BERMALAS-MALASAN DALAM ILMU








Kenapa engkau bermalas-malasan, Taufik, kau pikir malas sekedar engkau tidak melakukan apa-apa dan engkau tidur-tiduran; kau pikir menyia-nyiakan pembicaraan bukan ‘perkara’ yang menunjukan engkau malas? Kau pikir melakukan sesuatu ‘yang’ bukan tanggung-jawabmu adalah bukan termasuk kemalasan? Ingatlah statusmu, pelajar: yang belajar sampai liang-lahat, maka mengapa engkau lalai terhadap hal tersebut? Maka mengapa engkau enggan ‘memahami’ hal tersebut, padahal engkau telah mengerti?

Engkau telah membaca buku ‘Kuliah Akhlak’ karya Yunahar Ilyas, terbitan LPPI, 2000 –ada akhlak kepada Allah, akhlak kepada Nabi, Aklak kepada Pribadi, Akhlak kepada Keluarga, Aklak bermayarakat, akhlak bernegara—sementara engkau melalaikan pembacaanmu; apa artinya pembacaanmu kalau itu ‘ngangkrak’ dalam benakmu? Apa artinya pengetahuanmu kalau itu ‘Ngangkrak’ dan kau jadikan pengangguran? Padahal engkau mengetahui ‘harusnya’ hal itu nempel, melekat dalam dirimu; sebagai hujah buat dirimu: mengapa engkau tidak mengonsentrasikan kepada hal-hal tersebut, atau bahkan hal-hal lain untuk kau lekatkan kepada dirimu, dan engkau malah mengerjakan yang lain, engkau malah ‘melakukan’ yang lain? Kenanglah, sesungguhnya ‘ilmu’ itu buat siapa? Paling cepat dan paling banter, Taufik, ilmu itu untuk diri sendiri.

Terlebih lagi, apakah engkau akan menganggurkan ayat-Nya, yang terngiang benar dalam dirimu: Hei orang yang beriman! Apakah engkau mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Suratan laba-laba, dan engkau mengetahui bahwa sarang laba-laba adalah sangat rapuh, seperti sarang ‘pikiranmu’, sarang rasiomu, yang begitu rapuh akan godaan ‘dunia’ dan kau menikmati bahwa kau tergoda: padahal, engkau juga membaca: sesungguhnya upayamu adalah untuk dirimu sendiri. Engkau melupakan: agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku—

Lihatlah, betapa kau ‘anggurkan’ pengetahuanmu? Dan kau membodohkan dirimu, kata-katamu adalah sekedar perakuan engkau ‘bodoh,’ maka sungguh, perakuanmu tidak sah, karena engkau ‘malas’ dalam mengumpulkan pundi-pundi ilmu, yang engkau telah mengetahui ‘kelobangan’ ilmu di dalam dirimu. Sungguh, inilah perannya guru kepadamu, Taufik; mengawasi juga menghardikmu keras-keras kepadamu, yang bertujuan supaya engkau tidak bermalas-malasan dalam mencari ilmu.

Katamu, orang pandai telah banyak! Jadilah biasa saja!

Jawabku, orang pandai memang telah banyak, tapi ilmu itu pada dasarnya untuk siapa? Untukkah orang lain atau untukkah dirimu sendiri.

Begini, sekarang, gampang saja: kalau engkau mau menjadi bodoh, tidak usahlah engkau belajar, sibuklah dengan apa-apa yang selama ini engkau kerjakan, sibuklah dengan pengembaraanmu dan ketahuilah bahwa dengan begitu pun engkau akan tetap hidup, engkau akan menjalani hidup, engkau akan ‘menikmati’ hidup, engkau kelak akan dimatikan juga! Dan engkau pun tetap kembali kepada-Nya:

Tapi engkau telah mengerti bahwa engkau akan kembali kepada-Nya, engkau telah ‘mempercayai’ hari akhir, dan kitab-Nya: apakah engkau ‘menyangkal’ tentang kepercayaanmu sendiri? Engkau boleh menyangkal, tapi engkau mengetahui bahwa kelak ada neraka, yang bahan bakarnya dari jin dan golongan manusia. Sudah siapkah engkau ke sana? Atau engkau menyangkal bahwa neraka itu tidak ada padahal engkau mempercayai kitab-Nya? Sarat untuk mendamaikan itu, Taufik, yakni dengan belajar, dengan berusaha untuk mengetahui; kalau engkau bermalas-malasan, bagaimana engkau bisa berdamai dengan dirimu.

Jika engkau keberatan dengan hal tersebut, ikutilah guru-gurumu, yang beriman kepada-Nya, juga kibat dan hari akhir. Katakan eluhanmu! Sebutkan tentang eluhanmu. Janganlah kau simpan dirimu yang galau diserang ‘pengetahuan’ dirimu, sungguh bersama kesulitan ada kemudahan, andai engkau mengetahui jalan keluarnya, namun dalam hal ini: maka engkau benar-benar membutuhkan guru-guru, Taufik, engkau membutuhkan penguatan jaringan, tujuannya: supaya engkau mengerti bahwa engkau tidak sendirian, dan ternyata engkau berada di jalan yang mana mereka lakukan.

Dan kau berkata, statusmu adalah mengeksiskan tentang keberadaanmu, sesungguhnya, engkau berdaya mengeksiskan mereka; engkau adalah ‘korban’ yang layak mewujudkan apa-apa yang mereka ‘pikirkan’ dalam arti, maka engkau harus lebih giat melihat dirinya, lebih giat memahami dirinya, lebih giat mengikuti mereka.

Ketahuilah, semakin engkau merekatkan diri kepadanya, maka dia akan lebih lesat berdekat diri kepada gurunya, lebih lesat kepada jalinan-jalinan yang lainnya; tujuanmu adalah mengharapkan ‘limpahan’ berkah darinya, meminta doa dan petunjuknya; maka janganlah sombongkan dirimu dihadapannya, janganlah ‘berlagak’ engkau setara dengannya; ketahuilah mereka itu adalah orang yang mendahuluimu, mereka itu orang-orang yang lebih dulu ‘jalan’ yang sedang engkau tempuh; maka hormatilah, saat engkau menghormati ilmunya, maka engkau menghormati ‘pemilik’ ilmunya; itulah yang tertera dalam kitab dasar yang sampai sekarang masih dikaji di pondok-pondok pesantren, Taklim Mutaalim. Kalau engkau menghormati dirinya, bukankah tidak mungkin kelak, engkau akan di hormati oleh orang-orang yang itu mengikuti jalanmu dan termasuk jalannya mereka? Itulah asal-usul adab, Taufik. Dan itulah yang terjadi di pondok pesantren-pesantren, Taufik.

Engkau memang telah beratapkan pada naungan kepesantrenan, namun waktu belum menghendaki engkau berjiwa-raga pesantren; waktu sekedar menghendaki kejiwaanmu adalah pesantren, tapi jasadmu adalah liar; bukankah selama dipesantren engkau jarang mengejar ‘telapak’ tangan Pak Yai, rebutan terhadap ‘air’ minumnya, Pak Yai?

Kau pikir zaman modern adalah merubah ‘pandangan’ tentang keislaman, dan seakan-akan orang itu sama derajatnya, sama kedudukannya, dan seakan-akan orang-orang tidak membutuhkan ilmu; para kiai sudah tidak menjadi kejaran tangannya, dan bisa jadi engkau melihat, zaman modern, orang-orang benar-benar termaniakkan akan hal tersebut, dan engkau heran mengapa orang-orang berusaha ‘mengejar’ telapak tangan kiai, tapi dirinya enggan rajin dalam belajar? Dan mengapa, orang-orang rebutan ‘air’ minumnya pak kiai, tapi dirinya enggan rajin atau serius dalam belajar, yakni setiap saat dirinya ‘membutuhkan’ waktu untuk belajar; belajar tidak sekedar tuntutan ‘sistem’ pelajaran. Belajar tidak sekedar ‘mengikuti’ sistem yang ditawarkan belajar. Oh sistem kini, telah memburamkan sesuatu yang sebenarnya telah tersistemkan; inilah zaman modern.

Sistem sekolah adalah jawaban kebutuhan manusia modern, namun, saat akhlak dan ‘motivasi’ ilmu benar-benar tidak dibangun, maka pelaku-sistem (subjektif) akan ‘mengakui’ kebodohan tapi tidak tahu apa dan dari mana akan dipelajari, sementara tawaran informasi berada dimana-mana, dan tawaran pengetahuan berada dimana-mana.

Namun ingatlah, Taufik, ilmu sekedar ilmu kalau itu sekedar di dalam pemikiranmu, maka pukullah malas itu dengan cara mengerjakan, dan tetaplah engkau mengadu-bodohmu kepada gurumu; sebab engkau adalah muridnya, bagaimana mungkin engkau tidak menyerupainya, atau bahasa lainnya, engkau tidak mengikutinya.

Kenanglah, Filsuf Plato, dia adalah muridnya socrates, tentu gayanya layaknya gurunya: dialog. Dan engkau mengetahui: jika socrates dialog secara langsung, maka plato dialog tanpa langsung, tapi lebih luas cakupannya: karena teksnya bisa diketahui banyak orang.

Kenanglah, Kanjeng Nabi Muhammad, tidakkah dia mengikuti pendahulunya? Jika kau berkata, siapa pendahulu Kanjeng Nabi Muhammad? Maka sungguh, engkau telah mengetahui jawabannya, bahwa pendahulu Kanjeng Nabi Muhammad adalah seperti rasul-rasul sebelumnya, layaknya Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Zakaria, Nabi Isa dan yang lainnya.

Akhirnya, janganlah engkau bermalas-malasan dalam ilmu; ingat, malas bukan berarti sekedar engkau diam, tapi bicara yang sia-sia, pertemuan yang sia-sia, pengembaraan yang sia-sia, ‘pengangguran’ rasio, pengangguran ‘mata’, pengangguran ‘telinga’, ‘hati’ dan seluruh dirimu adalah tanda dari kemasalan.

Berjuanglah, Taufik...

Belum ada Komentar untuk "BERMALAS-MALASAN DALAM ILMU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel