Nasihat Sibukanlah Akalmu (Pola Pikir Islam)







Apa yang diharapkan tatkala bertauhid yang satu, yakni Allah: hukum universal, Taufik, cinta kepada seluruh mahluk-Nya, kepada seluruh mahluk yang ada—yang dengan itu, maka tetapkanlah dalam pemikiranmu cinta kepada hukum universal, namun realitasmu adalah dengan menjalin interaksi lewat agama, lewat kefikihan—fikih seperti apa? Sungguh engkau telah mengetahui, fikih seperti apa yang layak engkau terapkan—untuk mengubah menjadi ‘seperti’ Negara Ide-Islam, itu memang cita-cita, namun tanamkanlah dalam dirimu bahwa yang menjadi itu bukan tentang ‘negara’nya yang islam, namun pola pikir mereka yang islam.

Pola pikir manusia yang islam; andaikata seluruh manusia menjadi pola-pikir islam, tentu mereka bakal mengharapkan kepada guru-guru, mereka bakal mencari sesuatu yang berkaitan dengan ilmu; dan mereka bakal sibuk untuk mencari perlindungan dari sengatan realitas dan tawaran realitas: zaman boleh saja berkembang, melesat, melejit, meroket, dan mengglobal, namun hati tetap saja melingkupi ruang-lingkungannya: apa itu ruang lingkungan? Dimana keluargamu tinggal. Dimana kerabat-kerabatmu tinggal. Jika kerabatmu berada di sana, dan kau tinggal di sini; sesungguhnya, engkau hidup dalam pengembaraan dan mencari saudara-saudara baru untuk dijadikan saudara-saudara, namun ikatan atau jalinan ‘spiritual’ atau transenden kemanusiaan kurang menyetrum.

Itulah mengapa agama islam, dimasa nabi itu, menjadi seperti itu, karena mereka ada ikatan kekeluargaan, ada penyetruman-jalur-kehatian di sana; dan engkau mengetahui bahwa nabi Muhammad itu cerdas, telah mengetahui rahasia-rahasia dunia, namun, beliau memilih menyebarkan lewat jalur kecil, Fik, lewat lingkungan yang kecil, yakni desa mekah. Yakni sekedar mekah. Namun sebelum mekah, maka yang paling diutamakan adalah ‘kepribadian’ Kanjeng Nabi dulu: kepribadian kanjeng nabi itu harus meredeka, dan kokoh terhadap keimanan, dan engkau mengetahui bagaimana tempaan (ingat, keimanan itu juga ditempa, Taufik. Tidak sekaligus) yang mempengaruhi kekohoan iman kanjeng nabi.

Yakni, lingkungan orang-orang yang memang ‘kuat’ atau ‘kokoh’ terhadap keyakinan: bukankah selama 13 tahun kanjang nabi menyebarkan keimanan? Yang berarti, selama itu keimanan mereka sebelumnya, memang sangat kuat dan berakar yang kokoh. Itulah yang penting menjadi ‘ukuran’ atau cermin dirimu, Taufik. Ringkas kata, engkau ‘penting’ sekali lagi, mencermati lintasan pemikiran dan peneguhan terhadap keimananmu, Taufik.

Kau harus tanamkan:

Apa sesungguhnya tujuan para rasul di bumi?

Mengapa rasul turun ke bumi?

Mengapa rasul menyebarkan ketauhitan?

Apa sebabnya rasul menyampaikan ketauhidan?

Apa efek rasul menyebarkan ketahuidan?

Apa itu yang satu?

Mengapa harus menyandarkan kepada yang satu?

Engkau harus menanamkan hal tersebut dalam cangkang pemikiranmu, dan ingatlah, semakin engkau menguatkan tentang hal tersebut, maka engkau bakal membutuhkan tentnag bagaimana keislaman: ingatlah rukun islam, tunaikanlah. Dan tetaplah engkau berjamaah, jagalah jamaah; dan gunakanlah pedang filsafatmu. Gunakanlah akalmu. Gunakanlah akalmu. Dan tetaplah engkau menyandarkan kepada gurumu. Tetaplah engkau membutuhkan gurumu; sungguh, belum saatnya engkau ‘mengumbar’ tentang maksud-sungguhmu, karena engkau kurang alat untuk ‘menujukan’ maksud sungguhmu;

Maka kencangkanlah belajar, jangan lalaikan duniamu. Jangan lalaikan eksistensimu, jangan lalaikan tanggung jawabmu. Dan tetaplah engkau, mengingat: bahwa Allah adalah kekal. Al-quran itu masih berlaku.

Jika engkau merasa terberatkan dengan apa-apa yang saya tawarkan; ringankanlah pemikiranmu. Ikutilah alur-alur yang terjadi: sungguh, pada akhirnya, hidup adalah menerima tentang alur yang dialurkan Taufik.


Belum ada Komentar untuk " Nasihat Sibukanlah Akalmu (Pola Pikir Islam) "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel