Memahami Manusia Indonesia

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” Begitulah kata sang proklamator bangsa Indonesia, Sukarno. Selain itu, ‘sejarah mampu menjadikan langkah ke depan apa yang akan diperbuat,’ kata filsuf sejarah, Ibnu Khaldun.
  • Siapa kita (Indonesia) sesungguhnya? 
  • Itulah dasar pertanyaan yang hendak saya gelontarkan: kitakah dari timur atau kitakah dari barat? Atau jangan-jangan kita dari timur yang berusaha ke arah barat? 
  • Atau kita dari barat yang berusaha untuk ketimur-timuran? Atau jangan-jangan kita tidak benar-benar mengerti tentang arah? 
  • Bukan arah barat atau bukan arah timur. Jika kita dari timur? 
  • Timur yang mana? Apakah timur-tengah, maksudnya jazirah arab, atau timur yang itu cina, atau bahkan dari india.


Sesungguhnya pertanyaanku tersebut ialah refleksi dari apa-apa yang telah diungkapkan; apa-apa yang telah dibukakan; telah beredar pada buku-buku sejarah, telah tersiar pada situs-situs internet. Situs interenet atau jaringan internet, kini benar-benar menyentuh perdesaan. Telah menyentuh di pelosok-pelosok. Dan pembangunan-pembangunan, kini mulai semakin merata. Jalanan semakin fakta; akses untuk memasuki daerah-daerah yang terpencil semakin mudah.

Dan pola kehidupan kini mulai membaur dan mengarah pada kelas-kelas internasional. Arah-arah pendidikan semakin meruncingkan untuk menjadi ‘pengetahuan’ skala internasional; namun, maraknya kejadian-kejadian, atau tindakan-tindakan, atau kegiatan-kegiatana manusia mulai semakin kering akan nilai-nilai spiritual.

Mengikuti pemikir islam, Sayyed Hussen Nasr, yang intinya, manusia mulai kering akan spritual, karena manusia mulai kelalaian kemanusiaannya. Mungkin beliau juga terpengaruh oleh filsuf jerman, Martin Heidegger, bahwa manusia lupa dirinya ada. manusia lupa dirinya itu benar-benar ada. (Tulisan itu, bisa ditelusuri dengan mudah pada situs-situs internet. Tinggal buka mesin-pencari, sebut saja, missal, Google, maka terbukalah pengetahuan itu. sebab zaman sekarang telah menjadi zaman kuota.) atau bahkan, kali ini saya mengikuti Filsuf Jerman, Nietzche, manusia telah membunuh tuhan. Karena sudah sangat beraninya menentang hukum-hukum Tuhan, atau bahkan meniadakan tuhan. Tuhan laksana menjadi sesuatu yang tertiadakan, tertiadakan dari realitas yang sebenarnya. Sebab zaman telah menjadi zaman yang serba ilmiah. Begitu menunggul-unggulkan sesuatu yang ilmiah, sesuatu yang objektif, hingga pada akhirnya segala sesuatu laksana diharuskan mengikuti system yang besar; dan manusia semakin lalai dengan kemanusiaannya. (itu bahasa saya; untuk lebih jauhnya, bisa ditelesuri. Apalagi di zaman keterbukaan, lebih-lebih yang saya tawarkan ialah pemikir yang data-datanya telah tersebar luas di era mesin penyimpan; yakni internet)

Dan Indonesia, pada faktanya, tentang ideologynya, ialah pancasila, sangat-sangat mengedepankan tentang keberdaan Tuhan. Namun saat kita melihat fakta-fakta yang terjadi, yang tersiar di televise; entah korupsi besar, korupsi kecil, maling, narkoba, criminal, gelegat-gelegat itu laksana menjauhkan diri dari sesuatu yang itu sangat-sangat pancasilais. Pikiranya, kita benar-benar lalai dari kita diri kita sendiri? Atua jangan-jangan kita benar-benar ‘melalaikan’ diri kita sendiri? Sehingga kalau diamat-amati ulang, tentang kejadian-kejadian yang melanda negeri, seakan, konflik (atau problem) utama dari bangsa Indonesia ialah kemiskinan. Yang itu, ukuran miskin selalu di arahan pada materi. Materi yang berarti tentang ekonomi dan kelas kepemilikan. Pikirku, bukankah kita itu manusia-yang terdidik? Manusia yang terpelajar? Lebih-lebih manusia yang beragama?

Atau jangan-jangan, kita benar-benar didera arus globalisasi, yang itu sarat-sarat menekan dan berdaya diri untuk nilai materi, yang mana hal itu terjadi sebab terjadinya revolusi industry, atau pada masa abad pertengahan mulai terjadilah gerakan renainasance, hingga kemudian, mulailah bangsa eropa menyentuh seluruh dunia, dan nusantara kena imbasnya, hingga pada akhirnya (fakta yang terjadi) mengikuti juga pola-pola yang ditawarkan bangsa eropa, dan pendidikan sejak saat itu menjadi pendidikan yang berkiblat pada tekanan materi, dan berharap untuk penguasaan materi.

Dan kitakah lupa, bahwa kita pun manusia yang sarat dengan ketimuran, timur dalam arti dari arah hindia, yang tentu saja terpengaruh kuat oleh tradisi hindu-budha, dan selanjutnya keislaman yang ada di nusantara, dan itu menjadi khas karakater nusantara, hingga kemudian; di saat zaman menuntut untuk ‘kemerdekaan’ maka terjadilah Indonesia, yang pada akhirnya gagasannya utama tertuang pada bhineka tunggal eka (berbeda-beda namun tetap satu); yang butir-butirnya berada pada pancasila, dan itulah kita.

Ah agaknya manusia-manusia di zaman sekarang telah mengetahui itu, telah sangat-sangat mengetahui tentang pancasila; namun benarkah ketotalan pelajar, atau kaum pendidikan, benar-benar mengamalkan sesuatu yang pancasilais. Atau jangan-jangan sekedar tembang-tembung atau sekedar issue atau sekedar tembang-tembung tentang kata, dan ‘tidak’ terealisasikan, dan faktanya, kita laksana tertuntut keras untuk berkiblat ketat pada eropa. Sementara itu, ada juga yang seakan mendengungkan kencang-kencang untuk berkiblat pada timur. Atau jangan-jangan itulah konflik internal bangsa Indonesia; perebutan arah, yang tujuannya menentukan arah.

Ke timurkah atau ke barat? Itu sebabnya, saya bertanya: siapa kita sesungguhnya?

Jika kita melihat rangkaian sejarah, tentu saja, manusia Indonesia dibentuk dari kerajaan hindu-budha, selanjutnya kerajaan islam, selanjutnya penjajahan eropa, adanya jepang (walau pun sebentar) namun itulah status nusantara; yang dibackgrone oleh keunggulan tanahnya, tanah yang subur; sampai-sampai, saat system positivistic di terapkan di Nusantara (era Eropa di Nusantara) maka eropa mendapatkan penghasilan yang besar dari bangsa Nusantara. Itulah ‘sumber daya alam’ milik nusantara; yang kalau diamati dari kebutuhan dasar manusia. Maka untuk hidup, manusia butuh makan. Manusia butuh asupan sesuatu yang itu menjadi nilai-utama kelangsungan hidup manusia. Artinya, jika seluruhnya manusia Indonesia mulai mengembalikan pada ‘sumber daya alam’, maka di saat itu, manusia Indonesia menjadi orang yang kaya, tidak miskin, sebab tercukupkan akan kebutuhan utamanya, makan. Namun, jika tawaran keinginan, atau kehendak untuk menjadi kaya yang itu ukurannya orang eropa, maka secara tidak langsung, model kapitalisme tentu saja berkembang pesat di Indonesia, sebab prosesnya penguasaan pasar. dan proses-proses pasar, tentu saja dikuasai kaum urban, yakni kaum kota. Yang jauh dari prosesi pertanian, dan sibuk pada hal-hal yang praktis dan mengejar kemewahan. Sementara itu, tuntutan orang kota, berharap untuk harga-harga pangan di turunkan, sementara kaum desa, berharap harga-harga di naikan.

Jika proses-proses yang dikejar ialah nilai materi. Maka pengejaran untuk ‘bersanding’ dengan eropa, bakal terus menerus diusungkan. Sementara itu, maka nilai pada pengetahuan, atau system pendidikan, tentu berorientasi pada nilai materi; artinya para pelajar pun berorientasi pada nilai-kerja praktis, nilai kerja yang itu bermateri.

Bersamaan dengan itu, menurut saya, penting direfleksikan ulang: siapa kita sesungguhnya? Pokoknya, jangan lupa (atau sengaja dilalaikan) bahwa kita itu kaum beragama, yang semestinya takut kepada Tuhan yang maha esa. Apa pun itu jenis agamanya? Kita itu kaum beragama. nenek moyang kita, atau tepatnya sejarah kita, begitu adanya; bahwa kita beragama.

Sementara itu, agama, malah dijadikan ajang wacana, lebih-lebih pada wacana bahasa, sibuk pada ungkapan dan sibuk pada perbedaan; isu-isu yang terakhir tentu sibuk pada bahasa, hal itu senada dangan pemikir filsuf mutakhir (orientasi pemikiran pada logosentrisme; berkutat ketat pada logosentris. Hingga kemudian sibuk pada hermenuetik) sibuk pada filsafat analitik, kehidupan terasa sekdar ‘isue’ kata-kata, lalai fakta-fakta; fakta kita yang beragama, sekedar ‘kata’ beragama. faktanya, seakan tidak beragama. padahal para ‘pengkaji’ agama semakin banyak, faktanya semakin banyak juga ‘pelanggaran’ yang terjadi; ‘agama’ laksana kurang bernilai, kurang beraksi; aksinya sekedar ceramah-ceramah dan obral kata-kata.

Padahal, jika kita meningat sejarah manusia-nusantara, yang itu dilator belakangi oleh hindu-budha yang kemudian keberadaan islam yang membaur, maka disana sarat dengan nilai-nilai agama yang itu sangat-sangat sarat dengan spiritual; hal itu bisa ditelusuri, dengan kata kunci: bagaimana agama hindu? Bagaimana agama budha? Bagaimana islam di nusantara? Pastilah, awalnya bakal ditonjolkan tentang spirtual yang tinggi. Dan hal itu terjadi, karena tanah (sumber daya alam nusantara) mendukung untuk menjalani kehidupan yang praktis dan damai; untuk melaksanakan ajaran spiritual yang berkembang pesat.

Jika dikatakan, ‘apakah zaman dahulu tidak ada konflik?’

Jawabnya, ‘Sekarang, bukan itu masalahnya. Sebab, sekarang kita sedang berkonflik, yang mana konflik utamanya tentang identitas diri; yakni manusia yang beragama, namun laksana tidak beragama. itulah konflik kita. Karena itu konflik kita, tentu saja, jawabannya ada pada kita. Bukan individu-individu; melainkan kita.’

Belum ada Komentar untuk " Memahami Manusia Indonesia "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel