Makna Pengaruh-Realitas di Zaman Hipperealitas








Jika ada yang bertanya, mengapa engkau mengabarkan tentang ‘makna pengaruh-realitas’ di zaman hipperrealitas?

Jawabku, karena zaman sekarang, seakan-akan orang-orang lalai dengan diksi ‘pengaruh-realitas’ seakan-akan realitas adalah sekedar tampakan belaka, atau sekedaran perjalanan waktu belaka, seakan-akan mengabaikan tentang keterpengaruhan tersebut. Oleh karenanya saya menguraikan ini:

Realitas, atau kenyataan, sekali pun zaman telah maju, canggih, tetap saja, realitas adalah realitas. kenyataan adalah sesuatu yang menampak, sesuatu yang mampu terjangkau oleh panca-indera kita dan ketubuhan kita. Media sosial adalah tentang media sosial; adalah alat untuk menyampaikan sesuatu. Apalagi media sosial lintas-internet, maka sekedar lintasan teks-teks atau gambar atau video; padahal teks, gambar, video, kalau kita mengamati atau kalau kita mendengar-melihat, maka itu sekedar kenangan buat realitas kita. Sementara, kenyataan adalah sebagaimana kenyataan yang sebenarnya; yakni, tubuku, rumahku, dan keluargaku, lingkunganku. Begitulah realitas.

(Apakah bahasaku, bisa dipahami? Setidaknya aku mengabarkan kepadamu.)

Sekali pun kerjamu lintas kecamatan, lintas kabupaten, atau bahkan lintas pronpinsi; realitas adalah dimana dirimu berada atau tubuhmu berinterkasi dengan manusia-manusia sekitarnya, begitulah realitas. dan manusia-manusia yang ada pada media, adalah tentang kenangan atau infomarsi yang sifatnya bukan-realitas yang sesungguhnya (sekali pun itu masuk dalam tatanan realitas) atau hal-hal komunikasi jarak-jauh, balas-pesan, videocall, atau lain-lain; maka begitulah hipperealitas. Melampui realitas yang sebenarnya.

Dan kehidupan sekarang, seringkali orang ‘keterjebakan’ dalam hal tersebut. namun, maksudku di sini adalah menyampaikan ‘pengaruh-realitas’ di zaman hiperrealitas.

Jawabnya, pengaruh realitas di zaman hiperrealitas adalah orang-orang yang mampu bersuara dan bergerak secara realitas, begitulah yang memiliki pengaruh realitas. sekali pun ide-idemu melejit lintas nasional, namun tetap saja, kehidupanmu adalah tentang realitasmu dan engkau tidak akan mampu melampaui realitasmu.

Maka, pengaruh-realitas itu sangatlah penting.

Nah, sebelum membicarakan penting, maka si pemberi pengaruh, harus mengetahui atau bahkan harus memahami, bahwa dirinya adalah orang yang berpengaruh buat realitasnya. Oleh karennya, dia harus cerdas membaca kondisi zaman, harus cerdas melihat situasi zaman; harus cerdas, mengingat dirinya adalah orang yang berpengaruh dalam realitas. Jika dikatakan, siapakah yang mampu berpengaruh secara kuat?

Jawabku, khatib. Atau para penceramah, itulah yang memiliki pengaruh sangat kuat buat realitas. selain itu, tentu guru. Oleh karenanya, kurikulum harus cerdas dan sesuai dengan zaman, namun bagiku, yang paling kuat pengaruh realitas adalah khatib, sebab, khatib lintasanya adalah lingkungan sekitar. Sementara guru, guru itu akan berpengaruh-kuat kalau mengajari lingkungan sekitar.

Maksudku, jika mengharapkan guru-sekolah yang mempengaruhi kuat, maka itu, bagiku, kurang, sangat kurang. Sebab, guru terpaku atau memaku dengan aturan nasional, jika pun tidak aturan nasional adalah aturan daerah, bukan pada aturan desa. Sementara khatib, khatib yang cerdas pasti akan menyampai sesuatu yang berkaitan dengan desa. Sesuatu yang trend dengan zaman. Begitulah tali islam, yang kuat berakar karena realitas harus nyemplung pada keislaman. Sebabnya, lagi, karena islam, khususnya di desaku, adalah mayoritas, maka pengaruhnya sangat kuat.

Dan untuk memastikan ‘kuatnya’ tersebut, maka hal utama yang penting diubah adalah si khatibnya, melalui tingkah-lakunya, hingga kemudian penyampaiannya; bukan sekedar membaca teks, bukan sekedar membaca buku, melainkan menyampaikan yang itu adalah penting untuk disampaikan. Sehingga umat atau rakyat, dengan cepat menyampaikan.

Bukankah kita juga meyakini bahwa pengaruh agama, khususnya di desa kita, teramat kuat? Politik nembleng dengan agama, misalnya, turut promosi di pengajian-pengjian, atau memasang spanduk, pamphlet atau baleho di sekitar area pengajian-pengajian.

Jika para khatib memahami statusnya sebagai khatib; jika para khatib mengetahui bahwa dirinya adalah orang yang berpengaruh, maka sudah pasti, dirinya harus belajar lebih tentang apa-pun itu sesuai dengan zamannya, setidaknya melanyahkan tentang pengetahuan agamanya, yang itu sesuai dengan rakyatnya. Dan jangan artikan, kalimatku sebagai: agama yang mengikuti rakyat. Bukan, bukan itu maksudku: maksudku, agama itu untuk kepentingan rakyat, yang tidak memberatkan rakyat, tapi biarkan rakyat menikmati agama dengan ringan, caranya, para penyampai tidak boleh kaku menyampaikan keagamaan; para penyampai tidak boleh memaksa tatkala menyampaikan, tapi sekedar mengingatkan, memberi kabar gembira buat orang mukmin, menakut-takuti, dan memberi petunjuk lewat petunjuk dari-Nya. Demikian.

Belum ada Komentar untuk " Makna Pengaruh-Realitas di Zaman Hipperealitas "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel