Identitas Pengetahuan



Identitas Pengetahuan-- Kalau ukuran kita pengetahuan barat, eropa, maka kita jauh-jauh tertinggal untuk hal model pengetahuan eropa yang telah tersistematis dan menjadikan gerak mereka sibuk dengan perkara ilmu, lalu jadinya sangat objektif dan sangat positivistic. Dan jika ukuran pengetahuan kita ialah mengacu pada arab, maka kita akan dikuasai oleh orang-orang yang pandai berbahasa arab dan mereka akan duduk ‘berkuasa’ mengusai gerakan kemanusiaan yang watak dari kita kurang suka membaca, maka siapa-pun yang pandai berbahasa, mampu duduk ditempat-tempat yang mulia dan terhormat.


Namun, kalau ukuran kita, pengetahuan kita di arah mistik, maka pengetahuan eropa yang postivistik itu, laksana menganggu tentang ‘model-model’ kemistikan, karena pikiran positivistic ialah model rasio dan manusia diarahkan untuk lebih ketat, pada gerakan rasio. Dan lagi-lagi, kita bakal ketinggalan terhadap kedudukan rasio, karena model utama kita berkaitan erat dengan mistis dan menjalani kehidupan praktis. Sebab, serangan utama dari non-mistik, rasio, berkekuatan pada media, maka selancar media tentu menjadi orang-orang kita berkiblat pada kekuatan rasio, sementara kekuatan mistik ada ada rasa atau intuisi.


Terlebih lagi, kedua arah itu: barat dan timur, yang menyertai jalinan pengetahuan kita, menjadikan kita (atau bahkan mengharuskan kita) untuk berdaya diri menguasai bahasa mereka, secara otomatis, setiap kita bakal diarahkan untuk mengetahui bahasa barat dan timur, dan dengan pengusaan barat, maka orang-orang yang ‘berkuasa’ atau mampu ‘berbahasa’ akan duduk di depan, sebagai pengajar atau adanya tautan budaya-kebiasaan dari bahasa yang digunakan—hal itu bisa ditelusuri dari pajangan artikel, atau ilmiah, tentang pengaruh bahasa pada keseharian.

Sejauh diamati, maka pengaruh bahasa pada keseharian itu sangatlah kuat. Bersamaan dengan itu, orang-orang yang mengkaji bahasa, akan lebih sibuk pada kajian teks, jadilah ketepatan apa-apa yang dikaji filsafat kontemporer, yakni aliran logosentris. 

Bersamaan dengan kelogosentrisan tersebut, pola kehidupan menjadi semacam arena perlawanan antar logo, antar symbol, antar teks dan teks: begitulah potret kehidupan yang menjadi ini. begitulah era masa sekarang, selain itu, manusia tetap mempunyai realitas dan kebenaran laksana realitas. ungkapan-ungkapan yang diberikan—yang ditawarkan realitas itu—laksana kering dari makna, karena pada dasarnya, makna itu telah tersedia. Makna itu telah teramati di dunia kata-kata, di dunia logo-logo.

Pengetahuan-pengetahuan itu, telah berserakan pada buku-buku, bahkan pada internet.


Wal-hasil, disinilah mulai terjadi pembicaraan asal-usul kata-kata. disinilah semakin berperan tentang kepentingan kata-kata. lalu, bersamaan dengan masa yang seperti itu: orang-orang mulai kehilangan indentitas, orang-orang mencari identitas asalnya dengan mengorek sejarahnya.


Tepatnya seperti diriku, yang laksana kehilangan identitas jati-diri, karena berpikiran yang dua, yakni arah barat dan arah timur. Sementara itu, aku menjalani realitas: maka jadilan barat yang bukan barat, jadilah timur yang bukan timur. Siapa identitasku? Jawabku, manusia. Manusia nusantara. Itulah identitas asal-usulku. Apakah budaya nusantara? Apakah kehidupan orang-orang nusantara dahulu kala? Itulah pertanyaan selanjutnya, yang akan dirunut dan dikaji bersama kata-kata. bersamaan dengan proses pengkajian, maka kehidupanku tersibukkan pada kata. pada logo. Inilah zamannya, logosentris.



2017

Belum ada Komentar untuk "Identitas Pengetahuan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel