MENJADI RAJA







Kalau kau ingin menjadi raja, maka kau harus mengerti tentang apa itu raja? Setidaknya, kau mengerti pengertian dasar dari raja, fungsi raja, peran raja. Selain itu, kau juga penting mempersiapkan dirimu kuat-kuat, karena menjadi raja itu penting mempunyai kekuatan. Kenalilah, kekuatan bukan berarti kekuatan secara fisik, melainkan keseimbangan kekuatan; yakni fisik juga jiwa. Sebab, yang bakal dihadapi raja bukan saja tekanan fisik melainkan tekanan yang itu ada di dalam diri.



Tekanan di dalam diri (Selanjutnya saya sebut: jiwa) itu beragam-ragam macamnya: bisa saja dari tekanan dari orang terdekat, tekanan dari jajaran yang agak jauh, lebih-lebih tekanan dari yang jauh.



Dan cara mereka menekan itu, mempengaruhi pola-pemikiranmu, menghasut dan memprovokasi dirimu, atau bahkan menyita tentang diri, keluarga, dan para jajaranmu.



Setidaknya, tatkala menjadi raja, maka kau harus mengerti tentang hal itu.



Menjadi raja, bahasa kontemporernya, menjadi presiden. Itulah yang besar. Yakni menguasai Negara. Menjadi orang nomer satu di Negara. Itulah batasan di zaman kontemporer. Yang dengan itu, si presiden mampu menyelusuri berbagai macam aktivitas yang dikerjakan manusia:

Politik,

Agama,

Permainan,

Ekonomi,

Dan hal-hal yang ada untuk manusia. Ringkas kata, menjadi raja itu mengusai tentang sesuatu yang dirajainya.



Kenalilah, istilah kerajaan itu terjadi karena berada pada status kerajaan, tepatnya, itu berada di masa lalu, yang itu sarat dengan kekuasaan raja. Yang mana, untuk menguatkan kerajaannya, mereka mempersiapkan bala-tentara untuk mengusai kerajaan.



Perbedaan yang mencolok: kalau tidak mau mengusai, maka akan dikuasai. Itulah kalimat ringkas dari kerjaan-kerajaan dahulu kala.



Namun sekarang, yang penting aku kabarkan kepadamu adalah persiapkan diri untuk menjadi raja: yakni kekuatan fisik dan kekuatan mental (jiwa; intelektual). Cara untuk mendapatkan keduanya, maka perlulah dilatih keduanya.



Kekuatan Fisik



Sebagaimana yang sering dipaparkan oleh ahli-ahli fisik, maka untuk mendapatkannya harus terbiasa dengan menggerakan fisik, harus terus melatihnya, dengan cara apa: mengolah fisik, mempekerjakan fisik. Ukurannya, ketahanan diri. Setidaknya mempertahankan diri. Dan kau, bisa saja berlatih hal itu: dengan cara, misalnya: berlari berjarak-jarak, yang tentu tujuan awal mempersiapkan keterkokohkan ragamu. Seluruh ragamu. Lintasan yang kau buat untuk berlari, itu terserah: apakah lintasan lurus atau lintasan yang terjal, yang pasti, kau penting mempersiapkan fisikmu. Pendek kata olah raga.



Kekuatan Jiwa




Kekuatan jiwa, bahasa pendeknya, mampu mengolah jiwa. Bahasa populernya, mengetahui tentang psikologi. Psikologi siapa, yakni diri sendiri, itulah hal yang paling utama. Harus dikenal tentang kepribadian diri secara matang. Caranya, tentu perlahan-lahan. Atau bahasa lainnya,--tentu, ini anjuran saya—menguatkan tentang keimanan kepada Tuhan. Penting menguatakan perihal keimanan kepada tuhan. Bahwa ketaaatan utama adalah ketaatan kepada Tuhan. Dan siapa yang disuruh taat? Tentu, si individu Raja itu. dan cara-cara untuk mendapatkan itu, mempraktekkan apa-apa yang dituntut untuk pembersihan jiwa. Caranya, carilah hal-hal praktis untuk membersihkan jiwa. Biasanya dan sering: kekotoran jiwa itu terjadi karena kotornya cara pikir, atau kotornya permainan hati. Hati siapa? Tentu hati si individu. Maka penting dibersihkan. Dan cara membersihkannya, tentu mengolah pemikiran (saya mengatakan mengolah pemikiran karena begini: hati itu lebih dalam dibanding pemikiran. Itu sebabnya, sebelum sampai hati, maka sampailah pada konsep pemikiran.) lalu, bagaimana mengolah pemikiran: yakni mengolah pemikiranmu. Berpikirlah yang baik dan menyerahkan kepada-Nya. Itulah kuncinya. Kunci bukan berarti itu sudah melakukan perjalanan. Belum: melainkan sekedar kunci. Di sana ada halaman ada ruang-ruang. Dan untuk mengetahui itu, maka dibutuhkan intelektual, atau proses pendapatan pengetahuan. Dan untuk mendapatkan pengetahuan tentu dengan cara belajar yang rajin. Sudah sangat mustahil kalau tidak belajar dengan rajin, akan mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh yang berkaitan dengan kejiwaan. Belajar itu, bukan serta merta mendapatkan pengetahuan: ketahuilah, tujuan ini adalah hati atau jiwa. Bukan terbatas pada pemikiran atau pada otak, melainkan jiwa. Itulah sasarannya.



Selanjutnya, dari dua tawaran tersebut, itu harus digabungkan. Fisik berjalan, jiwa berjalan. Jika ditimbang-timbang, maka tentu itu terkesan memberatkan. Sebenarnya prosesnya begini, atau ringkasan yang saya tawarkan begini:



Kau harus aktif secara fisik, selain itu kau harus rajin belajar, yang tujuannya menguatkan jiwamu. Artinya, kau tetap belajar untuk menguatkan fisik namun kau juga harus belajar untuk menguatkan jiwa. Begitu.



2017




Belum ada Komentar untuk " MENJADI RAJA "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel