REALITAS BERPROSES SEDANG


Realitas itu berjalannya sedang, Taufik, tidak cepat tidak juga lambat, tapi sedang. Sekali pun pergerakan orang-orang mulai terpengaruhi oleh budaya barat atau budaya eropa, yang mengacu pada keakuan dan tingkat individualisme yang tinggi, namun manusia Indonesia, khususnya di desamu, tetaplah masih menjadi manusia Indonesia, yang masih mengenggam keagamaan.

Jangan lalaikan bahwa kita orang yang beragama.

Jangan lalaikan bahwa kita orang yang berketuhanan.

Sekali pun realitasnya layaknya orang yang lalai beragama atau orang yang layaknya tidak berketuhanan, tapi tetaplah mereka bertuhan; tetaplah ada kesempatan untuk tobat, untuk kembali kepada Tuhan, dengan ‘khusyuk’ beribadah (dan makna khusuk jangan senantiasa engkau gandengkan terhadap ilmu-pengetahuan islam; yakni, orang yang khusyuk adalah orang yang mempunyai ilmu tinggi dengan agama, jangan. Orang yang khusyuk adalah mereka yang menjaga shalatnya. Sekarang, engkau pun harus cerdas mengartikan makna menjaga. Layaknya api pada lilin, apakah penjagaan? Yakni suatu masa, di saat cahaya lilin benar-benar terjaga. Begitu pun bisa di artikan khusyuk. Terlebih lagi, apakah engkau mempunyai pengetahuan tentang-Nya, bahwa Dia mampu memberi petunjuk kepada siapa yang hendak Dia beri petunjuk dan menyesatkan kepada siapa Dia hendak menyesatkan. Sungguh, bagi-Nya, hal begituan, mudah, Fik.) walau pun sesaat, lalu kembali maksiat. Syukur kalau Dia menghendaki kebaikan yang merata dan mengadakan perubahan yang itu dalam diri manusia. Berdoalah, mudah-mudahan dirimu senantiasa dalam petunjuk-Nya, mudah-mudahan dirimu senantiasa berada dalam kebaikan-kebaikan, dan janganlah berbangga diri dengan keadaan yang terjadi padamu, sungguh Dialah yang telah merencakan kehidupan ini, Taufik.

Dan tugasmu, adalah sebagaimana apa-apa yang dibebankan olehmu. Oleh karenanya engkau harus menyelesaikan tugas yang ada pada dirimu. Jangan geger terhadap perubahan sosial; jangan geger terhadap ‘proses’ pengetahuan. Jangan geger ‘merubah’ tatanan secara global, tapi ubahlah dirimu menyikapi keglobalan itu.

Orang-orang memang mulai terpengaruhi budaya-eropa, mulai menjadi budaya konsemrisme, mulai memilih menjalani dunia-hiburan, dunia kesendirian, melalui layar-layar atau media, atau tawaran-tawaran tentang kesantaian dan kenyamanan dalam bekerja, memilih bekerja yang bersih dan nyaman, berace, dan bergaji besar. Supaya mampu menikmati, technology, technology yang lain; mengendarai sepeda motor, mobil dan naik pesawat. Hendak mengelilingi dunia, dan melihat-lihat isi dunia. Begitulah tawaran dunia; kemilau dunia, yang manusia sangat wajar kalau terpengaruh oleh hal tersebut.

Andai engkau tidak mengikuti zaman, maka engkau laksana kembali ke zaman primitife, kembali menjanalni hidup yang sederhana dan menikmati hidup senatural mungkin, dan menekankan kebahagiaan yang sederhana, yakni kebahagiaan yang berada di alam sekitar dan kebutuhan materi dan ruhani yang tercukupi.

Namun penglihatanmu, adalah penglihatan eropa, maka baiknya, engkau tidak terkagum dengan keterbukaan dunia, yang mau tidak mau, bakal sampai ke Indonesia, khususnya di desamu, dan kita telah sampai. Tapi tetaplah ingat, bahwa realitas itu berjalan sedang, tidak cepat, tidak juga lambat. Sedang-sedang saja. dan tugasmu adalah menjalani realitas, dengan menjaga kedirianmu, menjaga keimananmu, menjaga keislamanmu, dan tetaplah jangan lalai terhadap realitasmu. Jangan lalai terhadap hukum-hukum realitas yang menyelimuti dirimu. Namun, tetaplah, engkau sibukkan dirimu untuk menimbang kedirianmu. Apakah engkau paham dengan apa yang kusampaikan? Jika belum, perlahan-lahan. Setidaknya engkau mengetahui. Begitu ya…

Belum ada Komentar untuk " REALITAS BERPROSES SEDANG "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel