KEBIASAAN-KEBIASAAN YANG MENGABURKAN TUJUAN: Aforisme Wargo Mulyo





1.






Kita terbiasa menjalani pengajian demi pengajian, tapi kita lalai dengan tujuan pengajian, bahwa sebenanrya yang kita cari adalah aji-aji untuk kehidupan. Yang bertujuan untuk membahagian kita, hidup bersama manusia lainnya.






2.






Kita terbiasa dengan acara kebersamaan, tapi sering dinodai dengan penampakan demi penampakan dan kekeringan akan 'makna' kebersamaan. Bahwa hal itu ditujukan atau bertujuan; bersama kemanusiaan, bersama rasa-rasa kemanusiaan. Namun, sering dan terjadi, lebih menonjolkan keakuan pada 'acara' kebersamaan.






3.






Kita terbiasa mengucapkan 'hormat' penghormatan, tapi sayang, kata-kata sekedar diucapkan dan lalai dibuktikan secara keseluruhan bahwa sebenarnya itu adalah penghormatan.






4.






Kita terbiasa memanggil tentang persaudaran, tapi kita lalai tentang makna sesungguhnya dari persaudaran, tapi kita menjalani sesuatu yang itu disebut dengan ikatan persaudaran.


Dan kita penting belajar sekali lagi, tentang apa itu persaudaran? Yang sebenarnya kita tahu, tapi enggan menjalankan.






5.






Kita terbiasa sibuk dengan penampakan demi penampakan, tapi lupa tujuan dari kepenampakan, lupa tujuan sebenarnya bagaimana tentang kehidupan; karena hidup memang dua kejadian yang harus berkeseimbangan: antara penampakan dan sesuatu yang menjadi alasan kepenampakan.






6.






kita terbiasa dengan diksi 'mencari ilmu' tapi kita lalai bahwa ilmu bukan terletak pada duduk-pengajian atau lembaga-lembaga pendidikan, namun kita terbiasa serius dikala duduk pada pengajian atau lembaga-lembaga pendidikan. Padahal tujuan ilmu guna kelangsungan hidup, tujuan ilmu guna mencapai kebahagiaan.






7.






Kita terbiasa dengan sifat 'keakuan' dan kita lalai bahwa setiap kita mempunyai sifat 'keakuan' yang itu penting diselaraskan dan disejajarkan, yang bertujuan tentang kebersamaan, guna mencapai keadilan serta kebijaksanaan.






8.






kita terbiasa bangga dengan gelar 'status' namun lalai dengan tanggung-jawab 'status' atau pura-pura melalaikan tentang status, karena kita berada tempat yang itu distatuskan.






9.






kita terbiasa dengan hal-hal sarat keuangan atau perduitan, yang seakan kehidupan adalah sarat tentang keperduitan, padahal kita pun menyadari bahwa duit adalah alat untuk kemanusiaan; duit adalah alat untuk mencapai kebagiaan. Dan kita lupa bahwa bahagia pun bisa di dapat tanpa perduitan, karena kita tahu, duit adalah alat, yang mana banyak macam alat untuk mencapai kebahagiaan.






10.






kita terbiasa mengatakan rapat atua berkoar tentang kerapatan, tapi kita lupa benar, apa tujuan perapatan; karena kita disibukkan dengan baju, alat, rencana, atau status bahwa kita harus rapat, padahal tujuan itu adalah benar-benar merapatkan diri, yang itu jiwa dan tubuh, akal dan laksana, bersama-sama, karena rapat mempunyai tujuan bersama; yakni kekuatan bersama.






11.









Kita terbiasa mengatakan keluarga, tapi kita sering lalai apa makna dari kekeluargaan. Dan tiada cara yang cerlang mewujudkan kekeluargaan, kecuali kita memulai dari diri sendiri, bersikap selayaknya keluarga. Bukan seperti keluarga. Karena kita memang berkeluarga.

Belum ada Komentar untuk "KEBIASAAN-KEBIASAAN YANG MENGABURKAN TUJUAN: Aforisme Wargo Mulyo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel