Realitas, Pemikiran dan Protes Kenyataan



REALITAS, PEMIKIRAN, DAN PROTES KENYATAAN-- Saat acara pengajian maulidan di Mushola Nurul Ulum segera dilaksanakan, dan sebagian orang berwira-wiri dengan tugas kecil-kecilan, dan ketepatannya saat Tahlilan di mulai. Aku undur diri, kembali ke rumah. Lalu aku dipertanya:



Mengapa kau meninggalkan tempat?



Jawabku, aku mulai tidak mempunyai tempat. 



Apa maksudmu kau tidak mempunyai tempat?



Jawabku, ah maaf mungkin bukan itu maksud itu yang sebenarnya. Mungkin maksudku sebenarnya aku tidak merasakan kenyamanan pada saat tahlilan itu. ringkas kata, aku belum mampu menikmati ketotalan acara yang diselenggarakan.



Mengapa kau belum mampu menikmati? Tinggal dinikmati. Memangnya maksud nikmatmu itu bagaimana?



Aku mungkin belum mampu duduk tenang, saat itu berada di rumah. Lebih-lebih pada acara yang itu mengumpulkan orang-orang. Aku belum mampu mengendalikan diriku sendiri. Diri yang itu bermasyakat, diri yang mengikuti ketotalan arus lingkungan yang ada. ringkas kata, aku belum menikmati-ketotalan acara yang terjadi.



Mengapa hal itu terjadi? artinya kau belum total-menikmatia acara.



Jawabku, aku mungkin tidak turut berperan pada acara tersebut; artinya belum turut berperan memikirkan acara tersebut, sehingga itu menjadi suatu kesalahan pada pemikiranku; kesalahan pada pola-pikirku. Artinya, aku mempunyai ‘gagasan’ yang sebenarnya ingin dicurahkan, namun tidak kesampaian, alasannya karena aku tidak turut membicarakan hal tersebut. tidak turut serta mengikuti orang-orang untuk mengurusi hal tersebut. yakni pembicaraan di dalam. Dan gagasanku itu pengajian sederhana, yakni:



Acara maulidan untuk orang-orang sekitar, yang dari itu, mengundang tokoh-tokoh agama disekitar lalu membicarakan. Tidak sekedar huru-hara tentang keramaian, dan huru-hara ajang ‘penampilan’: yang ditampilkan, yang berdandan. 





Artinya, kau menghendaki acara yang biasa?



Jawabku, ya. Aku menghendaki acara yang biasa. Lebih menekankan tentang kepentingan-keislaman yang real. Andaikata, orang-orang semua, telah benar-benar menjalankan keislaman yang real, maka secara otomatis akan ramai acara. Dan itu benar-benar kebutuhan untuk duduk bersama. Kebutuhan untuk saling menyaling. Dan orang-orang tentu, dengan keberadaan acara, mempunyai kebiasaan, untuk lebih melatih dekat dengan-Nya, bukan tentang ajang pameran, bukan tentang ajang kebiasaan, melainkan mempunyai makna dari yang dilakukan.



Ehmm… apakah sejauh ini acara tersebut kurang bermakna?



Jawabku, ini bukan soal kebermaknaan acara tersebut. namun hal-hal yang terjadi dibalik acara, tentang iuran, tentang perekonomian, dan tentang kesejahteraan. Aku melihat orang-orang laksana keterpaksaan membaca sesuatu yang disebut amal. Aku merasa bahwa orang-orang yang urunan itu, laksana keterberatan untuk urunan. Harusnya sih tidak begitu. harusnya mereka ikhals dengan acara tersebut.



Ah sesungguhnya, apa yang terjadi padaku, ini masih tentang pemikiranku yang belum selaras terhadap realitas yang terjadi. pemikiranku belum mulus terhadap sesuatu yang dijalani. Pemikiranku masih kacau. Pemikiranku belum menerima. Itu dulu.



“Baiklah kalau begitu. intinya, sekarang terimalah apa yang terjadi. sekarang, kembalilah pada acara tersebut. nikmatilah.duduklah bersama orang yang membuatmu betah untuk menjalani kedudukan. Jangan resah terhadap apa yang terjadi. jangan gotak terhadap gejala sosial yang menampakkan itu; ini waktumu untuk menampakan diri. Maka tampakanlah. Walau pun tidak begitu menampak. Setidaknya, temuilah orang-orang itu. ayo! Nikmati.”



Dan aku pun keluar kembali, dengan pemikiran yang lebih segar. Dengan pemikirna yang lebih ringan.





2017

Belum ada Komentar untuk "Realitas, Pemikiran dan Protes Kenyataan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel