Gaya Shalat (gaya saat aku menjalankan doa)




Sekali pun saya mondok bertahun-tahun, gaya solatku cenderung mengikuti kiai kampong, artinya ilmu yang diajarkan di kampungku. Lebih-lebih tatkala saya di pondok pesantren, tidak ada persoalan terhadap gaya persolatanku. Tidak ada pertentangan dan perbedaan dari gerakan shalatku. Entah itu tentang gerakan, atau tentang pembacaan: sekaan tidak ada sesuatu yang ‘penting’ untuk dibicarakan lebih.

Itu mungkin terjadi, ketepatan saya di pondok pesantrean dan gaya-pemikiranku tidak sibuk memikirkan tentang gerakan atau pembacaan. Seakan semua itu sama, jika pun ada perbedaan, itu perbedaan kecil dan lebih uniknya, kami—perkumpulanku itu—seakan tidak membicarakan tentang perbedaan kecil itu. Perbedaan kecil itu, wajar.

Dan ketika saya mulai tidak di pondok pesantren, artinya mulai mengenal dunia luar. Di sana, mulai menampakan sesuatu yang berbeda, dan lebih-lebih keadaan seakan mulai membicarakan tentang perbedaan-perbedaan kecil itu. Mulai ramai isu-isu tentang perbedaan kecil itu, dan itu dibesar-besarkan. Seakan-akan itu adalah sesuatu yang penting. Penting sekali pada kasus keagamaan.

Bersamaan dengan itu, pemikiranku tidak goyah, hanya saja mulai terisihkan—anehnya saya merasa risih dengan perbedaan itu—karena seringkali gaya shalatku seakan-akan dipertanya; dan mendadak orang-orang laksana menjadi ahli-ahli fikih.

Manusia menjadi ahli-ahli fikih, mulai gencar membicarakan tentang halal dan haram. Uniknya lagi, lidahnya gampang mengutarakan itu. Lidahnya berani bertanya dan gayanya ‘memberitahu’—memberitahu yang khas memaksa seakan itulah kebenaran totalnya—seakan di dalam cangkang kepalanya benar-benar ngelotok kencang tentang perfikihan. Seakan dirinya, benar-benar hebat tentang keagamaan.

Saya sendiri yang mondok, yang hidup bertahun-tahun di pondok, untuk mengungkapkan hal itu sangat penuh pertimbangan. Alasannya, tentu karena pengetahuanku yang kurang memadai untuk menjadi hakim.

Saya berpikir, setiap apa yang kita keluarkan tentang agama adalah penyataan tentang keagamaan. Setiap apa yang kita ungkapkan adalah keputusan tentang agama.

Selain itu, telah banyak orang yang pandai dan sibuk, upyek tentang agama. Biarlah mereka yang berkata-kata perihal keagamaannya. Orang yang kurang pandai tinggal melaksanakan.

Namun payahnya di zaman kontemporer, pengetahuan telah terbuka, ceramah dimana-mana, dan disana seringkali terjadi perbedaan-perbedaan yang mencolok dan itu seringkali memicu tentang proses keagamaan. Uniknya lagi, yang seringkali di bicarakan tentang hal-hal kefikihan. Itulah yang membuat saya risih. Yang dibicarakan perihal kefikihan. Hal-hal cabang dari keislaman dan itu laksana penting dan urgen lagi: setiap orang laksana geger menjadi ahli fikih.

Dan akhirnya, saya juga menjadi tempat untuk bertanya. Alasannya, karena saya juga lulusan pondok pesantren. Seringkali ketika saya ditanya, jawabku:

“Kalau kau merasa risih dengan apa yang orang lakukan. Tutup saja bola matamu. Bukankah yang menjadi soal adalah tentang perbedaan tersebut? Sudah, ikuti saja gurumu berkata apa.”

Selanjutnya, saya selalu mereferensikan kiai kampong. Kiai kampungmu itulah yang menjadi pacuan untuk keperibadahan. Kalau kamu ragu dengan apa yang kamu kerjakan, tanyakan pada kiai kampungmu. Artinya, kau harus menganggap kiai kampong menjadi laksana kanjeng nabi; dan kau harus meyakini bahwa keputusan yang diberikan, itulah yang terbaik. Setelah itu, sudahlah jangan geger-gegerkan tentang hal kecil itu. Kenaliah, keagamaan itu bukan perkara kecil-kecil saja (bukan saja perkara syariah) melainkan ada kehidupan yang realistis dan fakta. Sesungguhnya, perebdaan itu mutlak, maka akuilah perbedaan itu. Begitu ya.

Dan saya, melakukan gaya shalat, masih seperti dulu. Referensi utamanya: pengetahuan yang di ajarkan kiai kampong. Toh faktanya, tatkala saya mondok, juga tidak begitu upyek terhadap kepersolatan. Tidak begitu geger tentang perbedaan. Karena ketika mondok, saya selalu menemui kesamaan. Begitu.

2017


Belum ada Komentar untuk " Gaya Shalat (gaya saat aku menjalankan doa) "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel