Tujuan Utama Menuju Timur Tengah (Haji)


Kematian Bapak saya, Mbah Kakung Kaji Kasmuri, yang di Mekah, menjadikan diri saya untuk turut serta menuju Timur-Tengah. Menjadikan pemikiran saya untuk terus menerus memikirkan mekah, sebab setiap kali ‘kejadian’ haji, atau bulan haji, saya selalu diingatkan akan kematian Bapak. Wal-hasil, ketika orang berbicara tentang haji, maka disaat itulah saya teringat akan ‘ketiadaan’nya.



Sebabnya ketika orang ngobrol kehajian, disitulah Bapak saya disertakan, ‘O bapak kamu yang meninggal di mekah itu.’ Dengungan kalimat itu bertahun-tahun masih didengungkan. Masih mengudara. Sekali pun kematian Bapak saya sudah bertahun-tahun (meninggal tahun 2010) namun dengungan itu masih ‘ngiang’, karena kabarnya, 3 hari sebelum kepulangan jamaah haji, bapak saya tinggal nama. 



Kepulangannya meninggalkan nama, yakni Mbah Kakung. Julukan buat cucu-cucunya.



Dan sekarang pun, saya masih ‘terinsipasi menuju Timur-Tengah’; bahkan dulu, saya sempat gayanya termaiakkan menuju timur-tengah, yakni Sudan. Suatu tempat yang disana bahasa kesahariannya adalah fusho. Bahasa fusho adalah bahasa arab sebagaimana di kitab-kitab. Itu kata, Pak Abdurahman; seorang dosen di UIN Lampung, yang kuliah di Sudan. Sayang sekali, ‘ambisi’ saya tidak mampu bertahan. Saya kurang syarat yang amat banyak. Sangat banyak. Hal itu, sebenarnya ‘ambisi atau nafsu’ menuju timur-tengah sementara ‘keadaan’ saya, atau rutinitas saya tidak mencerminkan sekali atau bergiat menuju timur tengah.



Sudah pasti, disaat kita berkehendak menuju timur-tengah ada syarat-syarat yang penting didengungkan. Pertama, hafal al-quran, seminimal 5 juz. Kemudian, mampu berbahasa arab. namun sebenarnya itu adalah syarat. Yang paling utama adalah orang itu menyukai keilmuan; sebab, bakal mencari ilmu yang itu sangat-jauh dari tempat tinggal. 



Bertahun-tahun kehidupan saya kurang jelas akan tujuannya, sekali pun sebenarnya tujuan utama saya jelas: yakni jazirah arab, atau timur-tengah, atau kehajian. Namun karena diri saya agak bandel perihal keilmuan, wal-hasil menjadikan diri saya harus berjibaku dengan sesuatu yang itu berkaitan dengan fakta dan pencarian diri secara komplit. Bahkan mencari diriku sendiri. bahkan mencari tujuan diriku sendiri. 



Sekarang, saya temukan itu. semakin jelas dan semakin fakta. Yakni tujuan utama di timur-tengah, jazirah arab. caranya adalah melalui lembaga-pendidikan, yang bertujuan tentang timur-tengah, yang tentunya ketika sudah sampai di timur tengah, bakal menunaikan ibadah haji. Itulah pikirku, mengirim murid menuju timur-tengah. Caranya menciptakan masyarakat (guru-guru) untuk turut serta melibatkan diri menuju timur-tengah. Ya! Bagaimana murid mampu mencapai timur tengah jika gurunya tidak mengetahui bahkan memahami ilmu-ilmu yang berhubungan dengan timur-tengah.



Itu sebabnya perlunya kurikulum yang dirancang sedemikian rupa, lalu tatanan kemasyarakat yang demikian rupa, yang berdaya diri mengirimkan murid-murid sampai menuju timur-tengah. Selain itu, gayaku, gaya pemikiranku: orang-orang juga tidak melupakan akan dasar manusia yang mempunyai ‘keahlian’ dan menyukai segala-sesuatu yang berkaitan dengan kesenian serta kemasyarakatan: artinya murid memang penting diarahkan pada Timur Tengah, namun murid juga jangan sampai terjebak pada ‘arabisasi’, melainkan harus menjadi ‘islamisasi’. 



Artinya orientasi utama adalah menuju timur-tengah (haji) yang itu lewatnya jalur pendidikan. Pendidikan yang mempunyai tatanan kurikulum menuju timur tengah. Berserta dengan itu, harapanku, yang di desa wargomulyo banyak orang yang bisa terhadap ‘keagamaan’ akan membuka pondok-pondok pesantren. Artinya, bila pun di desa wargomulyo sibuk dengan pengetahuan, namun jangan dijadikan pada kontrakan. Saya kurang setuju jika pelarian ini menghasilkan kontrakan, namun berharap menjadi pondok-pondok pesantren; yang mana ada interaksi antara murid, guru dan mejid. Dan masyarakat yang sekarang: tentu saja, menjalani kehidupan sebagaimana biasanya. Tidak ada yang berubah. Yang berubah adalah paradigma, bahwasanya orang-orang siap mendukung anak-anak menuju jazirah arab. menuju mekah.



Tapi itu sekedar gagagasan, kalau tertolak atau tidak telaksana. Saya tidak akan kecewa. Pikirku, itu adalah rencana, Tuhanlah yang memutuskan. Manusia bisanya merencana, setelah itu Tuhanlah yang menakdirkan. Demikian.





2018

Belum ada Komentar untuk " Tujuan Utama Menuju Timur Tengah (Haji)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel