TENTANG KERINDUAN YANG BERSINGGAH DALAM DIRIMU








Apakah engkau tahu sebab-musabab engkau merindukan? Atau jangan-jangan engkau lalai dengan makna kerinduan, atau sesuatu yang disebut rindu. Apa jangan-jangan engkau lalai apa itu rindu?

Jawabnya, rindu itu adalah keinginan untuk bertemu. Seringkas itu, taufik. Namun jangan salah, kalau engkau membiarkan inginmu, maka sudah berarti engkau itu menunggulkan ‘inginmu’. Apa itu ingin? Yakni hasrat untuk sesuatu. Jika engkau sudah membiarkan inginmu, maka jadilah nafsuDan sekali lagi, aku mengingatkanmu tentang tujuanmu tersebut.

apa tujuanmu terhadap keinginanmu untuk bertemu?

Jika engkau sejenak ingin bertemu, maka tatkala engkau sudah bertemu, maka sudahlah hancur kerinduanmu. Oleh karenanya, engkau harus mengindentifikasi lebih lanjut tentang kerinduanmu.

Jika engkau merindukan bercakap-cakap dengan sesuatu yang engkau rindu, katakanlah, bahwa engkau ingin bercakap-cakap.

Jika engkau merindukan bercakap-cakap, apa yang hendak ingin engkau cakapkan? Apa yang hendak ingin engkau bicarakan? Artinya, aku menegaskanmu tentang tujuan murnimu terhadap sesuatu yang engkau rindukan.

Jika percakapanmu adalah tentang keumumanan, maka sampaikanlah tentang keumuman. Maka simpulkanlah tentang keumuman apa yang engkau maksudkan tersebut: bukankah engkau masuk dalam kalangan akademisi dan ilmiah, Taufik? Sekarang, apa gunanya engkau kuliah yang ‘berilmiah’ kalau engkau tidak menggunakan metode ilmiah, yakni merinci sesuatu yang itu serinci-rincinya, dan memfokuskan sesuatu yang itu sefokus-fokusnya.

Artinya, aku mempertanyakan tujuanmu, Taufik. Sekarang, apa tujuanmu? Jika tujuanmu adalah individu dan merasa membutuhkan individu yang lain, maka katakanlah: bahwa tujuanmu adalah individu dan membutuhkan individu yang lain. Katakanlah, bahwa engkau membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah. Oleh karenanya, engkau pun harus benar-benar menawarkan tentang masalah apa yang hendak ingin kau cakapkan. Dengan begitu, maka si individu yang lain, mengetahui apa-apa yang menjadi masalah dan yang bakal dipecahkan.

Bukankah begitu sebenarnya tujuan dirimu merindukan orang-orang yang menjadi beban pikiranmu? Yakni, mengutarakan untuk kesalingan dan saling membantu satu sama-lain.

Atau jangan-jangan engkau tidak mengetahui tujuanmu tatkala bertemu dengan orang lain? atau, tidak ada tujuan lain selain ‘lega’ tatkala bertemu. Nah, itulah maksudku, taufik. Membicarakan tentang kelegaan tersebut.

Lega seperti apa? Bukankah tatkala engkau berbicara kepada yang lain, artinya supaya orang lain tersebut mampu membantu apa yang engkau pikirkan? Itulah kerinduanmu, Taufik. yakni, membutuhkan orang lain untuk saling membantu. Membutuhkan orang lain untuk saling menolong.

Dia membutuhkanmu. Dan kamu membutuhkannya.

Namun, jangan lalaikan tentang kedirianmu. Jangan lalaikan tentang kedirianmu. Engkau pun harus tetap mempertahankan jamaah. Mempertahankan shalat jamaah. Meningkatkan rasa imanmu. Tingkatkanlah rasa imanmu, sekali lagi, lebih meningkat. Yakinlah bahwa semua ini telah diatur oleh gusti pangeran. Yaknilah bahwa semua ini akan berlalu. Yakinlah bahwa semua ini telah ditulis oleh-Nya. Dan ingatlah, engkau boleh memikirkan orang lain, tapi engkau pun harus menguatkan tentang kedirianmu, khususnya tentang keimanan dan keislamanmu.

Jika engkau terlalu ‘keberatan’ atau terbebani dengan keimanan dan keislamanmu, maka ketahuilah, bahwa dalam kehidupan keimanan dan keislaman itu berproses, sebagaimana di era kanjeng nabi Muhammad. Terjadinya proses keimanan dan keislaman.

Memang di zaman kanjeng nabi orang-orang telah beriman dan mengaku islam, tapi bukankah disana pun banyak orang yang melanggar keimanan dan melanggar keislamannya. Dan di situ pun masih ada kanjeng nabi lho fik. Ingatlah sejarah, Fik. Ingatlah…

Jika engkau bertanya, apa yang terjadi dengan diriku bersama dengan kerinduan yang aneh aku alami?

Jawabnya, rindumu tersebut adalah rindunya para sahabat yang berdaya diri untuk saling menguatkan terhadap satu titik focus: baik. dan hal tersebut wajar. Rindu yang tak berhasrat. Rindu yang murni. Rindu yang tanpa embel-embel. Rindu yang asli. Begitulah masuk jalinan-cinta, Fik.

Jika engkau bertanya apa itu cinta?

jawabku, sudahkah engkau mencintai dirimu sendiri? Begitulah, Fik: ajaranku kepadamu adalah supaya engkau mencintai dirimu, supaya engkau menyayangi dirimu, supaya engkau menghormati dirimu sendiri. Sebabnya, engkau terlalu sibuk mencintai orang lain, tapi lalai mencintai diri. Sibuk menyayangi dirimu, tapi lalai menyayangi diri sendiri. Maka bagimu, pentinglah engkau menyatakan bahwa kokohkanlah keakuanmu. Begitu ya…

Belum ada Komentar untuk " TENTANG KERINDUAN YANG BERSINGGAH DALAM DIRIMU "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel