PEMBACAAN ULANG ATAS DATA-DATA YANG TERKUMPULKAN




Membaca ulang terhadap teks-teks yang berkaitan dengan filsafat (yang berhubungan dengan teks filsafat) yang kali ini berusaha untuk menanamkan teks tersebut di dalam pikiran, yang tujuannya pelaporan kepada yang dilapor (guru filsafat), yang dari itu setidaknya saya akan berusaha mengingat lebih jeli tentang apa yang terlapor, khususnya menjadi model hapalan. Ringkasnya, saya berdaya diri untuk menghapal apa yang terbaca. 



Berusaha menghafal untuk dilaporkan, yang itu harus membuat sistematis rangkaian, dan saya memilih berdaya diri untuk menghafal menurut sejarah besar, tanggal-tanggal sejarah. 



Tanggal-tanggal sejarah berdaya keras saya tanamkan pada ‘perhafalan’ saya, dengan tujuan: 



Di tahun sekian terjadi begini, lalu apa hubungannya dengan ‘data’ yang terbaca.

Di tahun sekian terjadi begini, tentu berkaitan dengan data yang terbaca.



Kata kunci di sini, hapalan. Yang bertujuan, untuk lebih menguatkan tentang pemahamanku, maksudnya untuk lebih mengetahui. 



Mengetahui berarti menghapalkan data. Itulah yang sering terjadi. terjadi di ruang-ruang akademisi, terjadi pada khalayak ramai yang kelak disebut dengan intelektual. Kelas-kelas intelektual diharusnya mempunyai daya hapal yang kuat terhadap keilmuannya. Mempunyai daya hapal yang banyak untuk lebih ‘menjaga’ keintelektualannya, menjaga kepandaiannya.



Hingga akhirnya, mereka harus berkesibuk untuk mempertahankan hal tersebut. Maka jadilah ruang-ruang yang mandiri, yakni belajar, untuk menghapal, mengurung diri di rumah, mematai teks demi teks, dan mengulang-ulangi teks, yang bertujuan untuk menanamkan ‘pengetahuan’. Yang kemudian, melaporkan kepada siapa-pun yang hendak dilaporkan, bahasa lainnya, menggurui, atau memberikan pengajaran, transfer pengetahuan. Maka masuklah dia ke lembaga pendidikan, dan disana ditawari oleh kewajiban-kewajiban sebagai akademisi, seperti tridarma bakti perguruan tinggi. Dan jadiah orang tersebut berjabatan orang yang berilmu, karena mempunyai tanggung jawab ilmu, yang itu tentu bukanlah sedikit, bukanlah kecil. 



Pengabdian terhadap masyarakat, penelitian, pengajaran. 



Dan kembali tentang pembacaan ulang data-data yang terkumpulkan.



Perlahan-lahn (atau bahkan pola bacaan saya mempercepat) saya membuka kembali data-data yang tersimpan di laptop saya, data-data yang berkaitan dengan teks-teks filsafat, berupaya untuk seluruhnya di baca, yang mana tujuan utama: saya mendapati garis besar ‘study tokoh filsafat’ yang akan dilaporkan kepada penerima laporan (Guru Filsafat), hingga kemudian saya mendapati (atau sebenarnya ini pendapatan yang lucu kalau disebut sebagai pendapatan: sebab, saya mematai ulang apa yang pernah termatai) bahwa persoalan di zaman seperti sekarang ini, memang ternyata penting sekali untuk menghapalkan data demi data yang kemudian akan berlanjut:



Dengan mengetahui data-data sebelumnya, sudah tentu akan mendapatkan nilai. Dan nilai, jika dilaporkan secara ‘lisan’ maka itu masih penilaian tentang subjektif, namun di zaman yang sarat dengan rasio, maka yang dibutuhkan adalah objektif. Itulah tuntutan orang-orang di zaman seperti ini, tentang objektif. Apa itu objektif? Yakni sesuatu yang berfakta, mempunyai bukti. Itulah titik tekan zaman seperti sekarang ini. jika tidak mempunyai bukti atau berfakta, maka masih dikatakan subejektif. 



Bisa jadi, orang-orang akademisi, tidak perduli dengan bagaimana orang-orang mendapatkan ‘objektif’ itu? Entah itu menyonto, atau menyontek, atau bahkan mengopy-paste di internet, karena ‘lembaga’ pengetahuan itu, biasanya sekedar mengulang-ulang pelajaran yang umumnya telah diselenggarkan. 



Biasanya, para guru, tidak perduli terhadap ‘bagaimana perkembangan pemikiran’ anak-didiknya, entah itu tambah cerdas atau kepayahan berpikir atau tentang sudahkah benar-benar memahami apa-apa yang dipaparkan, itu kurang penting: yang terpenting, si anak-didik menyelesaikan atau membuktikan bahwa dia mempunyai bukti laporan yang bersifat ada laporan.



Itulah sebabnya, kau, Taufik, kurang taat terhadap hal tersebut, kurang jeli menangkap zaman, kurang paham terhadap maksud-maksud system, dengan menaati apa-apa yang diperintahkan system, sehingga pemikiranmu sejak dulu terjebak di dalam-pemikiranmu, alih-alih kau ‘mengetuk’ pemikiran teman-temanmu, supaya mereka benar-benar ‘membutuhkan’ tentang keilmuan, namun faktanya, kau kurang taat terhadap system, termasuk system dirimu sendiri: bukankah keacak-acakan pembacaanmu terhadap filsafat itu penting sekali lagi dipenuhi, dan ternyata tokoh-tokoh filsafat yang kau hapal itu tidak begitu banyak sesuai dengan tokoh-tokoh yang semestinya banyak. Jika ditanyakan, apakah penting banyak untuk menghapal seluruh tokoh-tokoh tersebut? setidaknya, menurut akalmu, daya tangkap pemikiranmu, kau harus mengetahui itu, Taufik. 



Akhirnya, pembacaanmu itu, pengulangan pembacaanmu kali ini, terdaya untuk lebih mensistematiskan tentang apa-apa yang terbaca olehmu dan itu setidaknya penting dihapalkan, yang tentu, nilai-utama untuk dirimu, jika pun system mengatakan itu baik: maka tentu, kau mendapatkan nilai baik. 





2017

Belum ada Komentar untuk " PEMBACAAN ULANG ATAS DATA-DATA YANG TERKUMPULKAN"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel