Jalaludin Rumi dan Sastra



Bagi yang menyukai jalan-cinta atau mistisme, besar kemungkinan mengerti tentang sosok satu ini, Jalaludin Rumi, yang kata-katanya adalah seorang penyair mistikus terbesar, konon begitu. Dan seorang ahli tariqat (ahli berjalan),  yang kemudian jalannya itu membentuk aliran tersendiri. Konon, ada aliran tariqah yang bernama maulawiyah.


Jalaludin Rumi dan Sastra Cinta


Kecenderungan pengetahuan tentang Jalaludin Rumi ialah tentang teks-teks sastranya, sastra yang  erhubungan dengan cinta. Banyak yang bertebaran perihal sastra cinta dari jalaludin rumi. Atau kalau kita membaca jalaludin Rumi, besar kemungkinan membaca sastranya. Membaca sajaknya. Membaca puisinya. Orientasinya begitu, walaulah disisi lain, ada juga sentral yang lebih utama.


Sufistik dan Upaya Pendekatakan Kepada Tuhan


Si pembaca sastra dari Jalaludin Rumi, besar kemungkianan adanya kecenderungan 'mendekatkan' diri kepada Tuhan, dengan pola pembacaan teks. Pembacaan sastra. Pembacaan sajak. Pembacaan Puisi. Dengan membaca puisi, maka si pembaca seakan larut dalam teks. Si pembaca seakan terbawa oleh teks.
Malah bahkan, si Pembaca seakan adalah pelaku dari teks. Dan ada dugaan-dugaan dengan membaca adalah upaya untuk 'ibadah' dengan cara yang lain: yakni membaca. Yang perlahan-lahan, dari pembacaan itu seakan si pembaca mengikuti kata-kata yang ditawarkan. Sebab, kecenderungan utama para penyair:


Cinta Universal dan Pemahaman total terhadap Realitas


Si pembaca berdaya diri untuk mengikuti pola cinta universal di dalam dirinya, di dalam pikirannya, walau sesaat, tetap saja adanya upaya untuk cinta universal. Walau bisa jadi, pada suatu kondisi-fakta realistis, pembaca itu kemudian mengabaikan dari apa-apa yang telah dibacanya. Namun, keterngiangan akan nama
Jalaludin Rumi baginya masih meresap. Karena ketika membaca dulu, adalah upaya untuk penerapan terhadap apa yang dibaca. Bisa jadi, di dalam kenangan pembacaan seperti ini:

Jalaludin Rumi adalah sosok penyair yang hebat perihal cinta, dan bahkan kedekatan dengan Tuhan melalui medium sastra, yakni sajak atau puisi.

Jalaludin Rumi adalah mistisme besar di zamannya dan pengaruhnya sampai sekarang, hal itu terbuki dengan maraknya teks-teks yang berhubungan dengannya.

Jalaludin Rumi adalah bagian dari orang yang mempengaruhi pola pemikiranku, karena saya membaca teks-teks yang berhubungan dengannya serius dimasanya.

Jalaludin Rumi adalah sufi, dan saya tertarik perihal tema kesufiaan lantaran saya membaca teks-teks yang ditawarkan jalaludin RUmi, walau saya sembunyi-sembunyi menampakkan kesukaanku kepadanya.

Jalaludin Rumi adalah bagian untuk modelku berpikir, sekurang-kurangnya tentang cinta universalnya, karena saya sama-sama seniman dan menyukai hal-hal yang berhubungan dengan keuniversalan.


Banyak yang Membaca Teks-teks Jalaludin Rumi dan Saya adalah Bagiannya


kebanyakan orang yang membaca Jalaludin Rumi karena sebagian orang mulai menerjemahkan (mengalih-bahasakan) ke dalam bahasa indonesia. Sehingga orang bisa membaca teks-teks Jalaludin Rumi, termasuk saya. Dan tujuan para penerjemah itu, bisa jadi, pertama karena ketertarikan dengan jalaludin RUmi, atau kedua seorang satrawan yang kemudian berusaha untuk menguatkan sastranya dengan cara menerjemahkan karya Jalaludin Rumi, termasuk Abdul Hadi WM atau Haidar Bagir selaku direktur Mizan yang orientasinya menerbitkan teks-teks keislaman yang orientasinya adalah tasawuf; Dan Abdul Hadi WM seringkali menulis perihal sastra sufistik, alasannya beliau sendiri adalah seorang sastrawan yang kecenderungan sastranya lebih dominan perihal ketuhanan.

Dengan menerjemahkan maka sekali lagi lebih lama berinteraksi dengan pemikiran Jalaludin Rumi; sebabnya, saat menerjemahkan adanya upaya pembacaan sekali lagi dan referensi-referensi yang lain tentang Jalaludin Rumi. Karena adanya teks-teks tentang jalaludin Rumi, maka orang bisa membaca saya bagiannya. Dengan membaca, sekurang-kurangnya mengetahui.


Pembacaan dan Kesejenakan Untuk Mengerti


Dengan membaca maka ada upaya untuk mengerti, walau kualitas mengerti itu adalah relatif. Namun sekurang-kurangnya, mengerti. Saya sendiri, membaca teks-teks Jalaludin Rumi tidak begitu menyeluruh, namun sering. Membaca tidak menyeluruh namun terus menerus, walau kadang-kadang. Saya menyukai karena sejak awal pembacaan--sebenarnya saya bukanlah tipe yang rajin membaca secara perbukuan, saya rajin membaca iqro dan al-quran-- perbukuan senantiasa identik dengan pembacaan sastra-sufistik dan spritual; karena Jalaludin Rumi termasuk bagiannya, maka saya membaca.

Karena membaca maka sejenak saya mengerti, mengerti yang tidak begitu banyak, layaknya keping-keping, namun saya terus menerus membaca; karena namanya, Jalaludin Rumi itu, seakan begitu ngiang bagi pemikiranku. demikian

2018

Belum ada Komentar untuk "Jalaludin Rumi dan Sastra"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel