PENGETAHUAN DAN KEPENTINGAN MANUSIA

PENGETAHUAN DAN KEPENTINGAN MANUSIA - Saya menuliskan ini, sebagai refleksi dari pelajaran filsafat yang telah saya kaji, yang tulisan ini saya terinsipirasikan dari julud buku: Knowlede and Human Interest, karya Jurgem Habermas. Yang mana, saya tidak mengetahui-jelas, atau setidaknya sangat minim membaca teks yang berkaitan dengan Jurgem Habermas. Namun, saya menyakini; bahwa dengan pengalamanku, atau keteritanku, tentang kemanusiaanku, saya pun mampu menulis yang itu berjudul: Pengetahuan dan Kepentingan Manusia.

Metode yang saya gunakan untuk menulis catatan ini adalah refleksi, yang mana dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan: re·flek·si /réfléksi/ n 1 gerakan, pantulan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yg datang dr luar: penyair pd hakikatnya adalah suatu -- dr masyarakat sekelilingnya;. Namun begini: saya mencatat dengan cara:

pertama, pengalaman saya sebagai manusia.

Kedua, pengalaman pembacaan-pembacaan saya.

Ketiga, pembacaan terhadap kenyatan yang terjadi.

ketiga, pendayaan akal saya.

Dengan begitu, saya memulai:


PENGETAHUAN DAN KEPENTINGAN MANUSIA

Apa yang kita ketahui tentang pengetahuan? Sesuatu yang itu tentang tahu. Orang hendak mengetahui. Upaya untuk mengetahui. Yang berfungsi, tatkala mengetahui, orang itu tidak celaka terhadap apa yang dilakukan; orang itu tidak akan kesasar terhadap jalan yang ditempuh. Orang itu tidak salah dengan apa yang dipilihkannya. Itulah fungsi dari pengetahuan—tentu ini menurutku.

Saya melibatkan tentang anak kecil, yang mana dia kosong tanpa adanya pengetahuan: dan si anak berusaha ingin tahu dengan cara bertanya; alasannya, karena anak telah ditawarkan oleh orang tuanya tentang bahasa. Bahasa itulah yang menjadikan sesuatu menjadi berbeda-beda. Dengan begitu, ada yang menyatakan—entah siapa itu, saya tidak ingat pasti—bahwa manusia adalah mahluk berbahasa. Kesibukan akan bahasa adalah yang menandakan bahwa manusia itu ada dan saling menyaling, dan dari itu terdapat perbedaan demi perbedaan. Karena? Bahasa.

Dari bahasa itu, kemudian pengetahuan di kembangkan. Hingga kemudian, orang yang dikatakan orang berpengetahuan adalah mereka yang pandai terhadap suatu keperbahasaan; lanyah terhadap diksi-diksi keberbahasaan. Orang pandai, seringkali, hebat dari ‘rancangan’ bahasa, itulah seringnya; itulah umumnya, karena mereka mampu merancang ‘bahasa’ sebagai ungkapan dari apa yang dipikirkan, tentang penampakan dari hal-hal yang tersembunyi di dalam dirinya.

Namun, sekarang: saya bertanya, untuk apa tahu? Inilah yang menurut saya penting dipahami: untuk apa manusia selanjutnya ingin mengetahui lebih lanjut; karena pada dasarnya, manusia telah mempunyai bekal-bekal dari ketahuannya; yakni ketahuan yang ditularkan dari keluarganya, sehingga, manusia itu merasa tidak-penuh dengan ketahuan yang sepotong-sepotong itu, sehingga berupaya untuk memenuhi sesuatu yang terpuzzlekan itu.

Tujuannya: menjadi manusia utuh.

Menurut saya, begitulah tujuan manusia ‘berpengetahuan’, yakni menjadi keutuhan manusia, yakni manusiawi yang itu terkhusus untuk dirinya sendiri. Jika setiap diri mengetahui tentang hal tersebut: maka disitulah manusia utuh itu akan saling melengkapi yakni tentang manusiawi.

Pada mulanya, undang-undang kemanusiaan (Atau, aturan dasar manusia) ialah berupaya mencukupi kebutuhan diri sebagai manusia, yakni lahiriyah dan batiniah. Ringkas kata, penampakannya dan sesuatu yang itu di dalam dirinya. Keduanya harus seimbang. Secara lahir, maka manusia membutuhkan makan. Itulah awalnya, undang-undang kemanusiaan. namun sisi batiniah, atau sesuatu yang ada di dalam diri manusia; seperti kehendak biologis, kehendak berkuasa, kehendak menjadi raja, kehendak mengatur, kehendak memerintah, tertanam di dalam diri manusia.

Maka orang muslim—saya menyebutkan ini, untuk lebih mempermudah maksudku—yakni penyebutkan tentang watak manusia: yang itu ada sisi malaikat dan sisi setan. Manusia itu, diiringi kedua hal tersebut, yang berada di dalam satu tubuh. Dan tujuan dari pengetahuan itu, memberi asupan untuk keduanya, walau pun pada dasarnya untuk sisi malaikat, namun saat sisi kebaikan (malaikat) itu diberi makanan, maka sisi keburukan (setan) akan tumbuh secara otomatis: walau pada dasarnya, untuk menjadi manusia utuh, yakni manusiawi.

Sampai-sampai, keutuhan menjadi manusiawi, ingin menjadi abadi terhadap sisi kemanusiawiaan; itulah yang seringkali manusia terlalaikan bahwa manusia akan berakhir, atau mati.

Kepentingan manusia terhadap pengetahuan, kemudian berdaya diri untuk ‘kestandaran’ zaman yang telah terjadi itu; maka mau tidak mau, manusia harus melengkapi tentang kekurangan pengetahuan tersebut; entah itu pertumbuhan technology, pertumbuhan gaya hidup.

Akhirnya, jika kepentingan manusia berdaya diri untuk mencukupi kebutuhan hidup yang itu sarat dengan kebendaan, maka kepentingan manusia menjadi manusia yang haus akan sesuatu yang itu disebut dunia, yakni keberadaan. Menurut saya, manusia mulai lalai bahwa manusia tidak abadi di dunia. Harusnya, kepentingan manusia itu saling menyaling, dukung-mendukung, tentang kemanusiaan yang ada di bumi, yang itu adalah mahluk Tuhan.

Ah mendadak saya teringat, betapa Pancasila itu keren. hehe Demikian, uraian ringkas tentang pengetahuan dan kepentingan manusia.

Belum ada Komentar untuk "PENGETAHUAN DAN KEPENTINGAN MANUSIA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel