Membaca Zaman



Zaman sekarang, era filsafat, sering disebutkan sebagai zaman logosentris, yakni kajian utama tentang kemanusiaan berkaitan erat pada logo atau tanda atau bacaan, atau teks, atau hal-hal yang menampak. Sebagaimana yang dikatakan oleh KBBI logo adalah huruf atau lambang yg mengandung makna, terdiri atas satu kata atau lebih sebagai lambang atau nama perusahaan dsb. Itulah ukuran pada kehidupan di zaman seperti sekarang ini;

Tentang ketuhanan atua diskusi tentang aturan kepertuhanan, bagi di zaman seperti ini; nantinya, akan kembali kepada logo; kepada lambang-lambang yang semakin diunggulkan dan lalu dibicarakan. Bukankah di zaman seperti sekarang ini, bertebaran tentang keperlogoan; hal-hal atas nama. tentang kenamaan; atau atas nama, populer, ramai, yang itu berdesas-desus pada nama atau huruf atau rangkaian kata-kata yang dipopulerkan.

Bahkan tentang keimanan, tentang tokoh yang diunggulkan keimanannya, menjadi sebuah ‘logo’ yang sangat diunggulkan, dan lalai dengan esensi atau subtansi dari apa yang hendak ditujukan oleh kehidupan.

Kehidupan menjadi kehidupan yang menampakan diri, tentang gejala-gejala yang terjadi; itulah zaman seperti sekarang ini; pergegeran tentang perbajuan, tentang wujud-wujud, tentang sesuatu yang layak diperbanggakan, dan itu menyebar ke seluruh dunia; karena ini kajian kelas dunia, yakni dunia menjadi sarat perlogoan.

Sebelum itu, gelombang dunia diawali dengan kesibukan pada alam-semesta, hal itu dikaji pada masa kuno, sebutlah yunani kuno, yang kajiannya dititik fokuskan pada Kosmosentris. Dan itu berkembang agak lama, sampai tibalah masanya, keberadaan Agama Nasrani, merubah keadaan menjadi Teosentris. Dan pembicaan tentang keberadaan agama nasrani, ini bukan tentang perkara awal atau asal-usulnya agama nasrani, melainkan tatkala agama nasrani telah menguat di dataran eropa; maka itulah yang merobak filsafat, lebih terkhususkan pada teosentris; yakni tentang ketuhanan, dan para sejawarawan filsafat menyebutkan masa itu pada masa Abad Pertengahan.; filsafat padam pada waktu itu. Agama menguasai. Akal kalah telak, Iman menang. Itulah masa pada abad pertengahan. Maksud abad pertengahan tentu, pada masa 500 Masehi, itulah ukuran abad pertengahan. 

Dari kosmosentris ke teosentris; maka manusia laksana ‘terpenjara’ oleh hukum keagamaan—kenanglah sejarah, bahwasanya waktu itu, nasrani menjadi agama utama pada era keromawian; penyebaran agama nasrani menjadi dan sampai sekarang masih banyak— yang kemudian, perjalanan waktu, akal mulai perlahan-lahan bangkit kembali. Sampai tibalah, menjadi masa antroposentris, yakni manusia sebagai obejec utamanya. Manusia menjadi garapan utamanya. Hal ini sering dinamakan, filsafat modern. Yang ternyata, setelah terjadi itu, manusia terlalu manusiawi, terlalu meninggikan tentang rasionya, dan protes para filsuf pun terjadi; yang harusnya seimbang antara iman dan akal; malah yang terjadi, di zaman modern, akal diunggulkan dan bahkan terlalu diunggulkan. Maka terjadilah wujud-wujud ilmu pengetahuan dimana-mana; mulailah melejit tentang teknologi. Mulailah melejit tentang wujud-wujud ilmu; jadilah dunia gegap gempita dengan keberadaan mesin demi mesin. Yang akhirnya menjadi seperti ini, maksudnya menjadi logosentris. 

Begitulah secara pemikiran yang terjadi; begitulah yang deras terjadi, dan itu pun masih penampakan, karena tidak semuanya menjalankan apa-apa yang telah saya paparkan. Tentu, didalamnya ada gejolak ada perlawanan; namun cenderung kemenangan pada apa-apa yang saya sebutkan.

Selanjutnya, pembacaan zaman pun bisa dibaca melalui sosiologi atau mata rantai sejarha kemanusiaan; yakni keberadaan revolusi manusia. Maksudnya, revolusi yang terjadi bagi manusia; yakni, pertama, revolusi pertanian. Di saat itulah orang-orang mulai sibuk dengan pertanian. Hidupnya telah menetap. Hidupnya telah ramai dengan ‘si aku’ aku yang lain. Hingga akhirnya tercetuslah, Revolusi Industri. Yang tujuannya, untuk mempermudahkan pertanian tersebut. dan yang ketiga adalah revolusi pengetahuan; maksudnya, revolusi tentang teknologi dan sains. 

Dunia semakin membaur dan menjadi satu, yakni dunia. Dunia menjadi cangkupan yang kecil dan padat, dan itu berada pada jangkauan internet (internet; adalah bias dari revolusi pengetahuan). Inilah masa dimana kita berada. Telah menjalin satu dengan yang lain, telah dikabarkan oleh kabar-kabar yang lain, telah dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh yang lain. Itulah zaman dimana kita berada; kehidupan menjelma kering spiritual dan lebih kepada penampakan-penampakan atau hasrat-hasrat ingin-ingin yang banyak, bahkan kalau bisa, ingin menjadi tuhan, mungkin. Maksudnya, bisa ini-itu, ini-itu, mengatur, menghukum, dan yang lain-lain. 

Itulah zaman sekarang; keadaan-keadaan zaman sekarang, yang masalah utamanya, tidak jelas tentang masalah utama, karena terlalu pembauran untuk semuanya. Jika pun jelas, maka itu adalah komunitas. Itu adalah geng. Itu adalah kelompok-kelompok. Itulah zaman sekarang, yang sebenarnya, bersamaan dengan itu; zaman ini lebih meneguhkan kepada keselamatan individu atau kepentingan individu, yang itu harus bergaul dengan manusia-manusia yang lain, dengan cara memupuk ulang tentang spiritual. Atau pentingnya ‘kesadaran’ ulang tentang kemanusiaan yang itu menyandarkan kepada Tuhan. Dan agaknya, Indonesia telah ‘memasang’ itu, hanya saja, menurut saya, belum ‘teraktifkan’ apa yang telah dipunyai oleh bangsa Indonesia. Ah kok jauh-jauh tentang Indonesia, bagaimana dengan dirimu, Fik? Jawabku, ya, aku menyadari bahwasanya aku telah terpasangkan tentang keimanan hanya saja kurang teraktifkan karena masih ada masalah tentang ‘keperakalan’; sebab, hidup itu bukan hanya tentang iman, melainkan juga aman. Hidup bukan saja tentang keimanan melainkan tentang keberadaan. Itulah jawabanku; sayangnya, diriku kurang ‘teraktifkan’. 

Demikian.



2017

Belum ada Komentar untuk " Membaca Zaman"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel