Plato Murid Socrates Yang Menulis

Plato yang Penulis


Kau telah membaca perihal Plato murid dari Filsuf terkenal itu, Socrates itu. Kau telah mengerti sekurang-kurangnya bahwa Plato adalah salah satu murid dari Socrates, yang kemudian meneruskan apa yang diperjuangkan gurunya itu, yakni dialog. Sebelum itu, kau telah mengetahui bahwa keberadaan Plato ada di Yunani, Negeri dimana para filsuf itu bermunculan. Negeri dimana orang-orang berpikir dengan rasionya bermunculan. Ada perbedaan yang mencolok antara Yunani dan Jazirah Arab, ada perbedaan yang mencolok antara Yunani dan Timur (Cina). Sejenak saya katakan, bahwa perbedaan itu adalah upaya penggunaan pikiran; dilalahnya, di Yunanilah yang muncul untuk lebih berpikir, lebih menggunakan akalnya, sementara di Jazirah Arab, sarat dengan tradisi Kenabian (tahulah kamu bagaimana tradisi kenabian itu, orientasinya ada pada akhlak), sementara di Timur (Cina), cenderung pada Filsafat-Alam; penggunaan akal iya, namun orientasinya adalah keindahan. Kembali kepada:


Plato adalah Satu dari Sepersekian Murid Socrates



Dia, Plato adalah salah satu murid dari Socrates, murid karena kena efek dari apa yang ditawarkan Socrates, yakni dialog-fakta: ngobrol yang mendalam. Dhopok yang mendalam, dan status Socrates adalah orang yang memicu untuk mengeluarkan apa-apa yang orang lain pikirankan. Sampai pada gilirannya, orang yang diajak ngobrol tersebut bingung, disaat itulah orang-orang itu datang kepada Socrates;
dan Plato adalah satu dari sepersekian yang ada, dan paling tenar. Paling populer. alasannya, karena Plato meniru apa yang gurunya kerjakan. Hanya saja, tidak secara fakta (Sekali pun faktanya juga masih dialog.) namun fakta yang lebih lama, dan fakta yang bisa dilacak, yakni mengabadikan tulisan dengan cara dialog.

Plato dan Tulisannya


Tulisan Plato bergaya obrolan seperti halnya gurunya, obrolan yang mendalam. Hanya saja, obrolan itu mampu dibaca ulang. Kalau zaman sekarang, obrolan itu disebut dengan cerita atau novel atau sebagainya. Dan dialog yang fakta, adalah semacam pada acara talk Show (pembicaraan langsung), yang orang-orang lain menjadi sumber lalu dipertanya tentang sesuatu yang ada di dalam dirinya, yang ada bersama kenangannya.
Plato muridnya Socrates yang menulis

Dan kembali pada tulisan Plato yang dialog itu. Plato membuat orang-orang imajener lalu ditanyakan bla.. bla.. bla.. dan itu dipublikasikan dengan tulisan (Bukankah ini semacam kesamaan zaman sekarang, pembuat cerita/drama/teks-teater) yang semodel dengan dialog fakta sebagaimana gurunya itu, Socrates.

Alasan Plato membuat tulisan, bisa jadi, karena saking terinspirasinya kepada gurunya itu, dan kata-kata gurunya itu begitu membekas dan cara-cara gurunya itu membekas, sementara 'karakter kepribadian' dan situasi keadaan, Yunani kala itu, tidak memungkinkan untuk diajak dialog fakta; sebab dialog fakta telah dilakukan gurunya, itulah mengapa Plato menjadi menulis. Sekali pun menulis yang bergaya dialog, tentu saja plato masih berdialog secara realitas.

Alasannya karena Plato juga berkumpul dengan murid-murid Socrates yang lain, yang dari perkumpulan itu, perlahan-lahan 'menciptakan' suatu kondisi untuk pengukuhan 'sekolah.' Dan Plato inilah, karena mempunyai daya untuk menulis dan mempublikasikan, maka mempunyai kumpulan yang lebih kongkrit dan faktual. Sering dikatakan bahwa dialah pembuat Akademi pertama, namanya: akademia. Hal itu terjadi, karena plato telah mempunyai semacam 'buku-ajar' yang berasal dari tulisan-tulisannya itu sendiri.


Dialog Plato adalah dialog teks (Tulisan) dan dialog fakta (obrolan)


Karena dia, Plato, mempunyai akademia, maka dialog itu semakin menjadi-jadi. Yakni dialog tulisan dan dialog fakta. Alasannya, karena plato gemar menulis dan metode yang digunakan adalah dialog. Kala itu, bukankah kemenangan dasar dari dialog itu ditunjukan secara fakta. Ditunjukan secara langsung. Dan dialog secara langsung akan jauh lebih sempurna kalau disusun secara 'sistematis' melalui tulisan.

Di zaman ini orang-orang sering menggunakan metode ini, yakni sebelum 'membicarakan fakta' mempunyai 'landasan teori'. Biasanya para reporter pencari fakta atau para peneliti yang mempunyai landasan teori. Dan tujuan pencarian itu upaya untuk 'memahami' realitas dengan baik. Tujuan ending adalah kebaikan. Hal seperti inilah menjadikan bahwa Plato pun menciptakan semacam etika. Etika melalui 'perubahan' berpikir dari orang yang didialogkan.

Lebih-lebih, di kala itu, Plato mempunyai akademia (kalau sekarang kampuslah atau sekolahan); karena adanya sekolah maka dialog itu semakin menjadi. Tentu saja, dialog yang bukan seperti halnya dialog Socrates. Ingatlah, bahwa Plato adalah muridnya Socrates, tentu agak berbeda dari gurunya. Tidak bisa plek, sekali pun menyerupai, namun tidak bisa plek. Dialog ada, namun tidak seperti gurunya.

Alasannya, karena di kelas tentu saja berbeda dengan orang-orang serampangan yang diwawancarai Socrates. Di kelas (Akademia) tentu saja, lebih rangkaian kata lebih terstuktur, sekurang-kurangnya begitu. Yang dengan berjalannya waktu, pola struktural ini melahirkan (muncullah) generasi yang baru: agak berbeda dengan gurunya, dialah Aristoteles, murid dari Plato.

2018

Belum ada Komentar untuk "Plato Murid Socrates Yang Menulis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel