Nasihat: Ikatlah Hatimu Dengan Gurumu



Ikatlah Hatimu Dengan Gurumu

Taufik, tetap ikatlah dirimu dengan guru nyatamu. Dialah yang mengajarimu lebih tentang kenyataanmu. Aku adalah dunia idemu. Dialah pelaksana atas dirimu. Ide itu tidak ada artinya kalau sekedar ide, dan dunia-ide itu tidak akan sempurna kalau tidak ditompang dengan kenyataan. Hatimu akan senantiasa kacau kalau kau tidak mampu menerima kenyataan. Terlebih lagi, kau mulai memutuskan relasi dengan gurumu.

Kembalilah padanya. Nikmatilah kembali, bagaimana transfer hati yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jika dulu, hatimu memanas karena ketidak-sesuaian dengan realitas. Saat mengaji tubuhmu panas, layaknya sakit mendadak, sampai-sampai engkau kehausan: kerongkonganmu layaknya tersumbat dan kau membutuhkan air untuk melepaskan dahaga. Jawabnya, karena kau melihat tidak kesuasai realitas dengan teori.

Namun kenaliah, saat dulu kau mengaji, masih pada tahap, penggunggulan akal, peninggian nalar. Sekarang kembalilah kepadanya. Berjumpalah dengannya: nikmatilah sesuatu dari dalam hatimu. Nikmatilah perjumpaan, jangan kau protes tentang keduniaan.

Aku mendengar engkau senantiasa protes terhadap lembaga-pendidikan formal. Lembaga pendidikan dibawah pemerintah. Engkau protes yang dahsyat. Yang sesungguhnya, engkau protes terhadap dirimu. Sekali pun aku tahu, sasaranmu adalah mempertanyakan kepada orang-orang yang berada pada lembaga pendidikan. Engkau protes tentang orang-orang yang bodoh tapi mendapatkan nilai yang bagus. engkau protes tentang orang-orang yang mendapatkan nilai bagus, tapi pada kenyataannya, mereka tidak sesuai dengan pengetahuannya.

Kau tahu, Taufik, apa yang menyelip dalam pikiranmu, tentang hal tersebut: itu adalah memikirkan tentang keduniaan. Padahal sejauh ini, orientasimu adalah hati. Itulah yang menjadi perkara, mengapa tubuhmu sering panas dan terkesan seperti sakit.

Itulah alasannya: tidak kesesuaian antara akal dan hati. Hatimu diam, tapi akalmu menjerit, bahkan berteriak lantang. Itulah yang menjadi penyebab tubuhmu panas dan dingin. Hatimu tenang, tapi nalarmu bergejolak. Itulah yang menjadi penyebab tubuhmu panas dan dingin.

Sekarang, kembalilah ke hal-hal dasar, Taufik. Jalinlah sekali lagi kepada gurumu. Jika airmata terpaksa harus keluar, karena mengasihi tubuhmu. Linangkanlah air matamu. Biarkan mereka melihat betapa tubuhmu didera pilu oleh sesuatu yang namanya ‘keduniaan’.

Bukankah sejauh ini, itu yang kau harapkan? Yang kau ingin utarakan kepada gurumu! Tentang realitasmu yang payah, realitasmu yang terluka. Tapi ternyata hatimu adem, ayem, tenang, santai. 
Katamu, “Apakah mereka percaya dengan ceritaku? Tentang yang aku rasakan!”

Kenalilah, yang kau utarakan kepadanya tentang rasa, manalah mungkin mereka menolaknya. Manalah mungkin mereka bisa menghelaknya. Mereka mengetahui tentang rasamu. Mereka mengetahui tentang rasa-rasa dalam dirimu.

Apakah kau ingat bagaimana kau dipertemukan? Bukankah sejauh ini, tatkala kau mencari, kau selalu tidak menemukan yang cocok denganmu? Jujurlah, dengan pertanyaan ini:

“Apakah kau dipertemukan! Atau kau menemukannya?”

Jawabnya, tentu kau dipertemukan.

Ini jalan yang tidak semudah yang kau pikirkan. Jalan yang tidak mudah kau terkakan. Jalan yang sunyi. Tersembunyi. Namun efeknya:

Kau kini telah melihat terang jalan-ini, kumpulan orang-orang ini, begitu mudah dan tenang, menyikapi keduniaan. Begitu ringan menghadapi dunia. Tak ada yang dipersulitkan. Tak ada yang dipayahkan.

Namun, kau baru terbuka. Engkau baru menyadari tentang tali yang terang dihadapanmu. Ikatkanlah tubuhmu dengan tali itu. Dengan jalan itu, kelak, perlahan-lahan engkau akan menemukan sesuatu yang sesungguhnya engkau incar pada jalan ini.

Selanjutnya, lihatlah mentari pagi, lihatlah manusia menjalani hari. Begitulah kenyataannya, Taufik. Manusia membutuhkan nyata yang sesungguhnya. Itulah yang aku maksud dengan mengikatkan tali kepada gurumu. Supaya kau punya sibuk, melangkahkan kaki menuju gurumu. Guru nyatamu.
Aku adalah aliran idemu, yang tak sempurna kalau kau tak mendekatkan diri kepada selainku.

Selamat melaksanakan…

Belum ada Komentar untuk "Nasihat: Ikatlah Hatimu Dengan Gurumu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel