Apa Kabar Nahdatul Ulama?

Apa Kabar Nahdatul Ulama?

Apa Kabar Nahdatul Ulama?

Apa kabar Nahdatul ulama? Maksudku, tentang kebangkitan para ulama. Ulama yang itu terkhusus di Indonesia: apakah mereka sudah tidak merasa bangkit lagi, karena sudah tersibukkan oleh alur-alur politik? Atau merupaya menyelamatkan kedirian di era informasi dan sarat globalisasi, sehingga membuat yayasan demi yayasan yang ujung-ujungnya tentang gerakan perekonomian. Yang dengan itu, mampu menyelamatkan diri sendiri, maksudnya diri keluarganya atau anak-anak atau tentang tembang-tembang organisasi, lalu lupa siapa siapa dirinya sebenarnya: iyakah masih ulama? Atau jangan-jangan sekedar label tentang ulama. Sebagaimana gerakan zaman, yang kini bersibuk pada logosentrisme.

Logosentrisme yakni gerakan pemikiran yang bersibuk berkaitan dengan logo, tanda, atau bahkan merk (merk pun berasal dari kata mark, yang artinya tanda). Pemikiran logosentrisme telah dicetuskan sejak pemikiran filsafat mulai bersibuk pada hal tersebut. kehidupan menjadi kehidupan yang bertanda, yang berlogo: apakah itu juga yang terjadi pada ulama-ulama di Indonesia? Sebab, sejauh kita ketahui, organisasi nahdatul ulama, itu ialah organisasi islam khas nusantara, khas Indonesia: yang gerakannya ialah kebangkitan (atua bangkit. Maksudnya: bergerak dari kediamannya. Bergerak dari ketersembunyian wiridnya. Bergerak menjalani realitas yang terjadi) ulama yang tetap mengorhmati pemerintahan yang berlaku: ulama ialah ulama, dan umara ialah umara. peran ulama bergerak sesuai dengan kemanusiaan yang ada, dan gerakan nahdatul ulama sebagai wadah pemersatu umat islam yang ada di nusantara. Lalu pertanyaan saya: apa kabar Nahdatul ulama?

Yakni, ulama-ulamanya, apakah ulamanya benar-benar bangkit atau hanya menjalani system yang berlaku: system organisasi, system akreditasi, system yang ada. sekedar menjalani itu, artinya bergerak stagnan tanpa ada perubahan yang berarti bangkit: bangkit dari apa yang sedang dialami. Maksudku, apakah ulama-ulama zaman sekarang (era zaman now) turut serta dan benar-benar tersilaukan oleh kemilau dunia yang itu bergeger atas nama, julukan, kemewahan, kehormatan, dan gelar-gelar lainnya yang seringkali diunggulkan. Tapi lalai peran sebagaimana ulama semestinya.

Maksudku begini: mohon maaf jika kata-kataku agak membingungkan. Sebab aku melihat keadaan kita, sekarang, mulai membingungkan juga. Banyak para ustad, para penceramah, dan banyak orang yang dengan gampang menyampaikan keagamaan. Dengan dalil, sampailah walau satu ayat. Atau beralasan bahwa tujuanku ialah belajar. belajar tentang agama. Maka cara termudah untuk belajar agama ialah dengan cara menyampaikan agama. Berkutat pada kata-kata, berkutat pada diksi-diksi, sehingga ketika mampu membaca telah dikatakan hebat. lalu di populer, terkenal di televise, ceramahnya di dengarkan orang banyak, ceramahnya sangat-sangat diperhatikan, selain itu, dari ceramahnya itu mendapatkan suguhan uang yang berlimpah-limpah: lalu kataku, apa kabar Nahdatul Ulama?

Maksudku, ulama-ulama yang seperti dulu, yang sibuk dengan kelompok-kelompoknya, laksana era kanjeng nabi, yang mana setiap apa yang dilakukan bakal diawasi, dan orang-orangnya taat dengan kiai. Mungkin, saat ini, memang masih berlaku dan masih banyak kiai yang diunggulkan, namun sebenarnya tidak menjadi panutan. Sebab kiai-kia mulai mata duitan. Oh inikah penilaianku yang salah, atau terlalu sedikit kiai yang aku lihat: atau jangan-jangan pemikiranku yang kacau karena mulai belajar filsafat.

Mulai membaca tentang sejarah yang jauh, bahkan sampai sebelum masehi. Sejarah yang panjang tentang kemanusiaan. sejarah yang panjang tentang kekuasaan. Sejarah panjang tentang nama demi nama. mulai dari Yunani klasik, lalu bergeser kea bad pertengahan, dan di abad ini juga keislaman turut menyertai perkembangan dunia, khususnya dunia barat. Sebabnya, pola pemikiran dunia barat terbawa oleh arus yang ditawarkan oleh Nabi Isa as, yakni menjadi teosentris, yakni pemikiran yang mengarah kepada Tuhan. Kegerejaan menjadi kekuatan utama bagi bangsa barat. Bersamaan dengan itu juga, orang-orang barat mengalami zaman kegelapan—teks-teks ini, tulisan ini tentu bisa dibaca pada sejarah filsafat barat—selanjutnya ketika abad pertengahan yang itu orientasi pemikiran dikuasai oleh gerejawan, di saat itu jugalah, perkembangan islam atau kekuasaan islam sampai ke barat, ke spanyol, dan di sana: bertemulah dua arah yang itu dikuasai atas nama islam (atau timur).

Kemudian perebutan kekuasaan atau gaya lainnya tentang perpolitikan atau gaya lainnya tentang kerajaan, mulailah lagi di kuasai oleh bangsa barat. Selanjutnya, perkembangan pengetahuan, dari bangsa barat, berkembang pesat, hingga akhirnya muncullah pemikiran yang beralaskan dualisme, yang dicetuskan oleh Bapak Filsafat Modern—orang-orang filsafat sering menyebut itu--- yakni Rene Descartes. Yang berarti, saya percaya dengan adanya roh, namun itu kajiannya roh. Dan saya percaya dengan adanya materi, maka itu kajiannya materi. Bersamaan dengan itu, maka rasionalisme menjadi sangat berpengaruh bagi perkembangan pengetahuan barat, maka jadilah pengetahuan (baca saja sains) semakin menjadi, hingga akhirnya, yang menjadi momentum besar yakni keberadaan dari pemikiran yang cermerlang—bagi pengetahuan, bagi sains—yakni August Comte (orang sering menyebutkan bapak sosiologi dan ada juga yang mengatakan bahwa bapak sosilog ialah Ibnu Khaldun) dengan teori postivistme, dari situlah mulai terciptanya bibit revolusi industry.

Keberadaan revolusi industry menjadikan gegap gempita pembuatan alat-alat technology, maka terbuatlah alat-alat technology, seperti transportasi dan telekomunikasi. Bersamaan dengan itu, era kolonialisasi terjadi. era kolonialisasi hingga akhrinya menyentuh kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan itu, berjalannya waktu, mulailah Nusantara di kuasai oleh orang-orang kolonialisasi. Dan bersamaan dengan itu, penyebutan ‘penjajahan’ mulai terjadi. Di saat itulah, orang-orang agama, tokoh-tokoh agama, mulai gusar, karena manusia-manusia disekitarnya, kena imbasnya.

Bersamaan dengan itu, maka mulailah bangkit manusia nusantara—sebab, ternyata, nusantara terjajah oleh bangsa barat; atau bahasa lainnya, kita dikuasai oleh orang selain kita—maka jadilah peperangan atau perlawanan dari manusia-pribumi.

Maksud saya, menguraikan hal tersebut, mengaitkan atau berhubungan dengan ulama atau Nahdatul ulama, melainkan: mungkin dari itu, yang menjadikanku, pemikiranku, menjadi kacau sehingga jadilah tulisanku tentang: Apa kabar Nahdatul Ulama?

Sejauh saya ketahui—ini tentu bersifat subjektif—bahwa agama dan pemerintahan di nusantara, di Indonesia: awalnya berdiri sendiri, ketika manusia-pribumi (yang itu diajari oleh Sunan-sunan atau wali songo) mulai mengetahui islam, dan mengerti tentang manusia-islam di nusantra, maka bersamaan dengan itu agama dan pemerintahan menyatu. Menyatu dalam artian, sekelas nusantara. Sekelas nusantara; yang itu bercirikan atau mengikuti ajaran atau pola politik sebelumnya, yakni kerjaan Hindu-budha, maka penyatuan agama dan pemerintahan, itu terjadi. bersamaan dengan itu, maka terjadilah pendirian-pendirian pesantren. Yang katanya, kata pesantren berasal dari kata santri, yakni orang mengkaji kitab suci. Yang itu dipinjam dari hindu-budha.

Ringkasnya, kekuasaan agama dan pemerintah di nusantara menyatu, walau pun berkerajaan demi kerajaan, namun tentu saja ada hubungan di antara mereka. Yang lama-lama, terjadilah musuh di dalam dirinya: maka satu persatu, mulai gugur. Lebih-lebih saat orang asing datang (maksudnya penjajah) sejak saat itulah, satu persatu kerajaan mulai berguguran, lama-lama hilang dari peredaraan. Dan berjalannya waktu, dengan porak-poranda status Nusantara yang dikuasai oleh bangsa demi bangsa, mulai bangkitlah persatuan republic Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, mengkalim merdeka, di saat itu juga pesantren-pesantren sejak era kejaraan terus saja bertahan. Terus saja mempunyai jalannya sendiri, yang kemudian: di persatukan atas nama organisasi islam Indonesia—yang tujuannya, mungkin (inilah kalau orang belum lengkap pengetahuannya), untuk membicarakan tentang ideology yang berkembang di Arab Saudi, yang katanya, hendak menggusur Makam Kanjeng Nabi Muhammad. Dan orang-orang yang ada di Indonesia tidak menyetujui itu, dan untuk berbicara maka perlunya adanya organisasi keislaman: maka, jadilah Nahdatul Ulama—.

Berjalannya waktu, tepatnya sekarang, dimana organisasi ini, mewabah di seluruh penjuru negeri, terdapat tiang-tiang tentang ‘nama’ Nahdatul ulama. Maka tentu saja, pergerakan ini, sungguh sesuatu yang hebat di indoensia. Hanya saja, di era zaman now, di era logosentrisme, di era informasi, di era keterbukaan pengetahuan, di era manusia yang mulai menjadi individualis dan sangat materialis: maka, bagi Indonesia—menurut saya—ada kekuatan dari organsisasi ini. Itu sebabnya saya bertanya: apa kabar nahdatul ulama?

Kabar tentang kiai-kiaimu; kabar tentang orang-orangmu; kabar tentang pengurus-pengurusmu; kabar tentang organisasimu; kabar tentang keislamanmu. Bukankah kita semua menyaksi, bahwa para petinggi negeri, agaknya mulai tidak takut dengan tuhan. Agaknya mulai menyepelekan pancasila. Mulai menyepelekan hukum. Dan ketika saya amati: masalah utama bagi seluruh bangsa Indonesia, ialah tentang diri sendiri. Tentang keakuannya. Tentang diri pribadi. dan harapan utama, ada pada sosok-sosok kiai: yang itu kiai bangkit ketenangannnya, bangkit kemalasannya. Sebab aku melihat—ini tentu penglihatan subjektif—kiai-kiai mulai bangga dengan julukannya. Kiai-kiai mulai bangga dengan keberlimpahan harta. Kiai-kiai mulai bangga dengan penyampaian agama.

Agama menjadi kaku dan manusia agaknya begitu ditekan untuk beragama. agama menjadi tidak lentur. Agama menjadi sangat payah dan sulit sekali, sebab orang-orang yang terlalu berani menyampai ilmu, yang seakan layak untuk menyampaikan: bergembar-gembor tentang agama. Gembar-gembor tapi lupakan menjalankan haknya secara individu berkaitan dengan agama. Dan aku, mulai menyadari, bahwa solusi utama ialah mengikuti kiai desa. Dengan seperti itu, andai setiap kiai desa benar-benar menerapkan kekiaian desanya: tidak sibuk pada perkumpulan-perkumpulan yang menjadikan mewah dan berlimpah, wangi dan super wangi. Seakan-akan lupa: siapa kita sebenarnya? Kita adalah manusia islam Indonesia, di alasi oleh hindu-budha, tentu kita berbeda dengan islam yang itu islam dari timur. Sebab, kita ada lahan untuk dikerjakan. Itu sebabnya, saya bertanya: apa kabar nahdatul ulama?

Penulis :Taufik Hidayat, Mahasiswa Filsafat di UIN Lampung.

Belum ada Komentar untuk "Apa Kabar Nahdatul Ulama?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel