Muslim Menyikapi Era Post Modern

Muslim Menyikapi Era Post Modern - Pak, berilah penerangan. Aku ingin mengetahui bagaimana muslim menyikapi era postmodern: melejitnya sains (teknologi), mulai tambah aneh yang namanya realitas (realitas-maya, komunikasi-video asli, serta kawan-kawannya) dan tawaran dunia yang semakin berkilau?

Taufik, karena pengetahuanmu mulai sampai pada ujung filsafat dan menyentuh realitas, maka kini pertanyaanmu sangat realistis.  Jawabnya, ya biasa sajalah. Karena memang begitu zamannya. Namun kamu harus memahami kalimat ini: dunia, bagi muslim adalah alat untuk akhirat. Sekali pun alat, apakah alat akan dibiarkan begitu adanya? Tanpa diasah, tanpa dirawat. Alat pun butuh diasah. Alat pun butuh dirawat.

Muslim Menyikapi Era Postmodern

Muslim Menyikapi Era Postmodern

Hanya saja. Jangan terjebak tentang pengasahan. Jangan terjebak tentang perawatan. Tetap capailah prioritasnya, akhirat.  Caranya, kamu tahu cara untuk mencapai akhirat, jangan lupakan ibadah. Titik.


Kamu berbisik, “Mengapa dunia bagi muslim adalah alat?”

Jawabnya, semakin kamu memikirkan tentang dunia, maka kamu akan semakin kepayahan, dan kamu akhirnya akan menjadi gelap-gulita. Oleh karenanya, jangan begitu dipikirkan tentang keduniaan, namun lihatlah dunia dengan hati. Kenanglah sejarah: sesungguhnya apalah artinya kehidupan di dunia. Bukanlah waktu yang lama, oleh karenanya harus bercinta-kasih sesame manusia. Bukankah pada akhirnya tujuannya agama adalah mencintai sesame manusia?

Bahwa kita sama-sama dalam kekuasaan-Nya, maka janganlah geger-gegeran terhadap dunia. Berkasih-sayanglah di muka bumi. Jangan sombong kepada yang lain. Jangan mencuri kepada yang lain. Jangan menyakiti yang lain. Hal itu kenapa? Karena manusia mempunyai akal dan hati.

Dengan keduanya, manusia mampu merasakan yang tidak enak dan enak.  Baiklah, andaikata manusia tidak mempunyai hati, yang dipunyai adalah akal. Simaklah ini:

Kalau kamu rajin belajar, dan orientasi adalah akal, kebenaran di ukur secara objektif. Setiap perkataan kalau tidak ada bukti obejektifnya, maka adalah bohong. Maka adalah salah. Setiap tulisan yang tidak ada bukti ilmiahnya maka bohong dan tidak tulisan salah. Yang benar adalah apa yang dibuktikan secara objektif.


Simaklah, apa yang terjadi: manusia sulit sendiri menjadi manusia.

Islam tidak menginginkan seperti itu. Islam senantiasa orientasinya adalah moral, akhlak, etika. Tekanannya itu. Tekanan agama adalah itu. Untuk itu, akhlak.  Oleh karenanya, dalam tradisi ilmu-hadist penting diketahui: pernanan individu terhadap kualitas akhlak dan kecerdasaannya menangkap realitas.

Turun temurun perilaku ulama terdahulu seperti itu, namun setelah zaman teknologi berkembang, maka para penyampai agama pasti juga bakal seperti itu. Bakal menyesuaikan zamannya. Kalau mereka tidak menyesuaikan zaman, pasti ada pengikut yang menyampaikannya.


Contoh terang, adalah kamu, Taufik.

Kamu menyampaikan ketersembunyianku. Kamu menyampaikan sesuatu yang tersembunyi.  Kadang orang-orang rebut antara islam yang  tradisional dan islam yang moderat, padahal semuanya itu menjalin menjadi satu. Missal, seorang islam moderet, diam-diam, atau secara terang-terangan, belajar juga kepada orang-orang tradisional, atau, seorang islam tradisonal diam-diam belajar kepada islam moderat. Atau keduanya, berpisah. Tidak ada hubungannya sama sekali. (sudah, kelak, saya akan bicarakan hal ini: islam tradisional dan islam moderat).


Kembali ke post modern:

Islam itu menyesuaikan zamannya. Ambil baiknya. Begitu saja. Kalau buruk, jangan dilakukan. Missal, video call: ambil baiknya, buruknya jangan dilakukan. Kalau di internet, melihat gambar-gambar tidak baik, diabaikan, jangan diteruskan. Zamannya memang begitu. Jangan dipayah-payahkan. Terima saja. Yang pasti, jangan lupa bahwa Allah itu Maha Melihat.

Belum ada Komentar untuk "Muslim Menyikapi Era Post Modern"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel