BAGAIMANA KAU BERKENALAN DENGAN FILSAFAT







Jika ditanyakan, bagaimana saya berkenalan dengan filsafat?

Jawabku, saya berusaha memahami arah pertanyaanmu itu: tentu saja kau akan telah mempunyai referensi, bahwa filsafat seperti ini dan seperti itu. Filsafat adalah ilmu tentang kebijaksanaan. Ilmu tentang kebenaran. Upaya untuk mencari kebenaran. Upaya untuk menjadi bijaksana. Dan di sana, harus berkaitan dengan pemikiran demi pemikiran; di sana harus berseratkan tentang pemikiran orang-orang hebat di dunia. Di sana, bakal menjumpai pemikiran demi pemikiran yang menggerakan dunia.

Filsafat ialah tentang sesuatu yang sarat dengan sejarah total. Sejarah kemanusiaan, penting membaca banyak hal. Penting melerai banyak hal. Memikirkan banyak hal. Dan teks-teksnya tidak mudah dipahami.

Jika arah pertanyaanmu seperti itu, maka bagiku, itu semua laksana tidak ada dalam pemikiranku. Tidak ada pada mindset pemikiranku. Sebab saya tidak seribet seperti itu.

Perkenalan awalku begini—ini sebenarnya pembicaraan sebelum terjadi perkenalan--:

Saya menyukai kebebasan dan menyukai banyak hal. Itulah awalnya. Saya mudah mengikuti ini dan itu, dan saya tidak mau terikat oleh ini dan itu; ringkasnya, saya menyukai kebebasan. Sekali pun saya menyukai kebebasan, saya tetap berlindung atas nama islam. Faktanya, saya berusaha berada di lingkungan islam. Karena saya menyukai akhlak islam. Yang menyukai tawaran islam; yakni moral keislaman.

Ringkasnya, karena saya menyukai kebebasan, tentang saya berkenalan dengan banyak hal. Dengan banyak hal itu, lalu terakumulasikan oleh diriku dan itu menggumpal pada pemikiranku. Yakni perwujudan untuk mengikatkan kebebasan, maka tibalah saya pada ranah kesenian. Selain itu, karena saya juga menyukai tentang seni.

Saat kita membicaran seni, maka kita membicarakan diri.

Saat kita mengekresikan diri, maka kita akan melihat diri yang lain.

Di saat itulah saya dipertemukan dengan orang yang menyukai filsafat, ringkasnya, saya sekamar dengan orang yang menyukai filsafat. Atau orang yang suka membaca tentang teks-teks filsafat. Dialah Junaidi Abdul Munif, teman sekamar, yang seakan memperkenalkan istilah filsafat untukku—sekali pun di dalam kelas telah ada mata-kuliah filsafat—namun bersamanya, seakan saya dikenalkan untuk sesuatu yang disebut filsafat, alasannya, karena setiap hari saya bersamanya, setiap hari saya bersama dirinya; tentu perkenalan ini tidak seperti deskripi begini:

Karena ada dia, maka saya dikenalkan filsafat.

Bukan seperti itu tepatnya, karena saya juga sebelumnya telah menyukai sesuatu yang itu berkaitan dengan pemikiran. Namun kalau dikatakan perkenalan, maka dialah orang yang mengenalkan atas teks-teks filsafat.

Karena saya sering bersamanya, maka saya mengikuti gerak-geriknya. Tujuannya memang tentang dirinya. Tentang penguatan dirinya pada ranah filsafat; karena sebelum itu, dia juga tidak ‘demen-demen’ juga dengan filsafat. Dia tidak giat-giat sangat pada ranah filsafat.

Dia memang penulis; arah tulisannya tentang pendidikan, dan upaya untuk mengeluarkan pendapat dirinya. Wajar saja, karena dia juga orang yang belajar di jurusan pendidikan agama islam. Tentu, mau tidak mau berkaitan dengan pendidikan. Sayangnya, tawarannya tidak selalu berkaitan dengan keislaman, pemikirannya malah mengajak untuk ‘alih-alih’ tidak membicarakan keislaman, namun berada di lingkungan islam. Yang mungkin, berkaitan dengan keislaman.

Perjalanan waktu, saya dekat dengannya. Bersamaan dengan itu, saya diajak untuk belajar membaca. Itulah dasarnya, mengapa aku berkenalan dengan filsafat. Sekali lagi saya dikenalkan untuk belajar membaca— bahkan puisi Sutarji Colezeum Bahri pun menjadi soundtreknya: Belajar Membaca—karena dia suka membaca, maka saya turut serta untuk mencari bahan bacaan. Karena kami sering bersama—sekali pun tidak begitu sangat bersama—tepatnya kami sekamar, tentu ada pertukaran pendapatan dan saling menyaling diantara keduanya. Maka saya sering membaca tentang apa yang dia baca, lebih-lebih dia itu orangnya bebas terhadap buku. Buku seringkali bertebaran di lantai—itu pun terjadi, karena kami belanja buku bersama; karena pameran. Awalnya saya diajak untuk menemani, lalu saya ikut-ikutan membeli—dengan itu saya turut membaca, lebih-lebih saya mempunyai luang waktu untuk membaca, saya mempunyai waktu luang untuk berpikir, saya mempunyai waktu luang untuk merenung.

Jadi, bagaimana saya berkenalan dengan filsafat?

Jawabku, saya berkenalan dengan filsafat, karena saya membaca teks-teks filsafat. Yang mana saya sekamar dengan orang yang menyukai filsafat. Itulah awalnya. Teman itu mempengaruhi? Benar. Sejarah menyatakan itu: kitab keislaman, taklimu taklim juga menyatakan begitu. Bahkan, karena saya bersamanya, saya juga tertarik dengan pengarangnya Sukab. Alasannya, karena teman. Ah apa itu teman? Yakni manusia yang ada di sekitar kita, yang tentu di sana ada interaksi diantara keduanya; saling belajar di antara keduanya.

2017

Belum ada Komentar untuk " BAGAIMANA KAU BERKENALAN DENGAN FILSAFAT "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel