KERJA PRAKTIS






Mereka bekerja secara praktis. Yakni, bekerja lalu mendapatkan uang. pikirnya, yang pasti halal, tidak mencuri. Mereka kurang (atua bahkan tepatnya: tidak!) perduli tentang efek-efek yang terjadi pada kemudian hari. Mereka mengabaikan tentang masa depan yang tidak pasti. Baginya, kepastian adalah saat ini, yakni kepraktisan dalam hidup. Ialah bekerja lalu mendapatkan uang. katanya,



“Kami bukanlah orang yang besar, yang berpikir besar dan ribet dengan struktur-stuktur yang terjadi. yang pasti, kami bekerja lalu mendapatkan upah. Kalau kami punya uang banyak, maka kami akan membeli apa yang mampu kami beli. Kalau kami punya uang banyak, maka kami akan umroh atau jalan-jalan ke luar negeri.”



Pikiran mereka seringkas itu; sebab, untuk apa berpikir yang ribet dan ruwet, njimet dan bermuluk-muluk, layaknya berangan-angan dan berfantasi, hidup pada dunia yang bukan saat ini, seakan lebih cerdas untuk membaca masa-depan yang tidak pasti. Karena mereka juga percaya, masa-depan adalah misteri. Katanya.



“Masa depan itu sesuatu yang belum terjadi. bila pun dirancang. Ah biarlah orang-orang yang berkesempatan untuk merancang. Bagiku, hidup adalah kesimpelan apa yang terjadi. yang pasti, aku bekerja lalu mendapatkan uang. jika punya uang lebih, aku akan membeli ini-itu, ini-itu, kalau lebih kami akan jalan-jalan keliling pada suatu tempat yang dipamerkan oleh televisi –televisi. Atau kami akan makan yang enak-enak, segar dan menyehatkan. Di meja ruang makan kami bergeletakan buah-buahan dan daging-daging yang menggiurkan. Lalu kami ditemani lagu-lagu yang romantis atau menggugah jiwa, atau disemproti parfum-parfum yang menangkan pemikiran kami. Kalau tidak seperti, maka kami menjalani hidup yang praktis, yakni kerja praktis lalu mendapatkan uang.”



Dan mereka menghendaki anak-anaknya untuk cerdas dan hebat. untuk lebih mapan dan terhormat. Anak-anaknya digiring untuk ke sekolah, yang dibiayai dan dibiayai oleh pemerintah. Mereka tidak tahu apa-apa yang terjadi terhadap anak-anaknya, pikirnya:



“Aku telah berusaha untuk memandaikan anak-anakku pergi ke sekolah. Membiyahinya. Selebihnya, terserah kepada anak itu, karena di sana ada guru-gurunya.”



Lalu mereka sibuk pada kerja praktis lagi. Yakni, kerja mendapatkan uang. Sesekali mereka membangkan tentang agama, agama islam, tidak shalat, karena katanya, ‘aku lagi males.’ Atau ‘pekerjaan masih menumpuk.’ Atau, ‘pekerjaan begitu mendesakkan.’ Sementara itu, mereka lalai untuk mengaji, lalai untuk mencerdaskan dirinya, pikirnya:



“Hidup memang membutuhkan agama, tapi hidup juga membutuhkan materi. Kalau tidak punya bagaimana mau tenang tatkala ibadah. ibadah itu baik, tapi bagaimana kalau tidak punya uang.”



Namun, banyak juga mereka yang agak taat menjalani agama, mereka berkencang-kencang menyuarakan tentang agama. Mereka orang yang cerdik membagi waktu. mereka orang yang cerdas membagi waktu. hari-harinya laksana tekanan jadwal yang pasti: ada pekerjaan, ada ibadah. sesekali lidahnya berkata layaknya ulamak. Sesekali bibirnya menyeru tentang agama. Layaknya seorang bijak yang menyikapi keadaan. Katanya:



“Baiknya jangan lalaikan agama. Jangan lalaikan ibadah. Bekerja boleh, ibadah jangan di tinggal. Setiap orang memang membutuhkan materi, tapi sampai kapan materi akan tercukupi?”



Lalu ada yang berkata, “Agama itu membuatku repot dan payah. Waktuku harus disita untuk hal ibadah?”



Jawabnya, “memangnya seberapa banyak waktumu disita untuk ibadah? kau pikir, ibadah itu membutuhkan yang lama. Atau kau harus dijeret untuk senantiasa ibadah. memangnya, apa yang kau ketahui tentang ibadah? jangan-jangan pikiranmu yang payah dan repot menyikapi sesuatu yang disebut ibadah? atau jangan-jangan bola-matamu yang ‘salah’ menangkap atau melihat teks-teks yang berkaitan dengan ibadah, atau jangan-jangan telingamu salah memasukkan sesuatu yang berkaitan dengan agama. Atau, dilalah, panca-inderamu menangkap ‘yang bukan’ esensi dari ibadah,” katanya, yang kemudian ia menunaikan pekerjaannya kembali. Menunaikan sesuatu untuk mendapatkan hal yang berkaitan dengan materi.



Kerja praktis, mendapatkan uang, dan jangan lalaikan ibadah. itulah pikiran mereka yang agak renyah beragama. yang telah menerima dinamika hidup sedemikian adanya.



2017

Belum ada Komentar untuk " KERJA PRAKTIS "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel