Baudrillard

Kata Pak Akyar Yusuf Lubis, dalam Postmodern teori dan metode, kesimpulannya dituliskan:

Pemikiran Baudrillard mencapai puncaknya pada karyanya pada tahun 1970-an, setelah itu ia tida produktif lagi, ia telah mencapai titik jenuh, kalaupun ada tulisannya sudah berputar-putar pada konsep yang sudah dikemukakannya. Namun, sampai tahun 1970-an ia adalah teoritikus budaya media yang paling terkemuka dan provokatif. Berbagai konsepnya seperti simulacra, impulsi, dan hiperrealitas mempengaruhi kajian sosial-budaya kontemporer. Meskipun jejak-jejak pemikiran modern terkadang masih ditemukan pada pemikirannyal, akan tetapi ia dapat disebut postmodern, bahkan postmodern radikal karena baginya tidak ada kontinuitas antara modern dan postmodern.

Konsepnya tentang hiperreality, tentang simulacra, tentang kode dan citraan yang dapat mengahasilakn makna yang beragam, secara langsung membawa paradigma baru bagi problem ilmu pengetahuan (klaim kebenaran dan metodenya). Ilmuwan tidak lagi berhadapan dengan realitas sebagaimana yang dibayangkan kaum realisme (positivism ilmiah) karena kita dihadapkan pada realitas yang mengatasi/berada di luar realtas yang real.

Ilmuwan lalu dihadapakan pada konsep, citraan kode, tanda, dan symbol yang memungkinkan untuk kontekstualitas dan keberagaman makna hiperrealitas atau simulacra itu. Karena itu, metode semiotika menjadi metode yang penting pada penelitian sosial-budaya saat ini. Realitas yang dimunculkan dalam dunia cyber adalah contoh yang jelas untuk hiperreality. Arthur Krocher dan David Kook mengemukakan sebagai berikut, “Televisi hanyalah mesin tadan yang memuntahkan citra demi citra yang maknanya saling menganulir satu sama lain dalam keterpurukan riuh-rendah postmodernisme, sebagai buah kebangkitan ketidakbermaknaan (Rizert dan Barry Smart, 2003)

Pemikiran Baurillard banyak dikritik dengan tajam, akan tetapi juga didukung dan disambut banyak para ilmuwan. Pemikirannya oleh sebagian pemikir diniali tidak serius seperti yang ia kemukakan dalam bukunya America, sehingga baiknya pemikirannya tidak dievaluasi dari kaca mata hitam-putih (benar-salah), namun cukup jelas bahwa pemikirannya mempengaruhi kajian sosial-budaya kontemporer secara luas. Pemikirannya dapat disimpulkan sebagai penguatan terhadap berbagai sisi ‘patologis’ budaya postmodern yang juga dikemukakan para pemikir lain. teori dan konsep yang dikemukakan Baudrillard sangat kreatif, imajenatif, berpikir bebas, karena itu semiotika termasuk metode yang tepat digunakan untuk mengikuti alur pemikiran Baurillard itu.”

Alasan saya menuliskan itu teruntuk belajar. Belajar memahami yang itu menulis ulang apa yang tertuliskan, yang kemudian menyumber pada buku; sebabnya ketika sekedar membaca yang itu sekedaran pembacaan, bagiku belum tertempelkan di dalam pemikiranku. Artinya, membaca sekedar lintasan belaka. Bukankah zaman sekarang, zaman internet, ketika benar-benar hendak mencari ‘teori’ tinggal tulis diinternet, bakal bermunculan. Begitu juga dengan Baudrillard. Tentang hipperrealitas, simulasi dan lain sebagainya. Bakal muncul.

Maka pada kesempetan ini, tentus saja berdaya untuk memahamkan kepada diriku, dengan cara mengulangi:

Hiperrealitas adalah realitas yang mengatai realitas nyata. Hiperrealitas adalah simulasi atau produksi artificial kenyataan, sehingga menciptakan realitasnya tersendiri. (Akyar Yusuf, hal 206)

Kalau bahasa saya (ya! Bolehlah saya pun mengungkapkan) hiper realitas, bahasa mudahnya ialah melampaui realitasnya. Saya juga pernah menuliskan hiperrealitas yang ada dalam islam, yakni jalinan kemanusiaan yang itu seperti pipa sambung nyambung, yakni sanat demi sanad. Adanya komunikasi jarak jauh antara murid dan gurunya.

Namun dalam hal ini, pembicaraan tentang Baudrillard, pemikir prancis, artinya penting dikabarkan bahwa ia adalah pemikir eropa. Yang mana, saat beliau ada, yakni sekitar 1970 masehi, tentu saja, prancis telah berkembang pesat dengan kemajuan technology. Yang mana, sekarang di Indonesia, di desa saya sajalah, teknologi mulai berkembang dan marak.

Anak-anak mulai menggunakan gadget dan sarat dengan permesinan. Situasi keadaan kemanusiaan mulai terpengaruh kencang oleh permesinan. Bersamaan dengan itu, saya mendadak agak tersemangatkan untuk mengkaji lebih lama (gayanya mengkaji lebih lama) tentang pemikiran postmodern. Para pemikiran postmodern, termasuk Baudrillard. Yang mengemukakan (dikemukakan; ditampakkan) kondisi masyarakat barat menurutnya merupakan representasi dari dunia simulasi.

“Dunia simulasi adalah dunia yang dibentuk oleh berbagai hubungan tanda dank ode secara acak tanpa acuan (Referensi) yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (Fakta) yang terbentuk melalui proses reproduksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta dari proses reproduksi,” tulis Pak Akhyar, halaman 174.

Jika ditanyakan, “Apa yang didapatkan kalau kita mengetahui itu?”

Jawabku, “Sekedar mengetahui ‘fakta’ yang terjadi di sekitar kita. Fakta yang terjadi di zaman kita. Itulah zaman dimana kita berada.”

Belum ada Komentar untuk " Baudrillard "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel