Dunia pendidikan: Uang dan Pelajar

Di abad 21 ini, manusia Indonesia semakin diramaikan oleh internet. Dapat dikatakan, di tahun 2018 ini, semakin marak lonjakan perihal internet, malah bahkan mulai mengambah di pelosok (Ya! Pelosok negeri) negeri.  Tradisi pelosok, atau tradisi desa adalah tradisi pertanian dan kerja realitas-fakta. Ketika ditompangkan akan technology, kemudian tentu saja sangat-sangat mempengaruhi sosial.  Arahnya, tentu saja kemajuan. Namun pada satu sisi, kemanusiaan itu semakin sulit menentukan arahnya: arah yang sebenarnya dari proses kehidupan.

(Memang kalau dikatakan arah kehidupan adalah menjalani kehidupan yang berlaku. Menjalani proses hidup dengan rangkaian masalah yang menyertainya. Itu suatu kewajaran perihal kemanusiaan.)

Proses kehidupan, tergegap gempita untuk hal-hal materi. Untuk kepentingan sesuatu yang arahnya adalah materi. Bahasa kasarnya, uang. pemikiran laksana terseting dengan sesuatu yang disebut uang.

Uang menjadi alat yang sangat mujarab dan bahkan sangat ajaib. Dengan uang maka seakan  mampu mendapatkan segalanya. Dengan uang, bisa mengantarkan menuju ‘kebahagiaan’—alih-alih seperti uang. dengan uang maka mampu menimalisir kedukaan yang dialami kehidupan. Dengan uang maka bisa memuaskan rasa kemanuisaan. Bisa memiliki ini dan itu. bisa menjangkau ini dan itu. bisa mengumpulkan ini dan itu. bisa, bisa, bisa yang lainnya.

Hal itu juga yang dialami pelajar. Pelajar pun bergegap gempita untuk mengumpulkan uang. alih-alih membantu orang tua untuk membiayai sekolahnya. Alih-alih membantu orang tua untuk membiayai kebutuhan hidup. Sebab kehidupan manusia di era internet adalah sarat akan kebutuhan, gegap gempita akan kebutuhan. Banyak hal yang dibutuhkan.

Kebutuhan untuk memiliki alat-alat teknologi. Kebutuhan untuk mampu pelsiran. Kebutuhan untuk makan. Kebutuhan untuk kontrakan. Kebutuhan untuk nongkrong dengan teman. kebutuhan untuk memanjakan diri, berkunjung ke satu tempat ke tempat lain. Kebutuhan untuk bensin. Kebutuhan untuk pacarnya. Kebutuhan untuk menghadiahi teman yang akan wisuda. Kebutuhan untuk teman yang lagi ulang tahun. Kebutuhan untuk kuota. Kebutuhan untuk ganti gadget yang baru.

Tapi apakah ada kebutuhan untuk ngoleksi buku? Kebutuhan untuk membaca buku? Kebutuhan untuk konsentrasi kepada pelajarannya? Kebutuhan untuk interaksi dengan gurunya? Kebutuhan untuk hapalan? Kebutuhan untuk menjadi manusia yang berstuskan pelajar? Kebutuhan untuk mengenal lingkungan? Kebutuhan untuk mengenal sejarah negaranya? Kebutuhan untuk mengenal dunia?

Sayangnya, ketika saya mengamati teman-teman saya, juga mengamati diriku juga, kebutuhan itu laksana tidak ada. sedikit sekali yang konsentrasi terhadap kebutuhan-kebutuhan yang itu untuk status pendidikan. Untuk status pelajar.

Pelajar terasa asing dengan pelajarannya, keumumannya begitu: andaikata tidak begitu, tentu saja, untuk kuota Indonesia, pastinya menjadi Negara yang sarat dengan keunggulan, keunggulan moral yang tinggi. Sebab nilai-keagamaan sangat-sangat dijunjung tinggi di Indonesia. Agama sangat berlaku di Indonesia. dan orang-orangnya, tentu, bakal menjadi manusia yang sarat dengan pendidikan. Sarat dengan kesibukan pendidikan.

Pelajarnya tidak sibuk untuk mengawasi komik demi komik (saya juga bagiannya. Bagian yang mengawasi komik demi komik. Menonton animasi berepisode demi episode.), nonton film yang mudah di download, entah itu film Holywood sampai Film Bolywood atau bahkan nonton film korea. Atau bahkan, mengamati tiap-tiap lagu, atau film Indonesia. Hal-hal hiburan itu, menjadi sesuatu yang istemewa (Termasuk bagiku) yang kemudian tersimpan erat di dalam pikirannya. Pikiran si pelajar, yang semestinya, pelajar itu konsentrasi dengan pelajarannya. Konsentrasi untuk menghafalkan dan mengulang-ulangi pelajaran, sehingga pelajar terbiasa dengan soal-soal pada bidang yang dipahami. Dengan seperti, maka pelajar akan sibuk pada sesuatu yang dipelajari. Artinya, pelajar menjadi ahli dengan apa yang dipelajari. dengan menjadi ahli, maka pelajar tidak merasa terherankan dengan sesuatu yang itu disebut dengan kehidupan.

Namun kenyataanya (Agaknya ini menyeluruh: atau hanya pada lingkunganku belaka?) pelajar tidak semuanya ‘gembira’ dengan apa yang dipelajari. Pelajar tidak merasa ‘senang’ dengan apa yang dipelajari. sehingga mereka membutuhkan sesuaut yang itu disenangi: yakni hiburan. Dunia hiburan.   Pelajaran adalah fakta yang kesannya membosankan dan jarang bicarakan di public, kalaulah dibicarakan dipublik kesannya, malah untuk kepandaian.  Kesannya pamer tentang pandai. Namun ketika ditanyakan perihal hiburan, maka pelajar akan sangat gembira sekali menguraikan, mengungkapkan, seoalah-olah pelajar itu sangat senang sekali dengan sesuatu yang disebut hiburan. Hiburan itu malah menjadi sesuatu yang serius. Keseriusan (pelajaran) malah menjadi sesuatu yang itu hiburan.  Hiburan buat akalnya.

Apalagi kalau pelajar ditawarkan perihal uang, pastilah bergegap gempita senangnya. Sangat-sangat senang sekali. Kesenangan mereka, yang kemudian ditujukan untuk makan-makan yang enak, yang mempunyai nama (logo), dan bersenang-senang, atua ditujukan untuk pelsiran atau kebutuhan-kebutuhan yang telah saya ungkapkan diatas. Dan itu, di tempat kita, Indonesia umumnya, adalah terbiasa, terumumkan. (dan saya enggan membandingkan teori dengan Negara lain, karena yang saya bicarakan ialah tentang sesuatu yang itu juga menyertai saya. Suatu kondisi  yang mana saya ada di dalamnya; yang melihat, merasakan, juga berinteraksi) dan para pendidik (setidaknya orang-orang yang berupaya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Berupaya yang benar-benar mengupayakan mencerdaskan) berupaya merubah ‘keumuman’ itu agar tidak umum; yakni mengembalikan pelajar sebagaimana pelajar, dan mengembalikan fungsi pengajar sebagai pengajar. Sebabnya, di zaman ini: kendala itu terjadi, bukan saja karena pelajar, namun pengajar dan seting sosial.

Di eropa, orang-orang bangkit dengan gaya teori kritisnya. Sebenarnya tidak bangkit yang seperti itu. Melainkan alat kritik. Kritik yang sarat dengan permenungan, dan seluruh tutorial pengetahuan.


Kritik Sekedar Kritik Atau Kata Sekedar Kata

Namun kalau kritik sekedar kritik, maka jadilah kritikan belaka. Tidak menjadi sesuatu yang itu berguna guna meluruskan niatan untuk pelajar. Semestinya kritik itu yang membangun, juga menyertakan. Atau bahasa lainnya, seperti halnya yang telah didengungkan oleh menteri pendidikan pertama Indonesia dengan gaya metode taman siswanya. Untuk mengenal lingkungan, untuk mengerti bahasa lingkungan, dan untuk mengerti kondisi lingkungan. Selain itu, para pengajar: inilah yang menjadi teladan.

Namun, kalau kata sekedar kata, tentu saja sekedar menjadi kata. artinya, teori di Indonesia, telah ramai. Saya meyakini itu. teori itu berlimpah. Namun orang yang ‘mempunyai’ teori, seringkali, dan mungkin umumnya, sekedar ‘bangga’ dengan teorinya, dan mencari titik aman dari teori tersebut.

Hal-hal semacam itu, bisa di lihat pada lembaga pendidikan. Cobalah diperhatikan dengan seksama: sekali lagi, lebih lama, lebih dalam. Sesungguhnya apa yang terjadi pada pendidikan kita? Apa yang terjadi pada para pengajar dan para pelajar. Kebanyakan dari itu, sekedar menerima alur yang terjadi.

Sekolah sekedar sekolah. Karena tuntutan untuk sekolah. Padahal semestinya, sekolah untuk cerdas individu, untuk cerdas secara individu, yang kelak, ketika dewasa bakal menemui realtias yang praktis yang harus bertemu dengan individu-individu lainnya: sayangnya, yang terjadi hari ini (mungkin sekedar penangkapanku belaka) keitka ada orang yang  cerdas secara individu, ia sekedar menaikkan dirinya untuk individunya, lupa bahwa ada individu lain yang penting ditolong bersama: yakni untuk cerdas bersama. Karena dia merasa berat dengan kasus itu, maka yang ada: mementingkan individu. Sebab pada dasarnya hidup itu adalah individu.

Semestinya dari pihak sekolah (lembaga) menata dengan baik, bahwa tujuannya (Sebagaimana yang tertera pada tujuan) adalah mencerdaskan. Namun seringkali, tujuan itu sekedar kata yang dipajang. Sekedar teori yang ditempel. Sekedar sesuatu yang diagungkan. Kalaulah di sidang, maka jawabnya:

“Aku telah melakukan seperti apa yang tertera. Aku telah menjalankan sebagaimana tugasnya.”

Begitulah zaman seperti sekarang ini, di zaman melek technology, melek tranportasi, manusia gegap gempita dengan materi, dengan sesuatu atas nama uang: jauh lebih parahnya, hal itu menjangkit kaum pendidikan. Berada di pendidikan.

Lalu bagaimana jawabnya:

“Dengan kekuasaan, orang-orang menggerakan untuk kesadaran. Kesadaran bahwa murid adalah anak. Murid adalah mengikuti jejak gurunya. Guru siap mendidik murid. Guru siap diikuti murid. Jika guru itu buruk, maka buruk pulalah muridnya.”

2018

Belum ada Komentar untuk "Dunia pendidikan: Uang dan Pelajar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel