ZAMAN INFORMASI








“Apa itu zaman informasi?” kataku, yang sebenarnya saya agak mengetahui hal itu namun kurang memahami secara tepat.



Jawabmu, “Suatu keadaan yang itu sarat akan pengabaran, sarat akan informasi. Berkeliaran kabar tentang sesuatu yang dikabarkan, entah itu secara langsung ataupun tidak langsung. Langsung bisa berarti dari ujaran langsung, atau ujaran melalui media. Atau kabar-kabar dari media.



Jika dulu, kabar informasi itu ditularkan lewat lisan, sekarang, selain lewat tulisan mampu lewat tulisan atau pun gambar. Hal itu ditandai dengan adanya media (maaf aku mengaduk-aduk pengetahuanmu; mengaduk-aduk pengalamanmu). Dan pembagian media itu, sekarang, beragam. Mulai dari tulisan (Koran, majalah, bulletin atau edaran-endaran atau pamplet), sampai yang berbentuk berita. Berita pun bermacam-macam, atau temanya itu pun bermacam-macam. Yakni kekomplekan ‘apa-apa’ yang ada di dunia. Itulah tawarannya.



Media itu pengabar. Bahkan pengabar yang berkaitan dengan komersial. Pengabar yang ada maksud menujukan tentang kabar tentang iklan. Jadilah ‘dunia’ iklan. Sarat dengan iklan. Dan orang pembuat iklan, mengemas iklannya (ini adalah bujuk-rayu atau upaya untuk orang membeli atau upaya orang memiliki apa yang ditawarkan) dikemas secara memikat dan menarik. Wal-hasil, sekali pun itu iklan menjadi sesuatu hal yang menjadikan ‘daya tampung’ pengetahuan.



Hingga kemudian, ‘media’ itu menjadi kendaraan untuk bekerja. Bahkan, tak jarang didalamnya ‘pengetahuan’ menjadi kendaraan (Atau alat) yang itu disebut kerja. Apakah bisa dimengerti?”



“Aku kurang ‘mengerti’ hal tersebut. maksudku kurang ‘memahami’ apa-apa yang kau uraikan barusan. Mohon diuraikan lebih detail?” kataku.



Jawabmu, “Perkara ini bukanlah tentang kamu tidak ‘mengerti’ atau ‘memahami’, namun kau kurang meresapi akan apa-apa yang terjadi di sekitarmu. Kau kurang ‘cermat’ menangkap sesuatu yang itu berkaitan dengan realitasmu. Kau kurang ‘jeli’ membaca realitas yang itu menugrubmu. Sesungguhnya, yang aku kabarkan ini tentang sesuatu yang ada di sekitarmu. Sesuatu yang itu sangat nyata bagimu: yakni informasi. Pertanyaanku sekarang, yang itu tentu untukmu: berapa banyak sumber informasi yang kau dapatkan di hari ini?”



“Sumber informasi yang aku dapatkan (kataku, sambil memperlambat diksi itu): pertama, dari orang, kedua dari buku, ketiga dari televise, keempat dari media sosial sekelas internet,” jawabku. “Sesungguhnya apa yang payah dengan keadaan tersebut?”



Jawabmu, “Apa yang payah? Payah itu apa? Akhirnya, kau harus mengerti tentang ‘satuan’ kata. Kau penting mengetahui tentang tiap-tiap kata yang kau ‘ucapkan’ itu. Sebagaimana para filsuf itu bergerak, yakni gerakan kata-kata, bahasa filsafatnya, filsafat analitik, yang berkonsentrasi pada kata-kata. entah itu berbentuk tulisan atau ujaran. Konsentrasi utamanya, kata-kata. pembahasannya bukan tentang ‘pembenaran’ kata-kata, melainkan ditinjau secara filosofis dari kata-kata yang menampakkan itu, dengan dasar-dasar pertanyaan: mengapa kata itu dikeluarkan? Mengapa kata itu mampu diujarkan?



Ini memang pengetahuan dasar. Namun, dari dasar itu merembet kepada suatu yang memuncak. Karena setiap ‘kata’ mampu menjadi informasi. Bahasa lain dari informasi adalah kabar. Bahasa lain dari kabar adalah transfer pengetahuan. Sepakat tidak sepakat, begitulah cara kerja pengetahuan.



Hingga akhirnya orang-orang berdesakan akan data-data (itu pun termasuk data pengetahuan) yang terserap oleh pemikiran. Yang kemudian, manusia itu merasa bahwa itu kebanyakan data, terlalu umpuk-umpukan, tumpang-tindih di dalam pikirannya, lalu mereka mencari cara untuk ‘meluruskan’ kegaduhan yang menumpuk-tumpuk itu dengan cara ‘mematenkan’ yang itu berada di sekolahan atau system sekolah.



Dengan diadakan sekolah, maka diharapkan mampu ‘mengurutkan’ informasi. Mampu memermudahkan cara pikir. Mampu ‘meluruskan’ kegaduhan pemikiran. Namun faktanya, masih banyak para ‘pelajar’ yang terkejut dengan hal tersebut, tidak benar-benar manut dengan hal tersebut, karena juga, ‘guru’ atau ‘penyampai kabar’, seringkali kurang memahami ‘keadaan’ zaman, artinya tidak begitu cerlang membaca zaman. wal-hasil, tiap-tiap individu ‘penting’ untuk mengikuti ‘sistem’ yang berlaku, kalau menolak, maka tidak masuk pada gerakan yang terjadi. Artinya, tidak menuruti ‘sistem’ besar yang direncanakan. Pendek kata, gerakan ini, lebih mengunggulkan gerakan ‘struktural’. Orang-orang filsafat sering menyebutkan, filsafat strukrulisme, yakni gerakan yang terstruktur.



Jika kau bertanya, apa kaitannya (hubungan, atau relasi) dengan zaman informasi? Jawabku, zaman informasi mengikuti gerakan itu. karena itu gerakan seluruh penjuru dunia menjadi seperti itu, yang sampai di desa kita, sampai pada lingkungan kita. Lebih tepatnya lagi, karena itu adalah zaman kita.”



“Apakah bisa dikatakan: zaman informasi itulah keadaan kita?” kataku.



Jawabmu, “Tepat, bisa dikatakan begitu. namun sekali lagi, penting diketahui satuan kata, informasi itu apa? Tujuannya apa? Kalimat tanya semacam itu, di zaman sekarang ini penting. Bahkan dikatakan, ‘penting’ sekali.”



2017

Belum ada Komentar untuk " ZAMAN INFORMASI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel