Petulangan Pikiran dan aku fakta (antara ide dan realitas)

Mempelajari filsafat, bagiku laksana petulangan pemikiran, yang disana tidak mempunyai rasa duka atau pun bahagia, yang ada ialah proses mencari sesuatu yang bertujuan untuk memahamkan pada mindset pemikiran. Laksana jalin menjalin untuk saling memadukan satu satu sama lain dan demi kecocokan, kecocokan yakni upaya untuk pemahaman; itulah yang terjadi didalam pemikiranku, untuk lebih membeningkan tentang pembacaan masa-lalu tentang ketidak-pahaman akan masa-lalu, akan sejarah, akan hal-hal yang menyertai sejarah. Sejarah tentang keberadaan, tentang keilmuan dan tentu tentang sejarah kemanusiaan. begitulah yang ada di dalam pikiranku; yang terkurangkan, sehingga harus mencari sekali lagi, sekali lagi lebih lama. Dan itu berada di dalam pikiran. 

Sementara fakta, aku fakta sedang duduk mengamati teks demi teks, sambil pikiranku bergentayangan melalui teks tersebut. teks menjadi alat untuk ‘peralanan’ pikiran, yang bersamaan dengan itu: proses pembacaan ditautkan dengan pembacaan-pembacaan yang telah lalu, atau dihubungkan dengan fakta alami, atau dihubungkan dengan pendengaran-pendengar yang telah lalu, atau dihubungkan dengan keadaan masa kini. Sementara aku fakta sedang duduk santai, mengamati teks. dan pemikiranku, melalang buana ke tempat-tempat imajiner yang terekam di dalam memoriku.

Tempat-tempat fantasi yang itu data rekaman dari ‘pengetahuanku’, ya sepenangkapanku; sebab kajianku tentang filsafat, tentu ini rekaman yang panjang tentang sejarah kemanusiaan. mulai manusia-manusia kuno, hingga perang darah, perang kuasa, dan tetek bengek yang berkaitan dengan kemanusiaan; acara kumpul-kumpul dan keinginan-keinginan dan upaya-upaya untuk mempertahankan kemanusiaan. maklum, kajian filsafat, maka sudah pasti ‘pemikiranku’ berusaha merobos (membayangkan; mengingatkan) tentang kejadian-kejadian masa lalu, yang hal itu terdukung dengan data-data yang ada. mulai dari film-film, atau teks-teks sejarah, atau dokumentasi-dokumentasi sejarah. 

Bersamaan dengan itu, maka disisi lain, kehidupanku, realitasku, menjadi sarat pencarian dokumen demi dokumen yang tujuannya untuk pemahaman diri terhadap realitas yang terjadi. pembacaan sejarah digunakan untuk menjadi perpijakan di zaman yang terjadi, keadaanku, yang hingga kemudian, semakin lama terkuatkan oleh status kesejarahan, maka kelak menjadi orang yang ahli dalam sejarah; maka orang tersebut bakal mengulang atau mengajar perihal sejarah, dan dirinya, karena mengulang maka dituntut untuk menguatkan tentang ‘pengetahuan-sejarah’ maka orang tersebut harus mencari sekali lagi tentang ketotalan sejarah, sampai-sampai ia benar-benar ‘paham’ dengan jalannya waktu sejarah, tanpa terketinggalan sekalipun. Sekali pun seperti itu, pasti, bakalan terjadi terhadap ketertinggalan data sejarah. Itu sebabnya, orang tersebut harus ‘sekali lagi’ lebih meneliti (yang tujuannya untuk pemahaman dirinya) tentang sejarah. Sebab, dia berkedudukan orang yang ahli dalam sejarah. Itu pun kalau orang tersebut, benar-benar menjadi ‘ahli dalam sejarah’ hingga akhirnya kehidupannya lebih tersibukkan pada perkara sejarahan, dan di zaman seperti sekarang ini, bakal terikat perihal kesejarahan kecuali orang tersebut menghentikan ‘proses pencarian’ dan menuju realitas yang sebenarnya: yakni percampuran dengan masyarakat-masyarakat lain dengan berbekal pengetahuan sejarahnya.

Dan keadaan seperti itulah yang sering terjadi, orang menjumpai kehidupan realitas bersama dengan itu, ia membawa dengan bekal pengetahuan yang dimiliki. 

Namun, adakalanya orang yang tidak benar-benar focus pada pengetahuan, semisal menjaid guru sejarah, yang ada tugasnya sekedar mengulang-ulang teks-teks yang tersedia, dan kurang meneliti sekali lagi perihal kesejarahan dan memperbarui data-data sejarah, artinya menambah rangkaian sejarah yang dipaparkan. Bila pun itu terjadi, maka efeknya orang-orang akan semakin umpuk-umpukan menerima data sejarah, wal hasil: kehidupan sarat dengan nilai-nilai sejarah, sarat dengan ide. Dan para pelajar pun, sekali lagi tenggelam pada pelajaran. Sekali lagi, lebih dalam berkaitan di dalam pemikiran, sibuk di dalam pikiran.

Begitu juga dengan pemikiranku, hari ini—atau hari-hari sebelumnya—mulai sibuk dengan pelajaran demi pelajaran, mulai lebih banyak menyelusuri filsuf-filsuf. Penyelusuran yang terjadi ialah secara acak: dari sejarah klasik menuju saat ini, dan saat ini menautkan dengan sejarah klasik, dan klasik kea bad pertengahan, dan dari abad pertengahan menuju era klasik, menuju ke modern, menuju ke saat ini. gaya penyelurusuran antara ke belakang (masa-lalu) dan masa sekarang. Perlahan-lahan, mulai bertambah tokoh-tokoh yang hendak diamati. Lalu cabang dari tokoh yang sentral menuju tokoh yang menyempitkan pandangan tokoh utama. Begitu seterusnya. Dan yang dibahas, tentu saja berkaitan dengan filsafat. Orientasinya, tentu saja filsafat barat; saat membicarakan filsafat barat, pastilah bakal menemui filsafat islam. sebab di abad pertengahan, disitulah letak filsafat islam unggul. Filsafat islam muncul tokoh-tokoh filsuf dari kalangan islam.

Sementara kefakataanku, sekarang, berada di lingkungan desa, dengan model kehidupan praktis. Menuju sawah, dan bekerja secara manual berhubungan dengan persawahan: menyulam padi, membersihkan rumput di galeng, membersihkan rumput di tengah petakan, dan berdialog dengan orang-orang sawah lainnya, berbicara soal air, soal duka tanaman, soal hal-hal lain, kalau sedang berdialog. Berdialog yang atapnya adalah langit biru, itu pun kalau terang. Kalau gerimis, sibuk di tengah petak, menjalankan ‘kerja’ yang seharusnya dikerjakan.

Dari kefakataanku itu, bagiku, mengajarkan bahwasanya hidup itu pada dasarnya tentang pola bertahan tentang kehidupan. Para filsuf-filsuf besar sekali pun, menurut saya, kepersibukannya pada tujuan utamnya tentang upaya bertahan tentang keberadaan dirinya. Yang kemudian berdaya diri untuk membentuk aturan-aturan kehidupan. Dengan cara mengolah-olah data yang ada, menjadi sesuatu yang bersifat ilmiah, begitulah dasar orang yang berpengetahuan ilmiah. Sekali pun seperti itu, tujuan dasar dari kemanusiaan ialah mempertahkan kehidupan-kemanusiaannya itu sendiri; bersama dengan pencarian keakuan, dan membaca nafsu-nafsu yang itu tabiat dari kemanusiaannya itu sendiri. 

Sebab keadaan telah menjadi tersistem dan teratur, ketat, kuat, dan rapi, maka mau tidak mau manusia harus menjalankan kehidupan yang telah tersistem tersebut; menjalankan aturan main dari kepersisteman tersebut. lagi-lagi, tujuan dasarnya, menjalai peran tentang kehidupan, tentang kemanusiaannya. Yang sejak bawaannya, setiap manusia berkehendak ingin menguasai, dan dengan itu, maka orang akan bahagia. dengan kuasa, maka orang bahagia, sebab mereka mengatur lagi dihormati, disegani dan pekerjaannya enak. Paling-paling sekedar berpikir, bila pun ada konflik, maka konflik utama ialah peperangan. Begitulah watak-watak dari sejarha kemanusiaan. berhubungan dengan konflik kemanusiaan: yang tujuand asarnya, tentang menjalani peran tentang kemanusiaan, dan aturan-aturan kehidupan.

Begitu juga denganku, sekali pun pemikiranku mengajakku untuk berpetulangan di Negara-negara terdahulu, dan berusaha menemui pemikir-pemikir yang disebut dengan filsuf, melalui kata-kata dan kenangan, dan data pengetahuanku: secara fakta, aku masih menjalani kehidupan yang itu dasar sekali: bahwa manusia itu membutuhkan materi untuk bertahan hidup, manusia itu membutuhkan intelektual (ruhani) untuk ketahanan hidup, dan manusia itu harus bekerja untuk menjalani proses kehidupan. Dan manusia, tentu saja, tidak mampu ‘mengubah’ suatu keadaan menjadi keadaan masa lalu; zaman sekarang, begitulah zaman yang terjadi dan harus dihadapi dan dijalani. Demikian.

Belum ada Komentar untuk " Petulangan Pikiran dan aku fakta (antara ide dan realitas)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel