KEPUTUSAN






Keputusan, yakni kau memutuskan sesuatu. Hati-hati, seketika kau menjadi ‘hakim’ (orang yang menghukumi: memberi hukum) yang kurang jeli mengambil keputusan. Kenanglah, Taufik, setiap apa-pun itu, tindakan atau kata-katamu, itu adalah putusan dari apa-apa yang telah kau dapat: entah itu secara panca-indera atau dari referensi teks demi teks, itulah yang terputuskan dari dirimu. Oleh karenanya kau penting hati-hati. Maksud dari hati-hati adalah bersikap waspada.

Keputusan itu membuat efek, Taufik.
Keputusan itu berefek, Taufik.
Keputusan itu menimbulkan sesuatu, Taufik.

Agaknya, setiap kata itu terkesan sekedar kata, namun kau seorang penyair, tentu kau mengetahui bahwa satuan kata itu terjadi tidak begitu adanya, satuan kata tercipta tidak begitu adanya. Tidak seketika.  Lebih-lebih kau pengkaji filsafat, tentunya, bagimu kata adalah sesuatu yang sangat luar biasa: sampai-sampai pada era kontemporer, atau tepatnya abad 20 bersibuk pada kata, yakni filsafat analitik.

Kesibukan pada kata menjadikan mereka gencar mengamati satuan kata demi kata. sebab, kata itu tidak berdiri dengan sendirinya, ada yang berkaitan (berhubungan, jalinan) dengan dirinya. itulah yang dikatakan para filsuf strukturalisme, yang berkaitan dengan structural. Begitu juga dengan keputusan.

Apakah kau teringat, bagaimana ‘si hakim’ mengambil keputusan tatkala mereka duduk di sidang pengadilan?

Katamu, “Hidup kan tidak harus seserius seperti di meja pengadilan.”

Jawabku, “Apakah kau akan mendustakan apa yang kau percayai? Bukankah kau percaya Allah itu ada, Allah itu mengawasi gerak-gerikmu dan kelak akan menjadi hakim bagi dirimu?”

Katamu, “Ah sedikit-sedikit kau berbicara tentang Tuhan.”

Jawabku, “Bukankah kau percaya kepada-Nya? Mengapa kau menyangkal sendiri apa yang kau percayai?”

Ketahuilah, keputusan yang kau ambil hari ini, tentu itu akan berdampak pada kemudian hari, akan berdampak pada hari esok. Tiap-tiap kata yang kau gelontarkan hari ini, itu pun mempengaruhi tentang kehidupan kelak. Sangat-sangat mempengaruhi. Sebab, manusia itu pasti dan bakal membicarakan masa-lalu, lebih-lebih di saat keadaanmu (lingkunganmu, atau negaramu) berstatuskan damai. Maka sudah pasti, mempunyai kesempatan untuk mendoker-doker masa-lalu, dan disaat itulah keputusanmu atau tiap-tiap yang kau kerjakan akan terbongkar dengan jelas. Bukankah begitu tatkala kau mencari tentang keakuanmu? Kau temui tentang seluk beluk kedirianmu, kejadian-kejadian yang terjadi pada masa dulu.  Sebabnya, karena ‘statusmu’ damai.  Andai statusmu itu perang, tentu saja, kau tidak akan sibuk dengan mendoker-doker masa-lalu, melainkan masa-lalu dijadikan ajang untuk melihat gerakan depan. Ringkasnya, yang lebih diutamakan tentang masa yang terjadi, yang berkaitan dengan masa-depan, bukan tentang masa-lalunya.

Sekarang kembali tentang keputusan:

Akhirnya—ya! Aku memberitahumu tidak terlalu lama--  waspadalah saat kau mengambil keputusan. Keputusan yang apa: yakni, kata-katamu (lisanmu), gerak-gerikmu, dan sesuatu yang kau tetapkan. Apakah hal itu mengingatkanmu tentang pengertian hadist? Bahwa setiap kata, gerak, dan ketetapan Nabi, itulah hadist. Jawabku, tetaplah tiru Kanjeng Nabi Muhammad, baginya terdapat teladan yang baik.

Begitu ya…

Belum ada Komentar untuk "KEPUTUSAN"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel