Kabar Wargomulyo







Apa kabar wargomulyo? Wargomulyo hari ini kabarnya: saya tidak tahu bagaimana menyebutkan satu persatu, atau apakah penting dipreteli tema pertema yang akan dibicarakan: Yakni, tentang keislamannya. Tentang kepemerintahannya, Tentang keperkeluargaannya. Tentang pemikiran orang-orangnya. Tentang pekerjaan orang-orangnya. Tentang pendidikan anak-anaknya.



Baiklah, saya akan deskripsikan satu persatu, yang itu menurutku (saya sebutkan ini menurutku, karena ini penangkapanku, penangkapan inderaku, tentang penangkapan yang itu tertangkap oleh diriku)



Pertama, kabar tentang keislamannya:




Saya sebutkan tentang keislamannya, karena memang mayoritas orang-orang wargomulyo berkaitan erat dengan agama-islam, lebih-lebih mayoritas agama yang ada di wargomulyo, berkaitan dengan keislaman.



Lalu sekarang: apa yang mau ditahu tentang keislamannya? Maksudku: tentang apakah yang hendak mau diketahui: Tentangkah masjid atau musholanya? Tentangkah isi masjid atau musholanya? Tentangkah aktifitas orang yang beragama? Atau tentang pengajian-pengajian yang terjadi?



Kedua, kabar tentang kepemerintahannya:



Saua sebutkan tentang kepemerintahan, karena itu berkaitan atas ‘nama’ desa wargomulyo, yang cakupannya dari Rukun tetangga 1 sampai rukun tetangga 7: lalu apa yang mau diketahui:

Tentang pekerjaan nyata dari para bayan? Tentang pekerjaan nyata dari para RT? Tentang pekerjaan nyata dari program-progam pemerintah? Atau tentang personil individu dari bagian-bagian yang ada di aparat desa wargomulyo.



Lebih tepatnya, kedatanganku bersama kata-kataku ini, sekedar menyajikan atau mengingatkan tentang keberadaan desa yang disebut ‘desa’ wargomulyo.



Ketiga, tentang kabar keperkeluargaan.




Maksudnya, keluarga siapa yang penting dikabarkan? Atau seluruh detail keluarga penting dikabarkan? Tentangkah hubungan paman dan ponaan? Tentangkah hubungan simbah dan anak-anaknya? Atau tentang hubungan saudara kandung dengan saudara kandungnya? Atau tentang keguyupan keperkeluargaanya?



Lebih tepatnya, kedatanganku bersama kata-kataku ini, sekedar menyajikan atau mengingatkan bahwa tentang keberadaan keluarga yang di ‘desa’ wargomulyo, tidak detail, namun mengingatkan: bahwa di desa wargomulyo ada atas nama ‘keluarga’



Keempat, Tentang pemikiran orang-orangnya



Pemikiran seperti apa yang hendak dikabarkan? Tentang sesuatu yang orang-orang wargomulyo pikirkan? Atau tentang ‘gaya’ pemikiran orang-orang desa wargomulyo? Atau tentang satu persatu pemikiran orang-orang wargomulyo? Sejenak, atau sesekali, kita bisa melacak pada media-sosial orang-orang yang berstatuskan di desa wargomulyo:



Setidaknya, begitulah yang dipikirkan orang-orang wargomulyo. Status ‘entah’ itu di FB atau di Twitter, atau apa-pun itu yang berkaitan dengan media sosial, maka sedikitnya begitulah yang mereka pikirkan: mungkin lebih mudah, bahwa itu pemikiran desa. Ndeso. Karena orang-orang berada di desa. Apa itu desa? Yakni suatu tempat tinggal yang dikatakan: desa. Begitu saja.



Kelima, Tentang pekerjaan orang-orangnya




Untuk hal pekerjaan, sesungguhnya sesuatu apa yang dikatakan pekerjaan? Adalah berkaitan dengan hal praktis, yang itu menguntungkan secara materi. Maka disitulah titik sentral tentang pekerjaan. Maka mau tidak mau, pekerjaan pokok yang umum di desa adalah pertanian. Itulah umumnya.



Perputaran uang terjadi di saat panen raya terjadi (panen raya, maksudnya: panen padi). Perputaran uang menjadi deras dan kencang. Menjadi cepat dan gemruyukan. Maka sesekali ada ‘di desa’ sekitar, diadakan ‘grebeg pasar’ atau pasar malam: dengan gaya, mendapatkan keuntungan karena bertepatan pada acara panen raya.



Lebih dari itu, orang-orang mulai berbondong-bondong membeli ini-itu, membeli seperangkat alat technology dan mendadaninya, sibuk membayar hutang dan urunan arisan, dan kegiatan sosial yang lain tercipta kencang-kencang, bahkan tentang keberagamaan. Seperti: arisan korban, tabungan haji, tabungan umroh, tabungan ziarah, tabungan sekolah, tabungan-tabungan yang lain. Begitulah yang terjadi pada saat panen.



Bahkan ada kalanya, orang-orang berkegiatan sibuk pada pernikahan. Pernikahan ditunaikan laksana bergantian pada saat panen raya ini: punjungan datang dari sana ke sini, dari sini ke sana. Laganan terjadi terus menerus, dan malamnya begadangan dan siangnya uprek yang berkaitan dengan iwak dan telor. Dan lagan pun, berhasil menduduki status: pekerjaan.



Entah itu orientasinya, bersama-sama. Kebersamaan. Keguyuban. Atau penghormatan. Atau tentang perundang-udangan. Yang pasti, itu telah menjadi kegiatan. Itulah yang biasanya terjadi pada saat panen raya.



Namun, lebih dari itu: pekerjaan orang-orang, sekarang, itu telah menjadi puspa ragam. Namun, lebih muda begini: ada yang bekerja secara PNS, ada yang bekerja Petani, ada yang bekerja Usaha, ada yang bekerja Dagang. Itulah yang terjadi. walau sebenarnya itu terkesan umum, karena memang, ini berkaitan dengan keumuman orang-orang yang terjadi. bahwa begitulah fakta yang terjadi: bukankah kita sering melihat televise dan membaca kabar-kabar tentang ‘proses kehidupan’: sekurang-kurangnya, begitu jugalah yang terjadi di desa. Hanya saja, tentu, ada letak perbedaannya (Sekali pun perbedaannya tidak jauh-jauh berbeda) antara desa yang satu dengan desa yang lain, namun tetap saja: sekurang-kurangnya pekerjaan orang desa begitu. pada umumnya, tidak jauh berbeda.



Maka penting diketahui: tentang status desa dan status kota.



Di desa itu berbeda dengan di kota. Begitu saja. tentu, seluruh pekerjaannya berbeda dengan pekerjaan yang ada di kota. Contoh: jika di kota, seakan penuh berdesak-desakan dengan technology atau hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan zaman (ukurannya technology) maka di desa belum selebat itu.



Jika orientasi kota memutarkan barang-barang (entah itu padi, cabai, tomat atau bahkan bayem) maka di desa adalah tempat produksi—kira-kira begitu. artinya, penting diketahui, bahwa di desa tanah-tanahnya masih agak longgar dan kehidupannya, tidak secepat dengan kehidupan kota. Begitu ya. Selanjutnya:



Kemudian, Tentang Pendidikan Anak-Anaknya.




Pendidikan anak-anaknya—dalam hal ini, tentu berukuran desa wargomulyo—secara umum, pendidikannya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, hanya penitik beratkan ada perbedaannya: yakni pendidikan yang berlabelkan islam lebih mencorong, lebih bersinar dibanding selain itu. Lihat saja, sekolahan-sekolah, pasti label islam atau hal-hal yang berkaitan dengan keislaman akan lebih dipakai. Semisal pengjian demi pengajian. Itulah faktanya (bukan berarti ini pembelaan saya, untuk lebih terjun pada pendidikan formal atas nama keislaman: perjalanan waktu saya, malah sering bergiat pada pengetahuan yang non-islam, artinya, tidak sibuk dengan keislaman. Status keislaman yang saya kerjakan karena saya bertinggal di pondok pesantren). Bahkan sekelas SMP, di zaman sekarang, sebagaimana bersama kita ketahui: mendadak laksana menjelma MTS. Jika SMP itu berlabuh pada menteri pendidikan, maka MTS berlabuh pada menteri agama. Kira-kira begitu. itu pun jika dibicarakan pada level SMP, jika dinaikkan pada level: MA atau SMA atau SMK atau STM atau sejenisnya: sekarang pun, masih tidak jauh berbeda dengan zaman-zaman dulu, yakni sekolah yang itu menyebrang ke desa.



Jika lebih tinggi, maka penyeberangannya, lintas kabupaten. Bahkan bisa jadi lintas provinsi, di pulau jawa misalnya. Sekali pun begitu, pada level bawahnya, masih juga ada yang berpendidikan di jawa, walau tidak banyak, namun masih ada. Masih ada.



Hingga kemudian, karena kabar ini kurang valid, maka saya akan sedikit mengobjektifkan kabar ini, yakni tentang kabar diriku. Bukan tentang yang lain, bahwa ini tentang kabarku. Kabar yang bertinggal di Desa Wargomulyo. Bahwasanya: kabarku baik.



Demikian.

Belum ada Komentar untuk "Kabar Wargomulyo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel