KH. Ahmad Buchori Masruri: Bapaknya Pak Haidar Buchori


KH. Ahmad Buchori Masruri--Dia adalah Bapaknya Pak Haidar Buchori. Kiprahnya saya kurang detail mengetahui, bila pun ingin mengetahui tentang beliau, searching saja langsung di google atau lainnya, pastilah mendongol perihal Mbah Buchori ini. Apalagi puasa kemarin meninggalnya, maka berita tentang Mbah Buchori ini agak ramai. Sekurang-kurangnya begitu. Dan disini saya akan menceritakan tentang sepengetahuanku dengan Mbah Buchori ini:

Saya mengetahui tentang Mbah Buchori ini sejak saya mulai ‘merindukan’ kabar dari Pak Haidar, lalu iseng-isenglah saya mencari tentang Pak Haidar, dan kemudian menemuilah tentang Mbah Buchori ini (Pola pencarian ini yang kemudian bersamaan juga dengan menemukan nama yang lain, yakni tentang Mbah Maimun Zubair, gurunya Pak Haidar. Sebab tujuan saya adalah mencari informasi tentang Pak Haidar, dan ndilalah yang ndongol itu antara Mbah Buchori dan Mbah Maimun Zubair).

Sebab tujuan saya ialah Pak Haidar, dilalahnya saat saya mendengarkan ceramahnya Mbah Buchori ini, suaranya mirip dengan Pak Haidar, ini menurut telinga saya.

Suara dan gaya bicara Pak Haidar itu mirip dengan Bapaknya, Mbah Buchori. Ketika mendengar ceramahnya saya merasa ‘asik’, asik karena seakan mendengar suaranya Pak Haidar. Walau pun suaranya agak mirip, namun entah-mengapa telinga saya kurang puas kalau belum mendengar suara Pak Haidar. Sekali pun sebenarnya mendengar pun lewat HP.



Mendengar suaranya bagiku itu senang. Yang dimaksud senang adalah sesuatu yang menyegarkan buat otak saya, walau mungkin sesaat, dan kemudian ‘masalah-hidup’ itu muncul lagi. Namun sekurang-kurangnya agak fres ketika mendengar suara Pak Haidar. Itulah mengapa kadang saya perlu nelpon Pak Haidar: tujuannya mendengarkan suaranya Pak Haidar. Sekedar mendengar. Mendengar itu membuat saya senang, membuat saya merasa ada. Walah… padahal mugur suara.


Karena suara, entah sudah berapa banyak pulsa yang saya punya dan habis untuk menelphon Pak Haidar.

Karena saya, bagi pemikiranku itu merasa dekat dengan Pak Haidar, hingga kemudian saya merasa teringin-tahukan tentang Pak Haidar, maka diam-diam saya mencari tentang Pak Haidar.

Saya cari Ali Haidar. Lho yang ndongol malah ‘Abu Ali Haidar’ pencipta lagu Tahun 2000, Perdamaian, Dunia dalam Berita, Di mana-mana dosa, Keadilan dan lain-lain.

Nasida Ria bagi telingaku, di desaku itu tidak asing. Malah bahkan, ketika mendengar Nasida Ria, disitulah adanya pengajian. Mayoritas sebelum adanya pengajian diputer lagu-lagu Nasida Ria. Lagu-lagunya itu-itu saja; yakni lagu populer dari Nasida Ria.

Lebih-lebih secara fakta, ibu-ibu di desaku, mulai latihan tentang tek-tek dum breng, dan yang ditembangkan pastilah ada lagu-lagu Nasida Ria, maka setiap mendengar lagu nasida ria, saya selalu teringat Pak Haidar. Saat teringat Pak Haidar teringat tentang Bapaknya, Mbah Ahmad Buchori Masruri.

Di saat itulah saya semakin senang dengan tembang-tembang Nasida Ria, terlebih khusus tentang karangan Mbah Buchori. Saya dengarkan lagu-lagunya, saya amati lirik-liriknya, saya amati temenan tentang lagu-lagunya. Disitulah saya merasa dekat dengan Mbah Buchori.

Secara fakta saya tidak pernah ‘sowan’ kepada Mbah Buchori. Sekurang-kurangnya mengerti rumahnyalah. Tidak pernah. Namun saya pernah melihat secara langsung tentang Mbah Buchori, yakni saat Pondok Pesantren mengadakan acara. Yang Kiainya (Caranya yang mengisi maidhoh khasanah) tidak bisa datang, disaat itulah Mbah Buchori menjadi pengisinya. Kayaknya begitu.

Di saat itu pun saya kurang mengerti tentang Mbah Buchori. Saya tidak begitu perhatian dengan apa yang disampaikan Mbah Buchori. Agaknya yang saya sibukkan ialah bahwa acara itu bisa lancar. Karena sekurang-kurangnya saya itu menjadi panitia untuk acara pondok itu. Entah panitia apa, saya lupa.

Ketika saya di rumah, lalu saya kabarkan kepada Pak Haidar bahwa saya itu sering mendengar juga tentang Nasida Ria yang bapaknya menyusun liriknya. Lalu (Ini agak diringkas ceritanya) saya diberi nomer telphon Mbah Buchori. Tentu saja saya menelpon beliau.

Saya tidak banyak tanya, beliau terdengar datar dan biasa saja.  Datar itu tidak basa-basi, tidak bertanya-tanya, dan biasa saja pokoknya. Intinya, berbeda sekali tatkala saya menelphon dengan Pak Haidar.

Batinku, wah ini bukan kelasku untuk berbicara dengan Mbah Buchori. Beliau terlalu datar. Karena beliau datar, setelah tanya kabar saya sudahi pembicaraan.

Waktu itu beliau masih ada di tempat anak perempuannya, katanya. Sedikit saya diceritakan olehnya,  ketika saya tanya bagaimana kabarnya, Mbah?

“Kalau pagi mulai mengantuk. Saat malam tidak bisa tidur.”

Dilalahnya juga saya menelpone waktu pagi, maka saya pun seakan mengerti keadaannya. Kedua kali saya sekedar menanyakan kabarnya. Setelah itu sudah.

Intonasi bicara beliau di Handphone menurut telinga saya, waktu itu, sudah berbeda dengan intonasi saat ceramah-ceramahnya. Maklum, pola suara yang saya kenal adalah disaat Mbah Buchori belum tua-tua amat; sudah tua iya, tapi belum tua-tua amat.

Jika ditanyakan, ‘Apa tujuanmu menelphone Mbah Buchori?’

Jawabku, ‘saya bertanya kabar tentangnya. Itulah tujuannya.’

‘mengapa juga kamu mau tahu tentang kabarnya? Untuk apa?’

Jawabku, ‘sekedar tahu. Untuk lebih ‘menegaskan’ bahwa saya mengetahui Pak Haidar. Hanya itu. sebab saat pertama nelphon pun, saya bilang: saya muridnya Pak Haidar. Kira-kira begitu.”

 Sekarang beliau telah tiada. Telah wafat. Namun nasihatnya masih bisa didengar (Iya pun kalau orang mau mendengarkan nasihat.), lirik-liriknya masih sering ditembangkan.

 Bahkan di desaku, liriknya pernah dilombakan dan menjadi lagu wajib untuk lomba sekelas desa. Pesertanya ibu-ibu perkebayanan. Lagu wajibnya, Merdeka Membangun. Nah, di saat ibu-ibu latihan, maka seakan memperkenalkan lagu-lagu itu kembali dan hadir, dan saya mendengar itu agak lucu, aneh, dan asik. Sekelas desa, dan itu perkebayanan. Tahulah sendiri, berapa peserta dari ibuk-ibuk ini? maka efeknya kepada suami, dan anak. Sebab menyanyi yang mengetahui makna bakal menjadi ‘nilai’ buat pemikiran, lebih-lebih lagu-lagu Nasida Ria, isinya nasihatlah motifnya. Nasihat yang disandarkan Gusti Pangeran.

 Ibu-ibu latihan berulang-ulang lagu nasida ria sambil dung-tang-tung dung dang brum. Latihan yang berulang-ulang, dan saya sering terdengarkan (tidak sengaja mendengar, karena suara itu terdengar). Kadangkala saya keluar dari rumah untuk mendengar suara itu. Keluar sambil tersenyum: itu yang menciptakan liriknya bapaknya guruku lho, mbatin.

 Ah sekurang-kurangnya saya ‘dekat’ dengan Pak Haidar. Saya yang dekat dengan Pak Haidar. Saya yang ‘terdekatkan’ kepada Pak Haidar. Dan yang menciptakan lirik itu, bapaknya Pak Haidar.

Beliau, KH Ahmad Masruri Buchori, dulu ngaku namanya: Abu Ali Haidar. Kok bisa begitu? Kan Pak Haidar itu anak pembarep. Kalau tradisi orang jawa juga sih, biasanya Bapake Haidar (Maksudnya Pak Buchori), bahkan ibuku kalau memanggil bapakku dengan julukan Bapake Atun (Maksudnya Bapakku. Atun itu saudaraku yang mbarep), malah kadang kebiasaan ini bisa saja dipanggil: Tun. Tun. Bapake Atun.

 Namanya juga kepersuaraan yang dialamatkan. Bahkan karena suara pun, saya mendengar ceramah-ceramahnya Mbah Buchori. Bahkan karena suara pun saya ‘harus’ menelphon Pak Haidar. Dan dari suara, saya ‘sekurang-kurangnya’ mengerti tentang pemikiran manusia: orang yang khutbah, orang yang ceramah, orang yang bicara, orang yang menasihati, orang yang ngobrol. Ah suara-suara. Dan lewat tulisan, tentu ini sebenarnya ‘suara yang lain’, yakni ‘suara yang tertulis’ dan tidak berbunyi. Hehe ah sudah dulu pembicaraan (Seakan-akan bicara) tentang Mbah Buchori ini.

 2018

Belum ada Komentar untuk "KH. Ahmad Buchori Masruri: Bapaknya Pak Haidar Buchori"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel