal, sementara manusia itu dibekali nafsu dan akal: maka gunakanlah akalmu, gunakanlah akalmu untuk menundukan nafsumu. Apakah harus ditundukkan atau dipadamkan? Tidak! Manusia itu membutuhkan nafsu, yang pasti, ketahuilah kenafsuanmu, pahamilah kenafsuanmu, jika engkau kepayahan terhadap hal tersebut, laporkan kepada Kiai-Kiai, sebab kiai-kiai telah terbiasa mengaji hal tersebut: jika engkau bertanya, kiai siapa? Sungguh, engkau melihat kiai mana yang berdaya diri mengerangkengkan kenafsuannya. Sungguh, engkau mengetahui kepada siapa engkau mendekati.

Yang pasti, sudahkah engkau memahami keadaan zamanmu, begitulah keadaan zamanmu; ya! Setelah engkau mengetahui, kalau engkau belum memahami, lihatlah sekali tentang keadaan zamanmu, yakni keadaan lingkunganmu, keadaan dirimu: sungguh engkau adalah cermin dari lingkunganmu.

Dan untuk menghidupi dirimu, maka engkau penting mengakukan keakuanmu, sekali lagi menunjukkan ‘keakuanmu’: bukankah sejauh ini engkau memburamkan keakuanmu? Lebih menutupi maksud dan tujuan dari keakuanmu? Maka keluarlah berserta sifat-sifat keakuanmu. Tancapkan dalam dirimu: inilah aku. Aku inilah. Inilah milikku. Inilah pengetahuanku. Aku adalah milik-Nya. Milikku adalah milik-Nya. Pengetahuanku adalah pengetahuan milik-Nya. Begitu ya… bukankah engkau berpengetahuan islam, maka terapkanlah pengetahuanmu tersebut: sungguh, perjalanan waktumu tidak sia-sia, karena perjalanan waktumu menggiringmu menjadi seperti sekarang ini, oleh karenanya, jangan lalai untuk senantiasa belajar; dan ingatlah, belajar itu tidak ada waktu habisnya, tujuannya demi menyempurnaan keakuanmu: keakuanmu yang itu adalah milik-Nya.

2017

Belum ada Komentar untuk "Nasihat: Tentang Zamannya Keakuan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel