Semakin Membaca Strukturalis, Semakin mengaggumi Kanjeng Nabi Muhammad




Konsetrasi pemikiran filsafat dibagi menjadi empat babak, pertama kosmosentris, kedua teosentris, ketiga antroposentris dan keempat logosentris. Setiap kemajuan konsentrasi, pastilah menautkan diri pada konsentrasi sebelumnya: ketika tangga empat, maka disana ada bekas-bekas ke empat konsentrasi pemikiran. Di zaman sekarang, konsentrasi itu masih pada logosentrisme: apa itu? berkaitan dengan logo, tanda, kata. itulah konsentrasi utama pemikiran filsafat sejauh ini: begitulah pedoman keilmuan di zaman seperti sekarang ini, bersibuk pada logo.



Dan pada kesempatan ini, logo itu dikecurutkan pada kata-kata, tujuannya mencari asal-usul atau hakikat kata-kata: dan kata-kata itu dibagi menjadi dua, yakni kata ujaran dan kata tulisan: lisan (ucapan) dan tulisan (Teks). bersamaan dengan itu, karena pengkajian ini berkaitan dengan logo, maka lisan pun disertai asal-usul, mengapa harus diucapkan begitu? jawabnya karena budaya. Mengapa budaya itu ada? karena terciptanya kehidupan yang manusiawi. mengapa manusiawi itu mesti ada? sebab itu telah telah terjadi, dan manusia bisanya mencari-cari. 



Saat kita membaca sekali lagi tentang strukturlis, atau paham filsafat yang berorientasi pada sturkturalisme: pembentukan yang itu menyeluruh, mentotal, maka disaat itu, saya semakin mengagumi sosok idola kaum muslim, kanjeng nabi Muhammad. Yang mana, beliau saat berkata melihat realtiasnya. Melihat keadaannya. Melihat sosialnya. Mengukur budayanya. Lebih-lebih beliau menjalankan kehidupan yang itu tidak banyak berkata, berkata seperlunya. Tidak banyak merangkai kata-kata dan tidak sibuk tentang kata-kata: sekali pun di masa itu, Arab, sibuk dengan kata-kata, sibuk dengan pilihan kata-kata, yakni bersyair, berpuisi.



Namun kanjeng nabi Muhammad tidak bersyair. Sikapnya seringkali dianggap orang pendiam. Lebih menjalani kehidupan yang praktis dan manusiawi: mengembala kambing, berdagang, dan kemudian menjadi Rasul bagi kaumnya, yang tujuannya menyampaikan ke seluruh alam. 



Beliau menjadi panutan untuk ketotalan. Menjaga diri secara penuh. Memperhatikan dirinya secara seksama. Sebab, kejadian diri bakal dipertanggung jawabkan: tanggung jawab secara sosial; artinya dirinya bakal menjadi rujukan. Dan mengajarkan, bahwa setiap individu ‘mampu’ dan ‘dapat’ menjadi rujukan untuk kehidupan, kehidupan yang itu ada di dunia. Oleh karenanya, manusia harus beraksi, begitulah kanjeng nabi Muhammad: banyak bergerak dibanding banyak kata. banyak kata disampaikan kepada mereka yang telah percaya kepadanya. Kata-kata itu dilimpahkan danbanyak kepada orang-orang yang telah percaya kepadanya. 



Lebih-lebih di Arab, budaya arab, sangat kental dengan nuansa kata-kata, nuasa keberkataan, sudah pasti setiap apa yang disampaikan kanjeng nabi Muhammad laksana kata yang unggul dari sepersekian kata-kata yang diungkapkan. Bahkan, al-quran itu dituding-tuding adalah syair. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad dituding menjadi penyihir: sebab kata-kata yagn ditawarkan al-quran, begitu sangat menyetuh pemikiran, sebabnya al-quran tersusun secara sistematis dan bakal membawa ke ‘tempat’ yang itu melampaui realitas yang ada. maksudnya berkaitan dengan pemikiran; pemikran yang mendengarkan ungkapan al-quran bakal termasukkan pada pemikiran yang itu melampaui realitas yang ada, yakni realitas akhirat, sebab tawaran yang disampaikan ialah tawaran universal yang bertujuan manusia saling menyayangi dan saling adil, saling berbagi. Hanya saja, kehendak-kemanusiaan, atau tabiat kemanusiaan, senantiasa digiring oleh kehendak-nafsu, nafsu ingin bahagia sendiri, ingin sejahtera sendiri, ingin bergembira sendiri: dengan adanya Nabi Muhammad bersamaan dengan pemikirannya (tentu bimbingan dari Tuhan) mampu merubah keadaan arab, yang awalnya bersuku-suku menjadi satu suku: yakni suku islam. 



Lalu apa hubungannya dengan sturkuralisme? Atau filsafat berkaitan dengan sturktural. 



Orientasi kajian structural ialah tentang bahasa, tentang asal-usul bahasa, sebelum kemunculan bahasa, efek dari bahasa: darimana bahasa itu bermunculan. Artinya, masih sibuk pada ranah-ranah ide, sibuk pada pemikiran yang ada di dalam diri. Tujuannya tentu untuk kepemahaman akan dunia-realitas. semantara tokoh islam, Nabi Muhammad, menjalani kehidupan yang itu secara total berkaitan dengan bahasa. Bahasa dijadikan alat untuk berkomunikasi. Sebabnya lagi, di arab, telah bersibuk-ria dengan bahasa. Itu sebabnya, saya semakin membaca tentang srtruturalisme semakin mengaggumi kanjeng nabi Muhammad, yang kemudian, keterkaguman itu mengajarkan:



Sudahlah jangan sibukkan dirimu pada bahasa. Diamlah. Bukankah kanjeng nabi juga pernah bersabda, bahwa umatnya dianjurkan untuk diam. Lebih-lebih, tunaikanlah kemanusiaanmu secara utuh. Kalau kau sibuk dengan bahasa, maka masih juga sama, bahwa kajianmu itu upyek pada idea, sementara tawaran keagamaan itu untuk melakukan, untuk realitas. 



Ingatlah, bahwa di era dunia ketiga (atau bahkan sekarang telah menjadi era dunia empat) kekuatan sesungguhnya dari demokrasi ialah tentang aksi. Jika aksi-aksi itu yang ditawarkan berkaitan dengan kelompok-kelompok kecil, maka saranku: aksikanlah dirimu untuk kehidupan. Sebagaimana kau ketahui: hidup itu pasti berhubungan dengan manusia yang lain, dan kebutuhan utama dari kehidupan itu ialah dua hal: pertama, jasmani dan kedua, ruhani. Maka seimbanglah terhadap itu.



Karena kau pengkaji filsafat. Maka teruslah engkau matai dunia filsafat, sebab di zaman seperti sekarang ini: di zaman orang membutuhkan gelar. Begitu juga kan kata Ibnu Khaldun, tentang kebutuhan gelar. Maka gelarkanlah dirimu, dengan gelar itu, engkau akan menjadi orang yang special, special pada gelarmu itu. bukankah engkau ingat juga sabda kanjeng Nabi Muhammad yang intinya: ada dua di dunia itu yang kalau dicari tidak akan pernah usai: pertama harta dan kedua ilmu. Maka dirimu, saranku, cintailah ilmu pengetahuan secara sempurna. 



Jika kau akan berkata, mengapa arah tulisanmu menyandarkan pada agama dan keislaman? jawabnya, karena saya berada pada ranah-ranah itu, yakni keagamaan dan keislaman. kalaulah saya melepaskan itu, berarti saya bakal dikenai saksi sosial; lebih-lebih keagamaan dan keislaman menjadi basic pemikiranku, lalu bagaimana saya mampu melepaskan itu? dasar pemikiran yang telah menjadi darah pada tubuhku. Jika tidak pada tubuhku, maka berada pada tubuh-tubuh yang lain: sebab realitasku ialah realitas manusia beragama dan keislaman. bila pun saya tidak berada di area keislaman, maka saya berada di area keagamaan; maka bagaimana saya mampu melepaskan tali agama yang telah mengikat pada diriku? 





2018

Belum ada Komentar untuk " Semakin Membaca Strukturalis, Semakin mengaggumi Kanjeng Nabi Muhammad"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel