Apa Makna Eksistensi Mulim di Zaman Informasi?


Eksistensi muslim adalah wujud keberadaan muslim. Penampakan kemusliman. Penampakan keislaman muslim di zaman informasi. Mari kita urai apa-apa yang menjadi eksistensi dari muslim:

Menghadiri pengajian bapak-bapak

Menghadiri pengajian ibu-ibu

Menghadiri pengajian akbar

Itu adalah kegiatan (Sesuatu yang dilakukan secara giat) yang sering dilangsungkan, yang menurut saya mulai terpudarkan di zaman informasi, karena tujuan pengajian adalah mendapatkan ‘pengetahuan’ sekaligus medapatkan siraman ‘rohani’ plus motivasi hidu. Bukankah isi dari pengajian, penceramah, adalah tentang hal itu:

Sekali pun ada proses-proses untuk mendapatkan itu, yakni rutinitas membaca al-quran, rutinitas teks-teks keagamaan yang dibaca bersama, atau malah mendendangkan pujian, shalawatan bersama.

Terlepas dari itu, saya mau menjawab tentang eksitensi muslim di zaman informasi:

Eksistensi muslim adalah kepastian dari system-pengetahuan islam, yang menekankan untuk mewujudkan manusia untuk bereksistensi, bermula dari hal-hal sederhana yang mewajibkan harus bekesistensi.

Melaksanakan wudhu

(wudhu harus dilakukan secara langsung, tidak boleh diwakilkan.)

Melaksana shalat

(shalat harus dilakuakn secara langsung, tidak boleh diwakilkan.)

Itulah sebab-musabab, manusia harus senantiasa eksis, itulah kunci hebatnya ajaran islam, untuk senantiasa memanusiakan manusia. Menjadikan manusia selayaknya manusia. Yakni, bereksistensi. Melakukan sesuatu secara langsung—sekali pun kini zaman mesin mulai merebak, namun keduanya adalah aktifitas yang harus dikerjakan secara langsung. Alasannya:

Karena sebelum wudhu harus mempunyai pengetahuan wudhu

Karena shalat harus dilakukan sambil menggerakan organ tubuh

Karena shalat harus menggunakan teks-arab, walhasil manusia harus belajar teks arab.

Mau tidak mau, manusia-muslim, akan berinterasksi dengan manusia lain, yakni belajar, jika pun tidak belajar kepada manusia, bisa jadi, manusia-muslim akan kepayahan untuk menjalankan kemuslimannya, sebab zaman informasi menyediakan teks-teks shalat yang beragam.

Menyediakan bermacam-macam dalil yang beragam. Yang kelak, kalau belajar sendiri, maka saat shalat jamaah dan menemui perbedaan demi perbedaan, bisa jadi akan merasa heran, lalu di dalam benak pikirannya bakal bertanya-tanya:

Mengapa bacaan teks shalat berbeda!

Mana yang benar, dan mana yang paling benar.

Tatkala kalimat itu dikonfirmasi kepada orang yagn berbeda, akhirnya, si belajar sendiri itu, mulai masuk ke pembelajaran islam, bisa jadi, mereka lebih terfokus kepada al-quran. Lalu terfokus untuk memahami al-quran. Lalu berusaha memahami islam secara lebih.

Begitulah islam. system yang kuat lagi kokoh telah terbangun. Sangat otomatis. Namun, kalau belajar secara acak, atau lewat zaman informasi, bisa-bisa, merasa terjebak dalam ‘epistemology’ islam, lalu cangkang-pemikirannya seakan menerima ‘islam’ dengan berat.

Oleh karenanya membutuhkan guru secara realitas. Guru yang dekat. Guru yang sesuai dengan kondisi keadaan jiwa dan raganya. Wal-hasil, orang tetap mempercayai kiai setempat. Dari itu, maka masih terjalin eksistensi muslim sampai sekarang.

Terlebih lagi, muslim pun diikat dengan tradisi keharusan menjalankan berjamaah. Jika hari-hari biasa, bandel menjalankan shalat jamaah, di masjid-masjid, maka muslim di haruskan untuk shalat jumaat bersama.

Shalat jumat adalah wujud eksistensi paling kongkrit pertemuan muslim.

Atau melaksanakan shalat idul fitri, lalu disana ada yang menceramahi: entah mengapa, hatinya tersentuh, wal-hasil dia tobat. Lalu selanjutnya lebih sibuk kepada jalan agama islam.

Dan masih ada lagi, yakni eksistensi dari tempat-tempat ibadah, ini adalah eksistensi yang tidak kalah hebatnya. Yang kemudian, mengumandangkan seruan-seruan tentang keagamaan. Seruan itu, entah sekarang atau kapan, kalau Allah menghendaki mahluk-Nya mendengar seruannya, maka orang-orang akan datang untuk bertaubat. Sekali pun, missal, sebelumnya adalah orang yang buruk dalam keagamaan.

Terakhir, eksistensi muslim di zaman informasi, lesatan informasi, malah menambahkan informasi tentang kemusliman, sekali pun banyak kendala, itu wajar. Sekali pun banyak masalah, itu wajar. Yang pasti, muslim tidak akan surup, sekali pun bertabur informasi yang mudah diakses, di akses lewat jaringan. Diakses lewat internet.


Selamat bereksistensi, kaum muslim.

Belum ada Komentar untuk "Apa Makna Eksistensi Mulim di Zaman Informasi?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel