TALI ISLAM: AFORISME WARGO MULYO

















1.



Bagiku, tiada cara yang paling cerlang kecuali memegang tali islam, yang mana ikatan itu adalah ikatan yang sama; yakni prinsip keimanan kepada Allah, bahwa kita semua adalah mahluknya, dan lewat tali islam, kita sekali lagi ditekankan tentang: tata-krama--ya, menoto yang suci; toto kromo-- atau akhlak, dan sejauh diketahui, islam senantiasa berorientasi pada tekanan akhlak atau moral atua etika. Oleh karenanya, Kanjeng Nabi Muhammad, disebut: orang yang berakhlak baik, orang yang berakhlak mulia.



2.



Lewat tali islam, maka sangat-sangat menghormati tentang kenyataan yang sesungguhnya; penghormatan kepada orang tua, anak, kepada yang lebih tua, kepada yang lebih berilmu, serta tentang kepentingan tetangga dan lingkungan sekitar. Karena, sekali pun Kanjeng Nabi Muhammad, menjadi 'pemimpin' yang itu luas, mekah bahkan sampai irak, tapi ternyata, kanjeng nabi tetap sibuk dengan lingkungan dimana beliau tinggal, yakni Madinah.



3.



saat kita memegang tali islam, maka kita harus memegang yaitu percaya. Dan yang menjadikan dasar percaya, karena orang itu dapat memegang amanat, kata-katanya dapat dipegang, dan setiap janji ditepati, kalau berkata tidak berdusta; yang pasti, hal yang paling kokoh berlandaskan percaya. Jika ditanyakan, dimana itu percaya? jawabnya, di dalam diri kita.



4.



saat kita memegang tali islam, maka pasti berhubungan antara eksistensi (hal-hal yang nampak) serta esensi (sesuatu yang itu di dalam; yakin). Pelaksanaan ibadah atau perilaku, itu dialasi kuat oleh esensi. Karena eksistensi adalah sesuatu yang itu bermuara pada sesuatu yang ada di dalam (hati).



5.



Orang beriman, yaitu, orang yang percaya. Sebab arti iman adalah percaya. Jadi, orang yang beriman adalah orang yang percaya.



6.



Orang islam, yaitu, orang yang pasrah, selamat, damai. Sebab arti islam pun, pasrah, selamat, damai. Jadi, orang yang islam adalah orang yang pasrah, selamat, dan damai.



7.



Kata kunci untuk 'tali islam' adalah rukun iman dan rukun islam; keduanya itu berjalan selaras dan berjalan bersama-sama. Dimana adalah iman, disitu ada islam. Jika mengingat zaman kanjeng nabi Muhammad, maka keimanan itu sangat diutamakan, sebab saat iman itu kuat, maka akan sangat membutuhkan 'tatanan islam'.



8.



Kita sering terjebak pada 'rukun islam' dan kurang lebih sibuk dengan 'rukun iman', padahal kalau kita kenang sejarah kanjeng nabi muhammad, yang penting diutamakan adalah keimanan.



9.



Kalau keimanan itu sudah mendarah daging pada si aku (manusia), maka mau tidak mau, si aku membutuhkan wadah, yakni penampakan-penampakan iman; yakni rukun islam.



10.



Zaman sekarang, orang lebih sibuk terhadap ilmu islam, tapi lalai untuk praktek dengan ilmu-islam, seakan yang lebih diunggulkan adalah tentang keilmuannya, bukan hasil ilmunya. Yang lebih diutamakan proses mendapatkan ilmu, bukan hasil dari ilmunya. Itu pun yang terjadi pada ranah-ranah keislaman, khususnya di desa kita.



11.



Banyak orang yang pandai islam--setidaknya mengerti tentang keislaman; sebab, jika ditelusuri lebih lanjut, maka setiap manusia, setiap kita, yang beragama islam, telah banyak pengetahuan tentang islam. -- Tapi kurangnya, tidak mengetahui apa yang diketahui. Tidak memahami apa yang dijalani.



12.





Dan kita boleh saja berpikiran tentang orang lain, tentang keislaman orang lain, namun pada 'tali islam', setiap orang dituntut untuk 'mengislamlamkan' dirinya sendiri, setiap orang dituntut untuk 'mendamaikan' dirinya sendiri, setiap orang dituntut untuk menjadi 'teladan' bagi dirinya sendiri; karena pada dasarnya, manusia itu sendiri-sendiri. Toh, jika pun disiksa di akhirat: siapa yang merasakan siksa? maka tujuan bersama-bersama, adalah upaya untuk mendukung satu sama lain, yang bertujuan selamat bersama; sebab manusia itu sangat terpengaruh dengan lingkungannya. Sekali pun lingkungannya buruk, setiap orang muslim, dituntut untuk memuslimkan dirinya sendiri.

Belum ada Komentar untuk "TALI ISLAM: AFORISME WARGO MULYO "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel