Apa itu Teman?

Apa itu Teman?--Akibat fenomena modern (Khususnya fenomena facebook yang menyentuh di desa dan orang desa mulai gegap-gempita dengan teknologi) saya mulai terpikir tentang: apa itu teman? Sebabnya di zaman maju ini, yang mana orang desa mulai facebook-an, saya mulai di add (mulai ditambahkan) sebagai  teman, dan saya penting untuk mengonfirmasi (menyutujui) sebagai teman. Apakah saya menyetujui sebagai teman atau tidak?

Dari soal inilah ‘pikiran’ saya mulai sibuk dengan sesuatu yang disebut dengan teman.

Teman Teks Hidayat Tf


Apa itu teman?  Apakah teman sekedar teman yang mengerti tentang pikiran, tentang aktivitas sehari-hari, atau teman itu adalah orang yang mendampingi saat berjalan-jalan, atau teman itu adalah orang yang saling mengerti.

Ya! Apa itu teman?  Dan saya berusaha untuk menjawab itu, dengan upaya melacak pertemanan saya secara menyeluruh (secara total) dari pola kehidupan saya secara fakta, secara realitas.  Lalu sekarang apa bedanya teman dan keluarga?

Sementara pihak keluarga saya pun ada yang mengadd saya. Apalagi di desa saya, yang sarat dengan keperkeluargaan. Di desa saya yang mayoritas adalah keluarga besar. Keluarga besar yang berpangkal dari cangga, dan dari cangga itu kemudian bertambah banyak, dan semakin banyak.

Lalu ketika keluarga mengadd saya: apakah ‘status’ keluarga itu menjadi teman?

Secara fakta, keluarga adalah keluarga. Yakni orang yang mempunyai ikatan darah, itulah keluarga. Namun konsep keluarga bagi orang jawa tidak hanya terbatas pada ikatan darah, adakalanya orang yang ‘apik’ pun diaku keluarga. Adakalanya, orang yang diurus pun menjadi keluarga. Itulah status yang ada di desa saya, tentang keperkeluargaan.  Yang sarat dengan kekeluargaan. Lalu: ketika bagian dari keluarga saya mengadd saya mengajak untuk menjadi teman: apakah status keluarga lebih kecil dibanding teman? Atau status teman itu lebih utama dibanding teman? Sebab adakalanya keluarga pun tidak mengetahui tentang cara pikir ‘saya’, tidak mengerti apa-apa yang saya lakukan, tidak mengerti secara utuh tentang aktivitas saya.

Namun disisi lain, pihak keluarga itulah yang mendukung kuat perihal kehidupan. Terutama perihal hidup yang membutuhkan materi dan pola kebertahanan hidup. Sejauh diketahui, kebertahanan hidup itu manusia membutuhkan materi (dalam arti uang) dan pihak keluargalah yang sejauh ini ‘berperan’ terkuat mendukung hal tersebut.

Kayaknya, kalau ditinjau secara menyeluruh, peran keluarga itu lebih utama, dan lebih banyak pengaruh di banding teman. Sebab teman itu kecenderungannya adalah pertemuan yang tidak disengaja maupun disengaja yang awalnya dari lingkungan sekitar. Dan  ketika individu semakin dewasa dan mempunyai jangkauan yang lebih luas, maka pola pertemanannya semakin meluas.

Saya rangkaikan pola pertemanan saya (ini pun kalau layak disebut teman):

Teman saya ada yang formal dan non formal. Teman formal adalah teman yang berada pada ikatan lembaga formal, seperti sekolah. Yang itu: teman formal SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA dan KULIAH. Sementara teman yang non-formal adalah teman yang ada di luar status hal-hal keformalan itu, karena saya sering berada di pondok pesantren, maka teman non-formal pada dasarnya dipetakkan menjadi teman-teman dari Pondok Pesantren, yang lintasannya ada pada perkamaran, pada angkatan demi angkatan dan pemetaaan-pemetaan tersebut.

Kenal wajah mungkin iya, tapi kenal pikiran, tidak. Kenal wajah mungkin iya, tapi kenal secara utuh tidak.

Sesungguhnya apa itu teman? Semacam relasi tentang kehidupan manusia, dimana disana ada kepentingan tentang ‘proses’ kemanusiaan.

Ahaha saya berpikir, membicarakan teman ini (kalau dihubung-hubungkan dengan fakta-realitas, dan fakta-hiperrealitas) menjadi tidak mudah. Maka saya akan gunakan ilmu-filsafat (Cie ilmu filsafat) untuk membaca pertemanan ini, tentu saja ini berhubungan dengan ilmu sosial kontemporer.

Secara sosial, marilah kita kenang proses perubahan yang terjadi pada manusia secara umum. Seringkali pada kajian sosiologi, manusia itu mengalami perubahan (Gayane revolusi) manusia.

Revolusi Manusia

Pertama, revolusi pertanian. Dahulu kala manusia itu masih berpindah-pindah tempat, ini umumnya, manusia belum mempunyai tempat secara menetap. Lalu kemudian manusia tatkala semakin banyak, maka mereka menetap. Bersamaan dengan penetapan itu, manusia mempunyai cara –alasannya karena manusia dikarunia akal untuk berpikir—untuk mempertahankan eksistensi kemanusiaan. Yakni dengan cara mengolah tanah; sekurang-kurangnya menanam sesuatu untuk dikonsumsi, untuk dimakan. Makan untuk mempertahankan hidupnya. Disaat itulah kehidupan manusia secara merakyat berbondong-bondong bertani. Kenapa harus menetap? Karena penduduknya semakin banyak. Karena orang-orangnya semakin banyak. Ingat? Jaman dahulu kala, KB tidak ada.

Kedua, Revolusi Industri. Saat manusia semakin banyak menetap, maka disaat itulah ‘keilmuan’ mulai muncul. Kemunculan keilmuan itu semakin ‘melesat’ di era abad Pertengahan. Sebabnya, sebelum itu, keadaan masyarakat atau keadaan manusia diliputi oleh kekuasaan kerajaan, kekuasaan peperangan antar manusia. Kekuasaan untuk  mengusai. Mengusai yang tujuannya manusia ingin enak. Ya! Ketika manusia itu berkuasa, maka mau tidak mau pekerjaannya ‘sekurang-kurangnya’ agak mudah, yakni memerintah dan mengusai. Kepemerintahan itu terjadi karena adanya ‘jalinan’ interaksi dengan para pendahulunya, semacam modal kasih-sayang, atau semacam modal kebaikan dari nenek-moyang mereka  (dan ajaran-ajaran agama islam, ukuran manusia itu adalah ketakwaannya). Dan bersamaan dengan revolusi industri ini, perlahan-lahan pertemanan mulai terpetak-petakan, karena disisi lain ada para pekerja yang lain: yakni para pekerja ilmu, dan pekerja yang lain-lain. Sekali pun begitu, keadaan masih berukuran pada fakta-realistis. Fakta yang nyata. Hanya saja, fakta-fakta yang mempunyai selubung, ketersembunyian: yang dari itu mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Sekurang-kurangnya bukan seperti sekarang ini, yakni,

Ketiga, Revolusi Teknologi. Dan saya langsung meringkas menjadi revolusi teknologi, yang intinya adanya internet. Sekali pun proses internet ini berkat (didahului oleh ilmu-ilmu sebelumnya, diantara ilmu komunikasi. Ilmu jarak. Ilmu Kimia: Kok bisa? Lha internet itu apa? Sebuah jaringan. Yakni jalin menjalin dengan sesuatu yang lain. Dan di dalamnya adanya pola-pola ilmu-ilmu yang digabung-gabungkan: ilmu kimia, ilmi fisika, ilmu matematika, ilmu linguistik, ilmu sosial dan ilmu-ilmu positiv lainnya.  Ilmu ini secara garis besar diturunkan dari pola Yunani, yang dilalahnya dikaruniai suatu ‘daya’ yang ditugaskan menggunakan akal. Yang dengan akal itu, orang-orang yunani mampu menghasilkan ilmu-ilmu; ilmu yang kemudian meramaikan dunia, dan dengan keilmuan itu, efeknya juga terjadilah perang dunia; yang perang itu pun didukung oleh kepentingan sains. Yakni pembuatan alat-alat sains)  ilmu-ilmu yang mendahuluinya.

Dengan adanya internet, terlebih lagi internet itu mulai menyentuh desa. Menyentuh pelosok. Yang dahulu kala, pola desa secara umum adalah tradisional. Yakni lebih kecenderungan pada hal-hal yang manual dan kemudian menjadi era-era kepermesinan.

Era kepermesinan mungkin bagi masyarakat desa adalah seperti halnya perkembangan yang alami dan biasa. Efeknya kurang drastis dan cepat. Namun saat informasi mulai melesat cepat, disaat inilah desa mulai berkembang (berbunga, bermekar—istilah kembang) drastis.

Era handphone, era kuota inilah yang menjadikan kehidupan mulai menjadi hiperrealitas, yakni dunia yang melampaui realitas. Sebabnya informasi. Dan informasi adalah semacam ilmu, atau bahkan dikatakan ilmu. Bersamaan dengan informasi dan era kuota inilah, orang-orang mulai mengenal dan menjalin dengan orang-orang yang lain.

Efek kuatnya, di desa orang-orang mulai facebook, mulai ‘eksis’, mulai pamer aktivitas dirinya, ini wajar-wajar saja, bahkan sangat diwajarkan. Orang-orang bisa ‘mengontrol’ orang lain. Bisa melihat aktivitas orang lain. Melihat foto-fotonya. Melihat tulisan-tulisannya. Bahkan melihat pemikiran-pemikirannya. Kalau dia yang tidak ‘menujukan dirinya: tidak eksis’ maka dia akan menjadi ‘penonton’, ‘pengamat’ dan lain sebagainya, secara diam-diam, secara tersembunyi, hal itu pun wajar-wajar juga, bahkan telah terwajarkan. Ya! Manusia mengurusi kehidupan manusia lainnya ialah kewajaran. Ahai ‘kemanusiaan’ ini... hehe

Sebabnya jargon dari facebook sendiri adalah apa yang anda pikirkan? Jargon yang itu terpengaruh dari ilmu fenomenologi, mungkin terpengaruh dengan filsuf Husserl, tentang pengungkapan yang fakta-fakta dari pikirannya.

Dan untuk mengetahui itu biasanya, terbatas dari ‘kalangan teman’. Teman itulah yang melihat. Teman itulah yang mengawasi. Bahkan orang tua, kalau tidak menjadi teman, adakalanya tidak mampu untuk mengawasi.

Lebih-lebih berkembangannya ‘kuota’ yang semakin murah dan receh, maka orang-orang semakin ‘gembira’ untuk mendapatkan itu, dan menjalin komunitas demi komunitas. Malah bahkan, teman itu mampu menjadi teman yang ada di dunia maya. Teman-teman yang ada di dunia maya, dan teman-teman fakta adalah pengasingan.

Kayaknya di dunia maya teman itu akrab, tapi secara fakta, tidak. Malah bisa jadi, ketika bertemu secara fakta, teman itu malah menghubungi teman yang lain, yang itu tidak fakta. Begitulah kira-kira pola pertemanan di era modern ini (orang filsafat. Cie... orang filsafat. Seringkali menyebut masa ini dengan bahasa era postmodern. Yakni modern telah terpostkan. Seperti pos ronda itu).

Upaya pertemanan ini dicari adalah untuk rasa aman. Dan adakalanya secara fakta, teman itu kurang nyaman, maka manusia mulai mencari teman yang nyaman yang itu didunia yang fakta. Ringkasnya: “Tubuhnya disini, tapi hatinya disana. Tubuhnya disini, tapi pikirannya disana, “ begitulah zaman sekarang berkata.

“Jadi apa itu teman?”

Teman itu ya teman facebook, teman komunitas, teman-temanan, teman dari teman, teman fakta, teman formal, teman non-formal. Teman kenangan, teman kenyataan. Teman sekarang, teman masa-lalu. Ah teman... bahasa jowone: konco. Konco cilek, konco gedi, konco nikah, konco gawean, konco-kocoan.

Lalu ada yang bertanya, “Tofik, jadi menurutmu apa itu teman?”

Jawabku, “Tofik telah menjawabnya, itu tulisannya panjang. Jadi menurutmu apa itu teman?”

Belum ada Komentar untuk "Apa itu Teman?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel