Kebijaksanaan





Kau mengartikan filsafat adalah ilmu tentang cinta kebijaksanaan, ilmu tetang cinta kebenaran. Yang mana, alasan kuat dari filsafat itu penggunaan akal. Akal sangat-sangat digunakan, dan itulah yang kau renangi. Lalu kau meyelam lebih dalam untuk menjadi bijak, menjadi orang yang bijak terhadap kenyataan yang terjadi.

Ukuran bijak, tentu, kau membaca tentang keadaan yang terjadi, itulah pembacaanmu. Itulah cara kau mengambil keputusan terhadap yang kau bijaki. Yakni melihat suatu perkara dan mengambil jalan tengahnya, itulah sikap dikala kau melakukan itu secara sendiri.

Jika kau berkumpul bersama yang lain, maka kau akan mejadi diam. Kau sekedar diam terhadap apa-apa yang terjadi, lebih-lebih saat mereka telah mempunyai keputusan untuk mejalankan. Dan tugasmu adalah sebelum terjadi keputusan, maka disitulah peranmu, yang menimbang-timbang terhadap kenyataan yang terjadi degan pembacaan total terhadap realitas yang terjadi.

Realitas yang terjadi tentu berkaitan erat apa-apa yang menampakkan, sesuatu yang menampakan itulah yang mejadi ukuranmu. Tatkala sudah terjun, maka sesungguhnya itu bukan mejadi kajianmu, namun jika itu mejadi kajianmu, maka kau kembali degan alat ukur.

Realitas mejadi alat ukur untuk kelak kau berbicara saat konsep di buat untuk mendapatkan keputusan.

Apakah bahasaku terlalu payah untuk dipahami?

Apakah bahasaku payah untuk kau terima?

Begini:

Akhirnya kau menempatkan filsafat sebagai jalan hidup. Itulah dirimu. Itulah pilihanmu. Maka untuk memperkuat tentang hidup dan pilihanmu, kau harus lebih aktif untuk memahami jalan cerita filsafat yang itu ilmu-yang-jadul, ilmu yang lama, ilmu yang terdata bahkan sebelum masehi. Kau harus paham, maka syarat untuk paham adalah mengetahui. Dan syarat untuk mengetahui tentu membutuhkan data-data. Dan pendapatan data, bisa saja: lewat buku-buku, lewat tulisan-tulisan, atau ceramah-ceramah, namun kau harus lebih focus terhadap masalah utama filsafatmu, yakni sebagai jalan hidup. Artinya, kau tidak harus melalaikan tentang kehidupanmu. Kau tidak harus lalai terhadap realitasmu.

Saat kau bersibuk pada data-data atau ilmu-ilmu empiris, bisa jadi kau lupa daratan. Oleh karenanya, kau harus mendarat juga, kau harus mengabarkan kepada yang lain di darat. Atau, bila pun kau tidak mendaratkan, maka kau penting menyampaikan kepada yang ada di darat. Jika kau tidak meyampaikan, maka kau akan mengambil keputusan yang sesungguhnya perihal sesuatu yang berkaitan dengan ide demi ide. Tujuannya menyelamatkan keakuanmu, setidaknya tentang pertahanan eksistensimu di dunia; yang mana dengan seringnya menyampaikan, maka kau akan disebut dengan pengajar. Dengan status itu maka kau akan diberikan upah terhadap apa yang kau kerjakan itu. Pembicaraan upah, begini: kau harus ikhlas tatkala mengajar, jika kau berpikir tentang upah, maka ajaranmu pasti berkaitan erat dengan nilai upah. Artinya, kau tidak menggantungkan diri dari upah perguruanmu.

Saat kau tidak mempunyai harta atau uang, maka kau harus bekerja yang lain. Itulah pilihannnya. Sehingga orang-orang kelak akan membutuhkanmu untuk menyampaikan apa-apa yang hendak kau sampaikan. Artinya, kau menjadi manusia biasa di antara sepesekian manusia yang ada, yakni saling menyaling untuk mempertahankan eksistensi.

Artinya, guru tidak menjadi prioritas utamamu.

Jika pun tidak menjadi seperti itu, kau bisa bekerja apa-pun itu, yang pasti, pikiranmu harus ikhlas dengan apa-apa yang kau kerjakan itu: jangan perdulikan tetang nilainya, yang pasti pekerjaanmu itu bernilai dan mampu untuk kecukupan secara materi. Dengan begitu, secara otomatis, pemikiran filsafatmu itu menjadi realitas, praktis. Yakni, filsuf yang menjalankan hidupnya atas pilihan yang dibuat dirinya sendiri. Kenalilah, mejadi orang-bijak itu, tidak harus terkungkung pada dunia akademisi. Tidak harus orang-orang menyebutkan sebagai filsuf. Melainkan, dirimu sendiri berkata: aku akan berdaya menjadi orang yang bijak. Begitu.

Belum ada Komentar untuk " Kebijaksanaan "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel